Topic
Home / Berita / Opini / Benarkah Kibaran Bendera di PBB, Palestina Merdeka?

Benarkah Kibaran Bendera di PBB, Palestina Merdeka?

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Bendera Palestina di depan gedung PBB. (media.alwasatnews.com)
Bendera Palestina di depan gedung PBB. (media.alwasatnews.com)

dakwatuna.com – Bagi saya, berkibarnya bendera Palestina tak ubahnya seperti mengibarkan kapas basah. Sia-sia belaka. Terlebih jika kita pahami fakta, bahwa tanah Palestina sudah tidak ada lagi yang tersisa selain Jalur Gaza. Lagian, jika ukurannya bendera, bukankah Palestina bisa membuka kedutaan besar dan perwakilan di seluruh dunia.

Harian Perancis, Le Figaro membocorkan pertemuan rahasia antara Mahmoud Abbas, utusan Israel dan penengah dari Maroko. Abbas nampak semakin putus asa, menyikapi kepongahan Netanyahu yang semakin rakus dan tidak mau memberi sedikitpun celah bagi dirinya, untuk mengakhiri kehidupan dan dikenang sebagai pahlawan Palestina.

Ya. Ternyata berkibarnya bendera Palestina di PBB hanya isapan jempol belaka. Tentu atas restu dan izin Israel. Syaratnya sangat telak:

1. Israel memang termasuk 8 negara yang menolak, 45 abstain, dan 119 negara setuju. Namun Israel sudah mendapatkan jaminan dari Kongres AS, yang merestui Israel untuk mencaplok wilayah Tepi Barat dan menjadi bagian de jure dan de fakto bagian dari Israel.

2. Israel mendapatkan jaminan dari Abdullah, Raja Jordania dan Mahmoud Abbas untuk tidak “mengusik” pelanggaran HAM Israel atas warga Palestina di Tepi Barat. Bahkan Abbas mencabut tuntutan ke Abritase Internasional, tak lama setelah Israel menyerang Gaza 2014, membunuh menteri Palestina di medio 2015, membakar Al-Quds, membakar hidup-hidup warga Palestina.

3. Israel meraih dukungan telak dari otoritas Palestina, untuk membocorkan aktivitas HAMAS di Tepi Barat. Abbas boleh bangga bisa mengantarkan bendera Palestina berkibar. Tapi Abbas tidak mampu mencabut at-tansiq Al-Amni (koordinasi keamanan) dengan Israel. Dimana pada sejatinya, polisi FATAH dan PLO hanya sekadar “budak” atau ulubalang dari penjajah Israel.

4. Israel mendapatkan jaminan dari Abbas, bahwa Palestina tidak lagi menuntut hak atas wilayah perbatasan 1967 sesuai perjanjian OSLO 1994.

Dengan demikian, HAMAS menanggapi dingin kibaran bendera Palestina di PBB. Jubir HAMAS Shalah Al-Bardawweil menegaskan, “Kami tak ragu, bahwa sangat positif bila dunia mengingat ada satu bangsa yang berhak merdeka, yaitu Bangsa Palestina. Hak kemerdekaan alamiah. Namun dunia wajib paham, dunia tidak mampu memberikan hal positif di balik pengibaran seutas kain di pintu PBB. Oleh karena itu, bangsa Palestina sepatutnya memerdekakan diri dan menentukan nasib sendiri. Berjuang dalam satu menyingkirkan kezaliman, penjajahan, embargo. Di saat dunia luar berpesta pora. Jadi pengibaran bendera di PBB, hanyalah prestasi klise simbolik saja. Tidak lebih. Kemerdekaan hakiki adalah saat rakyat Palestina memiliki kebebasan dan mampu mengusir penjajahan. Caranya, hanya perlawanan! Inilah yang sepatutnya dibantu dunia!”

Maka sungguh ironis. Bila teman-teman di Indonesia, ikut-ikutan mengshare berita pengibaran bendara yang tak punya makna. Saya justru khawatir, pengibaran bendera semakin memperlemah perjuangan Mahmoud Abbas. Positi tawar Palestina, tidak sekuat di masa Arafat. Faktanya, Mahmoud Abbas sudah tersandera kepentingan kelompoknya yaitu PLO dan FATAH. Selain kepentingan, takut dibunuh dan jika hidup dibuat cacat.

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...
Avatar
Alumni Universitas Al-Azhar, Kairo-Mesir.

Lihat Juga

Palestina Tolak Rekonsiliasi Tanpa Kemerdekaan

Figure
Organization