Home / Berita / Nasional / CIIA Bandingkan Sikap Pemerintah Pada Kasus Singkil dan Tolikara

CIIA Bandingkan Sikap Pemerintah Pada Kasus Singkil dan Tolikara

singkil
Direktur The Community Of Ideological Islamic Analyst (CIIA), Harits Abu Ulya. (harianaceh.co.id)

dakwatuna.com – Jakarta.  Direktur The Community Of Ideological Islamic Analyst (CIIA), Harits Abu Ulya, menilai porsi perhatian dan sikap pemerintah sangat terasa tidak adil dan proporsional pada kasus pembakaran gereja di Aceh Singkil.

ia melihat Presiden Jokowi begitu cepat merespon bahkan meminta kepada Kapolri dan Menkopolhukam untuk segera menangani. Bahkan Kapolri menyimpulkan bahwa bentrokan yang terjadi di Aceh Singkil itu direncanakan.

Sikap Pemerintah ini berbanding terbalik ketika dihadapkan kepada kasus pembakaran masjid dan bentrokan di Tolikara, Papua medio Agustus lalu.

“Seolah pemerintah bahkan Pak Presiden gagap untuk menyikapi. Banyak retorika yang esensinya mengaburkan masalah sebenarnya,” urai Harits, Rabu (14/10), sebagaimana dilansir Republika.co.id

Selain itu, CIIA juga menganalisa bahwa beberapa peristiwa terkait insiden terhadap tempat ibadah di Indonesia disinyalir mengindikasikan perbedaan perlakuan terhadap kelompok minoritas dan kelompok mayoritas.

“Sikap kemarahan di Aceh Singkil bisa jadi karena dipicu lambannya Pemda menyelesaikan kasus gereja yang tidak punya legal formal pendiriannya. Atau,karena faktor minoritas yang tidak menghormati dan menghargai religiusitas setempat. Kondisi tersebut terakumulasi hingga menemukan momentum untuk mengekspresikan kemarahan yang terpendam,” ulasnya.

Analisa lain datang dari Ketua Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Nahdatul Ulama, Rumadi Ahmad, yang menyesalkan adanya peristiwa pembakaran dua gereja di Aceh Singkil, Provinsi Aceh, dan menganggap peristiwa tersebut bukanlah kali pertama terjadi, dan merupakan peristiwa yang terus berulang.

“Ini polanya berulang, pasti isunya dikemas keresahan dan izin tempat ibadah,” kata Rumadi di lantai 3 Graha Oikoumene, Jalan Salemba Raya, Jakarta Pusat, Selasa, (13/10/15), dikutip dari viva.co.id

Dia mengaku bingung dengan adanya kasus seperti ini lagi. Pasalnya, beberapa waktu lalu juga sempat terjadi peristiwa serupa, yaitu kasus pembakaran sebuah musala di Tolikara, Papua Barat.

“Empat bulan lalu, kasus serupa di ujung Timur (Tolikara), sekarang di ujung Barat (Aceh). Saya nggak tahu ini kebetulan atau direkayasa. Saya nggak tahu peristiwanya menggunakan momentum hari besar keagamaan,” katanya.

Rumadi menjelaskan, dari dua peristiwa tersebut mulai terlihat bahwa hari besar keagamaan dimanfaatkan untuk peristiwa-peristiwa seperti ini. Dia menilai masyarakat mudah terprovokasi terhadap masalah-masalah seperti ini.   (sbb/dakwatuna)

Redaktur: Saiful Bahri

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...

Tentang

Saiful Bahri
Lahir dan besar di Jakarta, Ayah dari 5 orang Anak yang hobi Membaca dan Olah Raga. Setelah berpetualang di dunia kerja, panggilan jiwa membawanya menekuni dunia membaca dan menulis.

Lihat Juga

Buah Impor

Cina Masih Jadi Sumber Impor Nonmigas Pemerintah