Home / Konsultasi / Konsultasi Keluarga / Saya Ingin Cerai Karena Suami Tidak Jujur dan Menumpang Hidup, Bagaimana Solusinya?

Saya Ingin Cerai Karena Suami Tidak Jujur dan Menumpang Hidup, Bagaimana Solusinya?

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (YouTube)
Ilustrasi. (YouTube)
Pertanyaan:

Yth. Dr. Muhammad Iqbal, nama saya En dari Cilacap usia 43 tahun. Saya punya masalah sejak awal perkawinan, suami saya yang tidak punya pekerjaan sehingga dimodali sama kakak saya ternyata tidak jujur, pembohong, akhirnya diambil lagi sama kakak modal sama mobil. Karena saya tidak tega lihat usaha suami akhirnya saya pinjam uang ke bank dengan jaminan rumah saya pribadi.

Ternyata sama suami saya usahanya tidak jujur akhirnya kami terlilit utang dan suami saya kabur. Yang membereskan utang adalah kakak saya. Demi menghidupi anak saya semata wayang akhirnya kakak saya kasih peluang ke saya untuk bisnis dan saya jalankan tanpa suami karena dia kabur.

Setelah saya punya usaha dia nongol lagi, dan bersatu lagi. Tidak lama bergabung dengan usaha saya, suami saya perilakunya sama, pembohong bahkan sampai utang rentenir. Sampai saat ini suami saya perilakunya sama pembohong dan galak. Saya minta cerai saja mengancam takut tidak bisa hidup karena selama ini dia hanya menopang dari keluarga saya. Mohon petunjuk saya benar-benar ingin cerai. Dan suami tidak punya rasa dendam karena selama 11 tahun dia tidak pernah berubah kelakuannya.

Terima kasih
En, Cilacap

Jawaban:

dakwatuna.com – Yth Ibu En di Cilacap, terima kasih sudah mengajukan pertanyaan ini. Saya bisa merasakan betapa kesal dan sakit hatinya Ibu menghadapi tingkah laku suami. Suami yang tidak jujur dan tidak bertanggung jawab merupakan cobaan yang berat bagi Ibu dalam menjalani kehidupan ini.

Ada baiknya memang sebelum keputusan itu diambil ibu kembali mengomunikasikan masalah ini dengan suami dan keluarga, karena bercerai dalam Islam pada dasarnya diperbolehkan namun perbuatan tersebut dibenci oleh Rasulullah Saw. Alasan ibu meminta cerai sebenarnya sangat kuat, namun harapan untuk tetap mempertahankan pernikahan juga masih terbuka lebar, apalagi Ibu dan suami memiliki anak yang tentu saja akan berdampak ke psikologis pertumbuhan dan perkembangan anak.

Saya yakin perilaku suami sudah ibu ketahui sejak lama bahkan mungkin sebelum menikah, dengan niat dan harapan dia akan berubah setelah menikah, tentu saja keputusan ibu adalah keputusan yang berani mengambil risiko karena menyangkut masa depan. Perilaku buruk yang terjadi tentu saja bukan hanya dari pribadi suami sendiri seperti kepribadian, pendidikan dan pola asuh orang tuanya, namun ada juga faktor lingkungan ataupun pergaulan yang mempengaruhi perilaku suami ibu. Perilaku buruk seperti tidak jujur dan suka berbohong pada dasarnya adalah perilaku yang bisa diubah, asalkan lingkungan mendukung dan ada keinginan dari suami untuk berubah.

Dalam menghadapi suami seperti ini amarah dan meninggikan suara tidak akan menyelesaikan persoalan, bahkan mungkin bisa menimbulkan masalah, ada baiknya ibu mencoba menggunakan komunikasi yang suportif, yang tidak menghujat, tidak menghakimi atau bahkan merendahkan harga diri suami, namun bangunlah komunikasi yang membangun hubungan yang kuat, gunakan teknik “Coaching” perlakukan dia sebagai orang yang perlu di latih, bantu dia keluar dari masalah, bangun potensi dan kelebihan yang dia miliki dan tidak hanya fokus pada masalah kekurangannya saja.

Katakan padanya bahwa Ibu masih punya harapan besar padanya, bahwa dia punya kelebihan dan potensi, bantu dia merumuskan langkah-langkah strategis dalam mengubah perilakunya, bangun semangat hidupnya dengan pujian yang pantas dan objektif, sehingga dia merasa nyaman berasama istrinya.

Kalau ibu sudah tidak mampu lagi mengkomunikasikan masalah ini, coba minta pihak ketiga menasihati bisa orang tua atau tokoh masyarakat yang dihormatinya atau juga bertemu konselor atau psikolog sebagai mediator. Semoga bermanfaat.

Wallahua’alam.

Untuk pertanyaan dan konsultasi psikologi dapat kirimkan langsung melalui email: [email protected]

banner-konten-bersponsor-rumah-konseling

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...
Dr. H. Muhammad Iqbal, M.SocSc (Psy)
Sarjana Psikologi dari Fakultas Psikologi Universitas Islam Negeri (UIN) Jakarta. Kemudian melanjutkan S2 Program Magister Profesi Psikologi Konseling dan S3 Psikologi dari School of Psychology and Human Development Faculty Social Science and Humanities Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM). Alumni ILO Labour Migration Academy ILO Training Center Turin Italy dan Asian Graduate Students Fellowship National University of Singapore (NUS) dan Lulus Program Pendidikan Reguler Angkatan (PPRA-54) Lemhannas RI. Saat ini menjabat Dekan Fakultas Psikologi Universitas Mercubuana Jakarta dan Direktur Rumah Konseling (PT.Namary Insan Solusi), bergerak dalam bidang Konsultan Psikologi SDM dan Keluarga. Mendirikan Praktik layanan psikologi, Rumah Konseling di Jl. Saidin No. 17 Bambu Apus, Pamulang, Tangerang Selatan. Layanan pelatihan (Life Skill), konseling dan asesmen psikologi melalui temu janji dengan psikologi terlebih dahulu melalui Tlp : 082272187182/081218953316 Pertanyaan dan konsultasi psikologi dapat dikirim ke: [email protected] Jawaban Rubrik Konsultasi Psikologi

Lihat Juga

Taushiyah Dewan Pimpinan MUI Menyambut Idul Fitri 1439 H

Organization