Topic
Home / Berita / Rilis Pers / KAMMI: Presiden Harus Menjadi Leader Berdaulat, Bukan Dealer Asing dan Aseng

KAMMI: Presiden Harus Menjadi Leader Berdaulat, Bukan Dealer Asing dan Aseng

ilustrasi (aktual.com)
ilustrasi (aktual.com)

dakwatuna.com – Jakarta. Sumpah Pemuda pada 28 Oktober 1928 adalah wujud dari sejarah perubahan yang dipelopori pemuda Indonesia. Sumpah ini merupakan kehendak bersama pemuda lintas etnis dan ideologi yang mendambakan sebuah persatuan tanah air, bangsa, dan bahasa. Keinginan bersama itu telah melampaui kepentingan-kepentingan golongan sebagai bekal memasuki fase Indonesia yang berdaulat.

Hari ini, KAMMI melihat politik kedaulatan telah hilang dari Indonesia. Program besar Nawa Cita yang bernafaskan Trisakti berubah menjadi Nawa Citra, proyek pencitraan saat pemilu tahun lalu. Politik yang berdaulat hanya omong kosong ketika pemerintah terlihat gagap mengelola konflik antar menteri. Pemerintah juga tersandera kepentingan partai-partai politik. Tak kalah gawat lagi adalah terciumnya aroma kepentingan asing dan aseng dalam berbagai keputusan strategis pemerintah. Semua catatan itu menunjukkan adanya ketidakberdayaan pemerintah dalam menghadapi berbagai tantangan, baik di dalam maupun di luar pemerintahan.

Ekonomi yang berdiri di atas kaki sendiri (berdikari) malah beralih menjadi ekonomi yang berdiri di atas kaki asing (berdikasing). Proyek-proyek infrastruktur dan sumber daya alam menjadi permainan asing. Bahkan yang tak kalahh menyedihkan ialah adalah para tukang yang bekerja juga didatangkan dari kalangan aseng. Penetrasi ekonomi asing dan aseng sudah memasuki seluruh sektor ekonomi nasional, bahkan sampai tingkat bawah. Hal ini berisiko melahirkan konflik horizontal dengan warga apabila pemerintah tidak segara membuat perubahan kebijakan.

Selain itu, rencana pemerintah yang dipimpin Presiden Joko Widodo (Jokowi) untuk bergabung dengan Trans-Pasific Partnership (TPP) juga menjadi keprihatinan tersendiri. Dengan demikian, rakyat Indonesia dengan sengaja dibuat berhadap-hadapan dengan raksasa ekonomi dunia tanpa kehadiran negara di dalamnya. Rakyat Indonesia akan menjadi segerombolan domba yang digiring ke kawasan killing field serigala-serigala ekonomi tanpa penjaga.


Selanjutnya ….

Redaktur: Saiful Bahri

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...

Tentang

Saiful Bahri
Lahir dan besar di Jakarta, Ayah dari 5 orang Anak yang hobi Membaca dan Olah Raga. Setelah berpetualang di dunia kerja, panggilan jiwa membawanya menekuni dunia membaca dan menulis.

Lihat Juga

Azyumardi Azra Dukung KAMMI Masuk Kampus Guna Melawan Radikalisme

Figure
Organization