Topic
Home / Berita / Opini / Saudi, Jokowi, dan PR Umat yang Belum Selesai

Saudi, Jokowi, dan PR Umat yang Belum Selesai

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Musibah jatuhnya crane akibat terjangan badai di Makkah. (tempo.co)
Musibah jatuhnya crane akibat terjangan badai di Makkah. (tempo.co)

dakwatuna.com – Beberapa hari yang lalu kaum muslimin sedunia dihadang duka yang hebat. Masjidil Haram di kota suci Mekah terkena bencana alam yang mengakibatkan katrol proyek pembangunan masjid terjatuh dan menimpa jamaah di dalamnya. Terdapat ratusan korban jiwa yang tertumpah darahnya. Kejadian ini seakan menambah panjang pekerjaan rumah umat di samping polemik timur tengah dan krisis keumatan di Asia dan Afrika.

Hal yang menarik terjadi di dalam negeri dengan jumlah muslim terbesar dunia, Indonesia. Selain santernya isu dan kecaman terhadap negara Arab Saudi, berita yang cukup menghebohkan adalah pengaitan antara peristiwa memilukan tersebut dengan kehadiran Presiden RI Joko Widodo di Saudi oleh salah satu media massa.

Bencana yang menimpa suatu kaum merupakan hak prerogatif Allah sebagai Pemilik Semesta alam. Mekanisme alam semesta yang berada di bawah kehendak-Nya melalui takdir merupakan urusan yang sudah selesai secara sempurna sebagai ajaran Islam dan masuk dalam pondasi keislaman seseorang di dalam rukun iman. Hal ini berarti tingkat keislaman seseorang, yang pastinya berpengaruh pada amaliah seorang muslim, bergantung pada sahih tidaknya akidah yang ada di dalam hatinya. Akidah sebagaimana secara definitif bermakna “pengikat” menjadi faktor penentu langkah ibadah seorang muslim.

Mempertanyakan urgensi akidah harusnya sudah tidak lagi dibahas kembali, mengingat seluruh kaum muslimin sepakat menjadikan rukun iman dan rukun Islam sebagai faktor determinannya, khususnya dua kalimat syahadat. Syahadat pertama tentang mengakui ketunggalan Allah sebagai ilah atau Dzat yang berhak disembah juga memiliki makna yang mendalam di antaranya permasalahan takdir. Banyak dalil aqli maupun naqli yang dijabarkan dalam buku-buku akidah islam yang masyhur disusun pada alim ulama merelasikan takdir dengan syahadat. Hal inilah yang menjadikan perkara yang perpotongan dengan takdir juga termasuk dalam perkara akidah yang sangat menentukan keimanan seseorang.

Dalam kasus mengaitkan kedatangan Presiden RI ke Saudi dengan peristiwa jatuhnya katrol di tanah suci jelas sangat bermasalah jika ditinjau dalam urusan takdir. Hal ini disebabkan islam sebagai agama yang menjaga akal, sebagaimana dikemukakan Imam asy Syathibi dalam maqasid Masyari’, menghendaki adanya relasi kausalitas sebab-akibat dalam perkara-perkara alamiah. Tidak ada asap tanpa ada api merupakan salah satu perkara alamiah yang menjadi analogi dasar relasi kausalitas di dalam islam. Hanya beberapa hal saja yang tidak memerlukan prinsip kausalitas yang ada di dalam Islam seperti konsep mukjizat hingga karomah, itupun memiliki syarat-syarat yang sangat ketat dan dapat dipertanggungjawabkan secara syar’i. Islam sangat menjaga akal logika umatnya.

Oleh sebab itu, tersebarnya isu pengaitan irasional tersebut seakan menjadi pekerjaan rumah yang belum selesai di tubuh umat Islam Indonesia. Re-islamisasi melalui pengenalan dan pendidikan akidah Islamiyah yang benar, baik secara personal di keluarga, formal di sekolah hingga kultural jelas harus menjadi agenda yang terus menerus dijaga, sebagaimana gerakan Muhammadiyah yang pada abad ke-20 lahir dengan semangat memberantas TBC (Tahayul, Churafat dan Bid’ah) yang notabene masalah itu sangat mempengaruhi akidah umat. Jika seseorang sangat mudah untuk berislam, yakni hanya dengan mengucapkan dua kalimat syahadat, maka tidak dapat dipungkiri juga mudahnya seseorang tergelincir hanya dengan melanggar dua kalimat tersebut secara sadar. Akidah adalah pondasi dan tidak ada bangunan yang dapat berdiri dengan kokoh tanpa pondasi.(EH)

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...
Avatar
Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Airlangga yang pernah berproses di Lembaga Dakwah Fakultas di 2012 serta Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas pada 2013. Kiprah penulis juga merambah ke dunia prestasi dengan menjuarai beberapa kompetisi debat hukum, karya tulis dan artikel di tingkat nasional serta menjadi mahasiswa berprestasi fakultas pada 2012.

Lihat Juga

Laporan PBB: Putra Mahkota Saudi Bertanggung Jawab Atas Kematian Jurnalis Jamal Khashoggi

Figure
Organization