Home / Keluarga / Pendidikan Anak / Anak dengan Intellectual Disability (ID) Bukan Hidup untuk Diabaikan

Anak dengan Intellectual Disability (ID) Bukan Hidup untuk Diabaikan

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (sportbund-rheinhessen.de)
Ilustrasi. (sportbund-rheinhessen.de)

dakwatuna.com – Sudah saatnya kita tidak lagi menganggap anak-anak yang mengalami keterbelakangan mental atau yang biasa kita kenal dengan anak-anak retardasi mental sebagai anak yang tak mampu apa-apa dan selalu menggantungkan hidupnya pada orang lain. Dan menjauhi mereka untuk mencari rasa aman.

Mereka sebenarnya adalah anak-anak luar biasa yang Allah amanahkan kepada kita untuk tetap dijaga dan dirawat layaknya anak normal lainnya. Hanya saja, mungkin dalam perawatannya kita membutuhkan beberapa strategi dan teknik khusus agar mereka mengerti maksud dan tujuan kita.

Anak retardasi mental atau yang saat ini telah diganti namanya menjadi anak dengan Intellectual Disability (Tunagrahita, red) berdasarkan DSM V adalah salah satu tipe anak berkebutuhan khusus yang perlu mendapatkan perhatian lebih dan penanganan tepat agar mereka mampu berdaya guna dan hidup seperti anak normal kebanyakan, meski pun tak seutuhnya bisa seperti anak normal. Anak yang berpotensi ID dapat dideteksi awal sebelum memasuki usia 18 tahun.

Banyak faktor yang menyebabkan mengapa anak bisa mengalami Intelectual Disability (ID), di antaranya adalah malnutrisi saat dalam kandungan, keracunan obat-obatan, atau terinfeksi virus rubella. Semakin modernnya zaman, maka semakin mudah kita mendeteksi gejala awal apakah anak kita mengidap ID atau tidak. Biasanya, untuk negara-negara maju seperti Jepang atau Singapura, mereka telah memiliki mesin pendeteksi kelainan kromosom pada janin.

Lalu apa yang bisa kita lakukan apabila kita memiliki anak dengan kebutuhan khusus seperti itu? mengembangkan keterampilannya adalah salah satu cara yang efektif agar anak tetap produktif dan kreatif. Ada 4 jenis klasifikasi anak dengan ID ini, yakni mild, moderate, severe, dan profound. Keempat klasifikasi ini dikelompokkan berdasarkan rentang kecerdasan intelektual (IQ) mereka. Dan keempat klasifikasi ini memiliki cara penanganan yang berbeda pula.

Pada anak ID, intervensi melalui pendidikan dapat menjadi jalan keluar untuk bisa membantu mereka mengenal dunia sekitar mereka, tentu saja social support dari keluarga dan orangterdekat menjadi faktor penentu suksesnya intervensi melalui pendidikan ini. Intervensi dalam pendidikan bisa melalui pelatihan bina diri, sekolah inklusi, dan sekolah luar biasa. Di sana biasanya anak-anak diajarkan untuk memahami benda-benda, mengenal huruf, dan diajarkan cara makan, minum, berpakaian, dan lain sebagainya.

Memang bukanlah suatu hal yang mudah ketika kita mengajarkan anak ID suatu hal. Namun bukan pula hal yang mustahil jika perlahan mereka mampu melakukan apa yang kita instruksikan. Di luar sana begitu banyak komunitas yang peduli akan nasib anak-anak ID ini. mereka yang tergabung dalam forum peduli anak ID selalu semangat mengembangkan ide-ide yang inovatif guna membantu pertumbuhan dan perkembangan anak ID. Nah, jika kita menemukan anak ID, sekarang bukan saatnya lagi untuk menutup mata. Sudah banyak literatur dan informasi yang menjelaskan tentang bagaimana cara awal yang harus dilakukan untuk mengahadapi mereka yang ID. So, masih mau menutup mata? Padahal perintah Allah sudah jelaslah, agar kita hidup untuk memberikan manfaat pada makhluk hidup lainnya.

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...

Tentang

Avatar
Mahasiswi Psikologi Unand. Ingin menjadi penulis inspiratif. Saat ini sedang menggarap satu buku nonfiksi bergenre psikologi, dan 2 novel.

Lihat Juga

Teater Kehidupan

Organization