Topic
Home / Keluarga / Pendidikan Anak / Anak yang Abai Terhadap Orangtuanya

Anak yang Abai Terhadap Orangtuanya

Ilustrasi. (inet)
Ilustrasi. (inet)

dakwatuna.com – Jangan salahkan para anak.. jika orangtua selalu menganggap diri paling benar. Sementara anak tidak dibiarkan berbicara menyampaikan isi hati atau uneg-unegnya. Kebanyakan orangtua, di masa tuanya terlihat seorang diri.. bahkan beberapa para lansia yang masuk ke panti jompo dengan alasan anak tidak bisa merawat orangtuanya, bukan sepenuhnya salah dari sang anak dan sementara kita bisa membully sang anak karena keputusannya memasukkan orantuanya ke panti jompo.

“Lihat itu si fulan, anak durhaka.. masa’ orangtuanya yang udah sepuh gitu dimasukkin ke panti jompo. Emang dasar anak gak berbakti, gak tau balas budi.”

Perlu digarisbawahi, kata ‘gak tau balas budi’ bisa kita telaah lebih dalam dulu.

Seorang anak, apabila dari sejak kecilnya mendapat perhatian, kasih sayang dan kesempatan untuk menyampaikan segala yang berasal dari hati.. maka ia akan tumbuh besar dengan kemandirian, kepercayadirian, dan kemampuan bertahan hidup. Namun, anak yang dibesarkan dari kekurangperhatian orangtuanya, pengabaian terhadap hak-hak anak, tidak ada kesempatan untuk anak ‘berbicara’ maka anak di masa dewasanya cenderung pendiam, atau justru malah menjadi pemberontak.

Saya melihat, pada beberapa anak yang usianya sudah dewasa sementara orangtuanya menjadi lansia, ada gambaran yang seolah menjadi hukum timbal balik dari apa yang dilakukan orangtuanya dulu saat si anak masih kecil.

Sebut saja ‘Fulan’. Ia tumbuh besar menjadi anak yang abai terhadap orangtuanya, bahkan di saat orangtuanya sedang sakit dan meminta untuk diantar ke rumah sakit ia menjawab “Ahh, bapak-ibu mah udah pada mandiri, bisa kok naik taksi atau angkutan umum ke rumah sakit. Dari muda udah biasa sendiri”. Nah kalimat tsb menohok hati kita.. bukan serta merta kita menyalahkan si anak yang enggan mengantar orangtuanya ke rumah sakit tapi setelah diflashback, ternyata dahulu sang anak ketika sakit bahkan sampai demam tinggi, orantuanya pun abai terhadap kondisi sang anak sehingga sang anak karena demam tinggi itu kini ia harus mengalami penurunan kecerdasan beberapa persen.

Lalu dalam kesempatan lain, sang anak yang kurang diperhatikan bahkan tidak pernah diajak bermusyawarah dalam pemutusan urusan keluarga, dewasanya pun menjadi cuek dengan urusan orangtuanya termasuk ketika si anak tahu orangtuanya memiliki utang banyak pada orang lain selama bertahun-tahun dan ketika ditagih oleh si pemberi utang ia menjawab “tagih aja langsung pak sama ibu saya. saya mah gak ada urusan. Ambil aja barang-barang di rumah ibu saya kalau emang ibu saya gak bisa bayar utang”. Hal ini bisa terjadi, karena sejak kecil, anak tidak dilibatkan dalam keputusan yang berurusan dengan keluarga. Jadi dewasanya pun ia masa bodo dengan apa yang terjadi pada orangtuanya.

Nah, itu hanya sedikit contoh. Saya yakin masih ada alasan lain yang membuat anak menitipkan orangtuanya ke panti jompo. Jadi, tidak sepenuhnya salah sang anak. Yang salah adalah pola didik orangtuanya semasa anak masih kecil.

Maka, saya pun selaku orangtua berusaha sekali mendidik anak saya yang baru satu untuk bisa terlibat dalam urusan kerumahtanggaan, bahkan memberi kesempatan dia untuk mengambil keputusan dari hal sederhana. Misalnya saja menanyakan “Nak, siang ini kamu mau makan ayam atau ikan?” Dan biarkan ia menjawab dengan hatinya. Bukan memaksakan keinginan orangtua yang maunya setiap hari masak ikan terus sehingga anak mau tidak mau terbiasa hanya mengenal makan ikan.

Begitupula dengan saya selaku anak, yang masih memiliki kedua orangtua yang masih lengkap. Saya bersyukur, karena sejak kecil saya banyak diajarkan pelajaran kehidupan mulai dari urusan kerumahtanggaan, mengarsipkan dokumen keluarga, menata rumah sampai urusan berniaga saya mendapat teladan dari orangtua terutama ibu saya. Dan sepanjang usia saya hingga detik ini, saya diajarkan untuk hidup demokratis; siap mengambil segala keputusan dengan resiko yang harus ditanggung sendiri. Dan satu hal lagi, saya selalu dilibatkan ketika ada musyawarah di keluarga terkait masalah kecil atau besar. Sehingga keberadaan saya dianggap ada.

Oleh karenanya, ketika orangtua saya semakin lanjut usia. Sebisa mungkin saya terus menengok dan mengunjungi mereka setiap pekan atau sebulan minimal 2 kali. Saya tak ingin melewatkan kesempatan bercengkerama dengan mereka dan mendengar cerita-cerita mereka selama saya tidak ada di dekat mereka.

Saya berharap, Allah memberikan saya kemampuan dan kesempatan untuk bisa merawat kedua orangtua saya yang kian lanjut usianya nanti. Bukan dengan menitipkannya di panti jompo, karena kebaikan mereka yang begitu luar biasa di masa saya kecil.

Dan harapan itu pun saya titipkan pada Allah, agar jikalau umur saya panjang, saya berharap anak-anak nanti bisa merawat saya sepenuh hati, bukan mencampakkan saya ke panti jompo.

Satu hal lagi, di dunia ini berlaku hukum sebab akibat atau hukum timbal baik, di mana ketika kebaikan yang kita tanam maka kebaikan pula yang akan kita tuai. Perhatian dan curahan kasih sayang orangtua pada anak maka akan dibalas pula oleh sang anak dengan pemberian kasih sayang dan perhatian pada orangtuanya. Pun sebaliknya, bersikap cuek dan abai terhadap anak di masa kecilnya, akan terbalas pula oleh sikap anak yang cuek dan abai terhadap orangtua ketika dewasa nanti. (deasy/dakwatuna)

Redaktur: Samin Barkah

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...
Deasy Lyna Tsuraya
Fulltime mother yang sedang asyik mengurus seorang putra, senang menulis dan mengembangkan kemampuan diri menjadi seorang pembicara atau moderator acara kemuslimahan. Mengisi kesehariannya dengan mengelola web islami dan usaha Rumah Koleksi Antaradin yang bergerak di bidang fashion islami.

Lihat Juga

UNICEF: Di Yaman, Satu Anak Meninggal Setiap 10 Detik

Figure
Organization