Topic
Home / Berita / Surat Pembaca / Surat Terbuka untuk Teuku Azril

Surat Terbuka untuk Teuku Azril

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi - Sejumlah anak asik main perang perangan dengan pistol mainan di Kota Beureunuen, Kab Pidie, Banda Aceh Kamis (1/9/2011) Mereka asik bermain tanpa memikirkan akibatnya bila terkena mata yang dapat berakibat mata rusak atau buta. (SERAMBI/BEDU SAINI)
Ilustrasi – Sejumlah anak asik main perang perangan dengan pistol mainan di Kota Beureunuen, Kab Pidie, Banda Aceh Kamis (1/9/2011). (SERAMBI/BEDU SAINI)

Yang Amat Berbahagia
Paduka Yang Mulia Teuku Azril.
di Daerah Khusus Ibu Kota Jakarta

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Nama Saya Siti Marisa. Saya warga Banda Aceh dan saya seorang muslim yang sangat mencintai kedamaian yang hakiki, dan sekaligus mencintai anak-anak Aceh. Beberapa bulan ini saya mengikuti perkembangan berita terkait Paduka Yang Mulia Teuku Azril, dan beberapa hari lagi kita akan “meugang” menyambut Idul Adha 1436 H.

Saya bukan pengikut aliran radikal dan liberal, Paduka Yang Mulia Teuku Azril. Saya mohon surat terbuka saya ini segera direspons. Mohon dimaafkan atas kesalahan yang saya buat pada surat terbuka ini bila didapatkan.

Bulan kemarin, bersama masyarakat Aceh lainnya saya merayakan ldul Fitri dengan tenang dan damai, sebuah hari keagamaan yang agung bagi umat Islam, sepanjang malam saat saya membuka media sosial, saya mengeluarkan air mata membaca komentar masyarakat Aceh terhadap Paduka Yang Mulia Teuku Azril karena menyerukan Tradisi Meugang di Aceh dihapuskan.

Melalui tayangan berita media lokal dan Nasional, hampir setiap menit, saya menyaksikan pengguna media sosial Facebook, Instagram, Twitter dengan lajunya netizen menjatuhnya hujatan yang luar biasa.

Akibat pernyataan kontroversial yang berasal dari Paduka Yang Mulia Teuku Azril, krisis moral dan aksi-aksi kriminal yang tengah berkecamuk di Aceh. Hampir semua yang terlibat adalah mereka yang tidak memiliki pengetahuan luas, kami tidak berdaya, dan tidak bisa menyelamatkan generasi Aceh tanpa campur tangan Paduka Yang Mulia Teuku Azril.

Aceh dikenal daerah konflik bersenjata, sampai saat ini belum ada satupun yang mampu mencarikan solusi untuk menghentikan konflik bersenjata di Aceh. anak-anak Aceh memang dibiasakan dengan senjata, untuk bisa menjalankan kegemarannya anak-anak Aceh membeli senjata mainan berbahaya.

Anak-anak Aceh membentuk kelompok atau regu lalu berperang menggunakan peluru plastik senjata mainan tersebut, menembak lampu penerang jalan kerap dilakukan, lampu-lampu di ruko, pusat perbelanjaan juga jadi sasaran anak-anak Aceh.

Mohon Paduka Yang Mulia Teuku Azril tidak menyerukan meugang Idul Adha kali ini dihapus, Paduka Yang Mulia Teuku Azril harus terlibat dalam hal pencegahan peredaran senjata mainan berbahaya di Aceh dan pesta kembang api menjelang Hari Raya.

Isak tangis orang tua yang kehilangan putra-putrinya terkena api berbahaya yang berasal dari kembang api akibat salah penggunaan, serta jeritan anak-anak yang tiba-tiba kehilangan penglihatan karena diterjang peluru senjata mainan tepat di bola mata mereka.

Sungguh menusuk relung hati yang paling dalam. Kami yakin, Paduka Yang Mulia Teuku Azril dan pejabat yang memiliki kewenangan, hampir pasti akan mengalami kesedihan dan kepiluan yang sama menyaksikan tragedi yang tak terperikan itu.

Sebagai seorang pemerhati Aceh Paduka Yang Mulia harus mencegah peredaran petasan/kembang api dan senjata mainan di Aceh. Paduka Yang Mulia Teuku Azril yang saat ini tengah memimpin sebuah organisasi kepedulian pendidikan.

Dan sekarang bermukim di Jakarta, tentu tidak hanya bersedih dan marah mendapat kabar ini. Hingga saat ini Paduka Yang Mulia Teuku Azril juga dikenal aktif melaksanakan diplomasi dengan negara tetangga agar pekerja asal Aceh diperlakukan dengan baik.

