Home / Keluarga / Pendidikan Anak / Anak dan Potensi Kekerasan

Anak dan Potensi Kekerasan

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Kekerasan pada anak (ilustrasi).  (pahamindonesia.org)
Kekerasan pada anak (ilustrasi). (pahamindonesia.org)

dakwatuna.com – Dalam Alquran anak keturunan kita dikelompokan menjadi 4 macam, bagian pertama, anak sebagai musuh orang tuanya, hal ini terjadi apabila anak menjerumuskan orang tuanya untuk melakukan perbuatan-perbuatan yang tidak dibenarkan oleh agama:

“Wahai orang-orang yang beriman! Sesungguhnya di antara istri-istrimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu, maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka, dan jika kamu maafkan dan kamu santuni serta ampuni (mereka), maka sungguh Allah Maha Pengampun Maha Penyayang.)” (QS At-Tagobun ayat 14)

Kelompok Kedua, anak sebagai fitnah atau ujian. Fitnah yang dapat terjadi pada orang tua bilamana anak-anaknya terlibat dalam perbuatan yang negatif (terlibat narkoba, pergaulan bebas, tawuran/kekerasan antar pelajar, penipuan, atau perbuatan lainnya yang membuat susah dan resah orang tuanya) atau anak yang terlahir dengan cacat atau penyakit bawaan yang sangat tergantung kepada orang tuanya

“Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan (bagimu) , dan di sisi Allah pahala yang besar.” (QS At-Tagobun ayat 15)

Ketiga, anak sebagai perhiasan, apabila bahwa orangtua merasa sangat senang dan bangga dengan berbagai prestasi yang diperoleh oleh anak-anaknya, sehingga dia pun akan terbawa baik namanya di depan masyarakat.

Hal ini dijelaskan dalam Alquran:

“Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia tetapi amal kebajikan yang terus-menerus adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan.” (QS Al-Kahfi ayat 46)

Keempat, anak sebagai penyejuk mata (qorrota a’yun) atau penyenang hati, Mereka adalah anak-anak yang apabila disuruh untuk beribadah segera melaksanakannya dengan penuh kesadaran anak yang menghidari kemungkaran dan kemaksiatan, anak-anak yang baik budi pekerti dan akhlaknya, ucapannya santun dan tingkah lakunya sangat sopan, serta memiliki rasa tanggung jawab yang tinggi.

Hal ini dijelaskan dalam Allah dalam Alquran.

Dan orang-orang yang berkata : “Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami pasangan kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami) dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS Al Furqon ayat 74)

Tentunya kita sebagai orang tua kita berusaha membentuk anak-anak agar masuk ke dalam kategori yang keempat sehingga proses pembentukan anak sebagai Qurrota a’yun dimulai saat dalam kandungan, saat anak lahir bahkan jauh sebelum itu yakni saat memilih (calon) istri, dan proses menuju pelaminan yang islami. Proses pembentukan ini terus kita lakukan sampai anak menjadi dewasa dan mandiri.

Namun melihat dunia anak-anak dalam beberapa tahun ini sungguh memiluhkan beberapa perilaku negatif yang muncul khususnya kekerasan baik kekerasan yang menjadikan anak sebagai korban maupun kekerasan yang melibatkan anak sebagai pelakunya.

Berita kekerasan anak yang memilukan dengan tewasnya siswa sekolah dasar di Kebayoran Jakarta akibat (diduga) dianiaya oleh teman sekelasnya. Suatu tindakan yang sangat disayangkan diakukan seorang anak SD yang masih polos tetapi sudah tega melakukan tindakan kekerasan sampai nyawa harus melayang.

Kekerasaan terhadap siswa sekolah bukan hanya kali ini saja beberapa rentetan kasus kekerasan terhadap anak sekolah terus memenuhi berita massa di Indonesia, baik kekerasan verbal, seksual bahkan kekerasan fisik yang berujung kematian seperti yang terjadi di Jakarta ini.

Kita harus berpikir ada apa dengan pendidikan kita selama ini, mengapa anak sekolah berubah menjadi seorang kriminal seperti ini. Apa yang menjadi penyebab kekerasan ini?

Paparan kekerasan terhadap anak

Usia 7-12 tahun menurut ilmu saraf adalah periode emas di mana dasar sebuah perilaku manusia sedang terbentuk. Perilaku manusia sangat tergantung dari kerja sekelompok otak di bagian otak yang disebut lobus frontalis dan parietalis (otak bagian depan dan ubun-ubun). Dan perilaku didasari oleh sistem memori yang terekam dalam otak manusia, bilamana memori yang terekam baik maka perilaku akan bersifat baik, begitu juga sebaliknya jika memori yang terekam jelek maka perilaku cenderung jelek.

