Home / Berita / Opini / Negara Kita Negeri Sampah?

Negara Kita Negeri Sampah?

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.

 

Gundukan sampah berjejer di tepian Taman Kota Waduk Pluit, di Penjaringan, Jakarta Utara. Senin (13/10/2014) (Kompas)
Gundukan sampah berjejer di tepian Taman Kota Waduk Pluit, di Penjaringan, Jakarta Utara. Senin (13/10/2014) (Kompas)

dakwatuna.com – Di negeri ini sampah mudah ditemui dimana saja. Di sekolah, pasar, jalan, lapangan, warung, atau rumah sakit. Orangnya pun kreatif membuang sampah sembarangan dimana saja seperti di selokan, laci meja, lantai, bawah jendela, pot bunga hingga menyelipkan sampah di jok motor atau sela-sela cabang pohon. Sering pula kita jumpai sampah-sampah yang menumpuk di sudut kota.

Seorang bupati bahkan ikut turun ke sungai untuk membersihkan sungai untuk memunguti sampah. Seorang gubernur turun ke selokan yang tersumbat akibat menumpuknya sampah. Tidak hanya mereka yang berpendidikan rendah, mereka yang berpendidikan tinggi pun berlaku demikian. Seorang Pembantu Rektor di sebuah kampus sampai-sampai masih harus berbicara tentang sampah di hadapan ribuan mahasiswa. Di sekolah dan kampus banyak sampah yang berserakan. Atau guru-guru merokok yang membuang puntung rokok sembarangan misalnya di selokan atau sela-sela pot bunga. Kurang terdidik apa mereka tentang sampah?

Orang miskin yang tinggal di bantaran kali membuang sampah rumah tangganya ke sungai. Sungai adalah tempat sampah yang luas dan murah. Orang kaya pun tidak jauh beda. Lazim kita jumpai ketika sedang berkendara tiba-tiba dari jendela mobil ada orang yang membuang sampah ke jalan. Baik itu tisu bekas, puntung rokok, atau bungkus kue. Begitulah kelakuan orang yang tidak punya malu, tidak punya etika dan sesuka hati. Mobilnya bagus. Tapi tidak dengan perilakunya.

Jumlah penduduk yang besar berbanding lurus dengan produksi sampahnya. Dikutip dari www.medialingkungan.com, Badan Pengelolaan Lingkungan Hidup Daerah (BPLHD) Jakarta, pada tahun 2014 melaporkan tumpukan sampah di Jakarta telah mencapai lebih dari 6.000 ton per hari. 13 persen dari jumlah itu berupa sampah plastik. Sementara itu, www.antara.net.id menuliskan bahwa Kementerian Lingkungan Hidup mencatat sekitar 2,5 liter sampah per hari atau 625 juta liter dari jumlah total penduduk. Angka yang sangat fantastis. Indonesia merupakan peringkat kedua Negara dengan sampah plastic terbanyak, setelah Tiongkok (Antaranews, 2014).

Pendidikan Keluarga

Dari keluarga pendidikan bermula. Dari keluarga pula dibentuk kebiasaan membuang sampah pada tempatnya. Jika sudah dibiasakan di lingkup keluarga, maka di manapun tempatnya seseorang akan terbiasa dimana pun berada. Ajarkan dan biasakan untuk menyimpan sementara sampah seperti bungkus kue atau bungkus permen jika tidak menemukan tempat sampah, kemudian membuangnya dengan segera jika sudah menemukan tempat sampah. Saat berbelanja, gunakan plastik lama atau tolaklah plastik pembungkus untuk barang tertentu.

Landasan agama adalah alasan yang tepat untuk memperlakukan sampah. Tidak membuang sampah sembarangan karena alasan banjir tidak tepat jika diajarkan di daerah dataran tinggi atau jauh dari sungai. Alasan perintah agama merupakan alasan ang tepat. Agama menyukai keindahan. Dan agama pula melarang kita berbuat kerusakan.

Pendidikan di Sekolah

Adanya program adiwiyata turut menciptakan kondisi sekolah yang bersih dan sehat. Diharapkan setiap warga sekolah hendaknya terlibat dalam program ini. Menciptakan kondisi sekolah yang bersih dan sehat bukan hanya untuk mendapat gelar sekolah adiwiyata belaka. Bukan untuk sekedar prestise. Sekolah harusnya tetap bersih dan sehat walau lomba sudah lewat. Secara berkala, sekolah dapat mengadakan program menjaga kebersihan di antaranya Zero Waste, operasi semut, atau Ratumelisa (radius satu meter ambil sampah).

Keteladanan dari manajemen sekolah sangat penting. Ingat dengan ungkapan ‘Guru kencing berdiri, murid kencing berlari’. Maksudnya, siswa akan meniru perilaku guru. Guru harus memberi teladan tentang menjaga kebersihan dan tidak membuang sampah sembarangan. Jadi, keteladanan apa yang didapat oleh siswa dari guru yang membuang puntung rokok sembarangan?

Perda Bebas Sampah

Sebagai tindakan preventif, perlu adanya kebijakan ketat tentang pengelolaan sampah misalnya dengan memberikan denda atau kurungan bagi yang membuang sampah sembarangan. memang sudah banyak kota atau daerah yang memberlakukan kebijakan ini. Seperti Perda Kota Padang menerapkan peraturan daerah (perda) No. 21/2012 yang berlaku pada 1 Januari 2015 yang memberi tindakan berupa pidana 3 bulan penjara atau denda Rp. 5 juta bagi yang membuang sampah sembarangan. atau Jakarta dengan perda No. 3 tahun 2013 tentang larangan membuang sampah sembarangan. Evaluasi dan penerapan kebijakan harus dipastikan berjalan. Jangan hanya sekadar gertak sambal. Spanduk ‘Dilarang membuang sampai sembarangan’ bukan sekadar slogan saja. Memasang CCTV atau mengoptimalkan satpol PP atau polisi bisa menjadi salah satu solusi dari penerapan perda.

Indonesia harus bekerja keras tangani sampah. Jumlah penduduk yang besar adalah tantangan. Perda sudah ditetapkan. Himbauan sudah berulang dilontarkan. Alat peraga sudah banyak terpasang. Berbagai program sudah digulirkan. Namun semua itu tidak efektif jika tidak ada kesadaran individu dari setiap kita untuk menjaga kebersihan. Faktor internal (kesadaran individu) lebih menentukan dan berpengaruh dibanding sebab-sebab eksternal.

Aa Gym pernah menyindir kelakuan pelaku membuang sampah sembarangan. Katanya, “SD 6 tahun, SMP 3 tahun, SMA 3 tahun, kuliah 5 tahun. 17 tahun belajar, tapi masih buang sampah seenaknya, belajar apa saja ya?” Demikian kicauannya melalui akun twitter. Perlakuan kita terhadap sampah cerminan akhlak kita. Akhlak kita terlihat cara memperlakukan sampah baik dengan membuangnya, meletakkan begitu saja, membuang pada tempatnya, membuang ke sungai, membakarnya, atau membawanya ke Tempat Pembuangan Sementara (TPS). (supadilah/dakwatuna)

Redaktur: Samin Barkah

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...
Guru di SMP Islam Terpadu Darul Hikmah Pasaman Barat. Menuntut ilmu di Universitas Andalas, Padang.

Lihat Juga

Meski Kalah, Ternyata 64 Persen Warga Israel Ingin Operasi Militer di Gaza Lanjut