Topic
Home / Berita / Nasional / Menurut Fatayat NU, Perlu Upaya Bertahap Mengubah Budaya Merokok Warga Nahdliyin

Menurut Fatayat NU, Perlu Upaya Bertahap Mengubah Budaya Merokok Warga Nahdliyin

Anggia Ermarini
Ketua umum Fatayat Nahdlatul Ulama (NU) terpilih, Anggia Ermarini (kedua kanan) bersama pejabat lama, Ida Fauziyah (kedua kiri). (beritasatu.com)

dakwatuna.com – Surabaya.  Budaya merokok di kalangan warga nahdliyin seolah telah menjadi kultur yang mentradisi terlepas dari hukum halal haram yang masih diperdebatkan.

Tapi kebiasaan merokok tersebut ternyata menimbulkan keresahan bagi sebagian warga nahdliyin, terutama di kalangan kaum ibu.

Seperti yang disampaikan Sekretaris Umum Fatayat NU Anggia Ermarini. Meskipun mengaku berposisi kritis terhadap rokok, Anggia tidak ingin masuk pada perdebatan hukum halal/haram merokok. Sebagai pribadi, menurut Anggia, selama ini ia mendorong upaya pembatasan rokok. Itu dilakukan baik di lingkungan sekitar dirinya mupun melalui masukan terhadap regulasi pemerintah.

“Pembatasan itu penting. Karena di situ ada hak orang untuk menghirup udara bersih,” ujar Anggia, berbicara kepada wartawan di sela Kongres ke-15 Fatayat NU di Surabaya, Senin (21/9), sebagaimana dilansir republika.co.id

Ia mencontohkan, di rumahnya, meskipun sang suami seorang perokok, keluarga mereka punya batasan soal aktivitas merokok.

“Suami saya tidak boleh merokok di dalam rumah, karena ada anak-anak di sana,” kata pengajar Jurusan Imu Kesehatan Masyarakat UI tersebut.

Secara kelembagaan, Anggia menyampaikan, Fatayat NU memiliki program Perilaku Hidup Bersih dan Sehat atau PHBS.

“Di dalamnya, salah satunya mengatur soal rokok. Di mana tempat orang merokok, mendorong orang tidak mengajak orang lain kalau mau merokok, dan lain-lain,” kata Anggia.

Anggia setuju, mengampanyekan soal hidup sehat tanpa rokok di kalangan warga nahdliyin adalah perjuangan internal Fatayat NU. Menurut Anggia, perlu upaya bertahap untuk mengubah kultur tersebut.

Penolakan warga NU atas fatwa yang mengharamkan rokok memang telah lama didengungkan. Salah satunya datang dari KH. Arwani Faisal saat digelar diskusi publik ‘Kampanye kondom, anti rokok: Indah tapi manipulatif,’ di kantor PBNU, Jakarta, pada tahun 2013 silam, sebagaimana dikutip dari  merdeka.com

Menurut Faisal, rokok tidak punya bahaya yang berlebihan terhadap kesehatan manusia sehingga tidak perlu dilarang berlebihan.

“Kok kejam langsung bilang haram, ulama NU bilang enggak haram. Karena puluhan tahun merokok sehat-sehat saja. Kan tingkat bahayanya dilihat,” jelasnya.

Faisal menjelaskan, penetapan rokok ini sudah diperhitungkan masak-masak ketika muktamar NU. Bahkan ada dalil agama yang membenarkan. (sbb/dakwatuna)

Redaktur: Saiful Bahri

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...

Tentang

Saiful Bahri
Lahir dan besar di Jakarta, Ayah dari 5 orang Anak yang hobi Membaca dan Olah Raga. Setelah berpetualang di dunia kerja, panggilan jiwa membawanya menekuni dunia membaca dan menulis.

Lihat Juga

Meneguhkan Pesantren Tanpa Rokok

Figure
Organization