Termasuk dengan Presiden Komuniti Aceh Mansyur Usman, dan Menteri Wilayah Persekutuan Tengku Adnan Mansor, tetapi situasi yang ada di Aceh kenyataannya bertambah buruk.

Oleh karena itu, dari Jakarta, Paduka Yang Mulia Teuku Azril harus meneriakkan seruan moral kepada seluruh masyarakat Aceh, dan Pemerintah Aceh utamanya Gubernur Aceh, dan utamanya lagi kepada pemimpin perusahaan yang mengedarkan senjata mainan tersebut.

Paduka Yang Mulia Teuku Azril harus melarang penjualan senjata mainan di Aceh, dan juga harus mencegah peredaran petasan/kembang api berbahaya.

Untuk segera menghentikan pengiriman senjata mainan, petasan/kembang api ke Aceh, dan tragedi tewasnya bocah akibat bahan peledak berdaya ringan (kembang api) tidak terjadi lagi. Dengan seruan itu , saya berharap para pemimpin di Aceh segera mengambil tanggung jawab bersama dan benar-benar bisa melakukan atau memaksakan agar barang berbahaya dan tidak bermanfaat itu tidak beredar di Aceh.

Seruan Paduka Yang Mulia Teuku Azril “hapus tradisi meugang” telah banjir hujatan dari masyarakat Aceh dan di luar Aceh. Paduka Yang Mulia Teuku Azril sangat berani ingin menghilangkan tradisi turun-temurun (meugang) itu. Paduka Yang Mulia Teuku Azril juga harus di barisan terdepan menyelamatkan mata anak-anak Aceh.

Seruan itu mesti dilaksanakan sekarang. Bukan besok, apalagi lusa. Dengan seruan Paduka Yang Mulia Teuku Azril, berarti pengiriman senjata mainan melalui apapun harus dihentikan. Demikian pula pengusaha, pedagang senjata mainan, petasan, kembang api yang membahayakan anak-anak dapat diakhiri.

ltu semua sudah menabrak hukum, ketidakpedulian, moral, dan etika usaha, yang harus dijunjung tinggi di sebuah Nanggroe Syariat Islam. Meskipun saya seorang wanita, saya tidak melihat masalah ini dari segi usaha musiman, tapi dari segi perilaku anak-anak yang semakin meresahkan.

Saya tidak mengaitkan pikiran dan seruan Paduka Yang Mulia Teuku Azril dengan “meugang” agar surat terbuka saya ini digubris, namun perihal hapus tradisi meugang itu sampai detik ini masih saja menjadi perbincangan warga Aceh, Isu peredaran senjata mainan bukanlah isu murahan. lsu yang akan kita hadapi ini adalah isu tentang mata anak-anak Aceh, kepedulian, hukum, dan etika usaha, serta diperlukan tindakan dari Paduka Yang Mulia Teuku Azril.

Dengarkan pula harapan rakyat Aceh agar tidak dihantui oleh rasa takut sepanjang masa setelah Provinsi Aceh insya Allah menjadi Wilayah kekhususan yang merdeka dan berdaulat dalam NKRI.

Konflik di Aceh akan berakhir, menurut hemat saya, jika kekhususan Aceh telah benar-benar dicapai dan kemudian Republik Indonesia tidak merasa terancam oleh Aceh. Paduka Yang Mulia Teuku Azril juga telah menyerukan Pemuda Aceh wajib menjaga NKRI.

Tentunya Indonesia yang semakin memiliki hati dan semangat pembangunan Aceh, dan bukan yang selalu bersikap superior karena merasa negara jauh lebih kuat.

Masyarakat Aceh lain (luar Aceh) juga harus peduli terhadap Aceh, tergerak, dan ikut berkontribusi bagi terwujudnya cita-cita mulia ini, Paduka Yang Mulia Teuku Azril perlu turun tangan dan pemuda Aceh lainnya harus menawarkan diri dan selalu siap untuk dilibatkan dalam proses pengakhiran tragedi kematian akibat petasan/kembang api yang penting ini.

lnilah saudara-saudaraku bangsa setanah air, peluang membenahi Aceh yang terbuka. Jangan kita sia-siakan, agar kita tidak dikutuk dan disalahkan oleh generasi Aceh mendatang oleh anak cucu kita.

Selamat ldul Adha 1436 Hijriah kepada kaum muslimin Indonesia semoga Allah SWT senantiasa memberikan perlindungan dan pertolongan-Nya. Juga salam damai dan persahabatan untuk semua umat beragama dan bangsa-bangsa sedunia.”

Atas perhatian Paduka Yang Mulia Teuku Azril, kami Ibu-Ibu di Aceh mengucapkan ribuan terima kasih.

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...

Tentang

Avatar

Lihat Juga

UNICEF: Di Yaman, Satu Anak Meninggal Setiap 10 Detik

Figure
Organization