Memori yang terbentuk tergantung dari stimulus (paparan) yang masuk secara terus menerus, stimulus bisa dalam bentuk visual, auditorial, taktil dari lingkungan sekitarnya akan dibawa serabut otak dan disimpan di suatu area yang disebut sistem limbik (bagian otak yang mengurus memori dan emosi). Di dalam kehidupan yang serta modern ini paparan yang masuk kepada anak SD sangat variatif dan beraneka ragam, paparan itu terjadi sejak bangun tidur sampai tidur lagi.

Saat berangkat ke sekolah anak sudah terpapar kekerasan lalu lintas, pelanggaran lalu lintas yang begitu masif dan hampir merata di seluruh pengguna jalan memberi paparan negatif ke otak siswa sehingga ada presepsi tentang pelanggaran aturan lalu lintas

Saat di sekolah pun ada potensi paparan negatif masih ada, sistem pendidikan yang kurang bisa mengoptimalkan potensi anak didik seringkali menciptakan kekerasan tersendiri tanpa didasari oleh pengajar lainnya atau mungkin dilakukan oleh teman sebaya dalam pergaulan sehari-hari. Sebuah penelitian menunjukan sekolah merupakan salah satu tempat tersering terjadi kekerasan (terutama kekerasan verbal dan bullying).

Acara di televisi juga sering menayangkan adegan kekerasan (film, sinetron, acara musik dan lainnya), satu penelitian menunjukkan anak sekolah di Indonesia yang menonton televisi rata-rata 5 jam sehari semalam (jauh di atas rata-rata siswa sekolah di ASEAN hanya 2-3 jam). Artinya anak akan sangat mungkin terpapar dengan apapun yang yang ditonton di televisi, apalagi tidak semua orang tua bisa mendampingi dan memberi informasi yang benar terhadap apa yang dinontonnya. Akhirnya anak mengambil kesimpulan sendiri terdapat apa yang dinonton termasuk adegan kekerasan yang dilihat di televisi. Sebuah penelitian yang melibatkan 3000 anak sekolah yang sering menonton televisi menunjukan hasil bahwa anak tersebut adanya kecenderungan untuk bertindak anarkis.

Paparan lainnya adalah kekerasan dari permainan (games) dan seolah sudah menjadi kebiasaan semua anak bisa mengakses atau bermain game sesuai keinginannya. Dan permainan games tersebut sebagian besar mengandung adegan kekerasan (di samping adegan pornografi) dan mirisnya orang tua banyak yang tidak mampu mengontrol materi games yang sedang digandrungi anak anaknya. Hal ini dikarenakan selain kesibukan orang tua, juga mudahnya anak mengakses permainan tersebut.

Permainan games yang mengandalkan kecepatan otak dan alat gerak untuk menghacurkan lawan tandingnya bila dimainkan terus menerus dan tanpa bimbingan dari orang tua akan membentuk memori di otak yang bersifat “menghancurkan” lawan. Maka perilaku yang muncul adalah potensi menghancurkan “lawan”. Maka sudah sepatutnya kita sebagai orang tua memberi dan mengawasi games yang dimainkan oleh anak-anak kita, bahkan harus memberi games yang merangsang kecerdasan dan ketrampilan agar memberi stimulus positif ke otak.

Sedemikian banyak paparan negatif kekerasan terhadap anak kita bila tidak ditangani dengan baik yang akan berpotensi perilaku kekerasan yang siap “meledak” bila satu stimulus yang datang, walaupun stimulus tersebut sebenarnya tidak seharusnya menimbulkan kekerasan, tetapi karena akumulasi paparan negatif tersebut maka muncullah tindakan kekerasan yang dilakukan oleh siswa yang bisa berakibat fatal bagi korbannya.

Semoga kita semua bisa memberi bekal dan lingkungan terbaik bagi anak kita sehingga mereka dapat tumbuh dan berkembang dengan optimal di masa pertumbuhannya dan kelak bisa menjadi anak sholeh sholehah yang menjadi Qurrota a’yun bagi kita orang tuanya… Aamin ya rabbal alamin.

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...
Dokter spesialis saraf RSUD Saiful Anwar Malang. Dosen ilmu Penyakit Saraf Fakultas Kedokteran Univ Brawijaya Malang. Penulis buku "Puasa dan Otak Manusia" penerbit UB media Malang 2014.

Lihat Juga

UNICEF: Di Yaman, Satu Anak Meninggal Setiap 10 Detik

Organization