Home / Narasi Islam / Sosial / “PR” Dakwah

“PR” Dakwah

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (inet)
Ilustrasi. (inet)

dakwatuna.com – Setiap perusahaan membutuhkan PR. Bukan Pekerjaan Rumah, melainkan Public Relation, yang biasa disebut “PR”. Ia merupakan proses, usaha dan aktivitas yang dilakukan secara terencana untuk menjalin komunikasi yang baik dan saling menguntungkan. Perusahaan yang setiap pekerjanya – dari Direktur hingga Office Boy – mampu menjalankan fungsi PR, ia akan tumbuh menjadi perusahaan besar dan bonafide.

Dakwah pun demikian adanya. Ajaran Islam perlu dikomunikasikan kepada publik dengan baik. Ditampilkan secara utuh dan gamblang. Karena, Islam itu akan mempesona kalau ditampilkan apa adanya. Berbeda dengan kebatilan. Kebatilan itu tumbuhnya di area gelap dan remang-remang, sebab kalau tersingkap kedoknya akan ditinggalkan orang.

Setiap Muslim adalah PR Dakwah

Idealnya, setiap muslim menjadi representasi PR Islam, sesuai bidang yang digelutinya dan keahlian yang dimilikinya. Untuk itu, silakan ambil dan miliki sikap-sikap berikut ini, dan jadilah penyambung lidah pesan-pesan Rasulullah saw.

  1. Perindah Penampilan

Penampilan memang bersifat lahiriah, tapi tetap saja erat kaitannya dengan batin. Umar bin Khattab punya kesan tersendiri terhadap orang yang berpenampilan prima. “Aku takjub pada pemuda yang taat beribadah, pakaiannya besih dan aromanya wangi”, katanya. Hal itu wajar karena setiap orang menyukai segala sesuatu yang indah. Apalagi keindahan lahiriah yang memancar dari keindahan batin.

Rasulullah saw pernah melihat seseorang yang rambutnya tidak terawat. Beliau “Apa tidak ada sisir untuk merapikan rambut” (Hr. Nasa’i; Shahih). Begitu juga ketika melihat seseorang yang bajunya kurang bersih, beliau menanyakan “Apa tidak ada air untuk mencuci?” (Shahih Ibnu Hibban). Jadi, mengenakan pakaian yang indah dan berpenampilan menarik itu tuntunan Nabi, bukan kesombongan. Rasulullah saw bersabda:

إِنَّ اللَّهَ جَمِيلٌ يُحِبُّ الْجَمَالَ الْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ

“Sesungguhnya Allah itu Maha Indah. Ia menyukai keindahan. Kesombongan ialah menolak kebenaran dan merendahkan orang lain” (Hr. Muslim).

  1. Senyumlah

Wajah senyum berseri itu bukan saja membuat orang lain senang, tapi juga membuatnya merasa dihormati. Bukankah menyenangkan dan menghormati orang lain itu merupakan prestasi? Tak mengherankan kalau rasulullah saw menilainya sebagai shadaqah. Sabda beliau:

تَبَسُّمُكَ فِيْ وَجْهِ أَخِيْكَ صَدَقَةٌ

“Senyummu di hadapan saudaramu itu merupakan shadaqah” (Hr. Tirmidzi; Shahih).

Oleh sebab itu, janganlah kesibukan membuat kita kehilangan nikmat senyum. Jangan pula kepenatan kerja membuat wajah kita ber- merk masam. Ingatlah, raut wajah itu berbicara lebih fasih dibanding kata-kata. Para sahabat merasa nyaman bila berada di samping rasulullah saw, karena wajah beliau selalu berseri dan murah senyum. Abdullah bin Harist ra memberikan kesaksian, “Aku tidak pernah melihat orang yang lebih banyak tersenyum dibanding rasulullah saw” (Hr. Tirmidzi; Shahih).

Tariklah nafas dalam-dalam…! Ucapkan Alhamdulillah…! Dan Tersenyumlah bahagia…!

  1. Awali Salam

Kaedah umum mengatakan bahwa amalan wajib itu lebih utama dari pada amalan sunnah. Tapi ada pengecualian, yaitu salam. Walaupun mengucapkan salam hukumnya sunnah, namun ia lebih utama dibanding menjawab salam yang hukumnya wajib. Memulai salam, mengajak berjabat tangan, dan memulai pembicaraan ketika bertemu orang lain adalah sikap terpuji yang menandakan keluhuran budi.

Jadi, orang yang mulia bukanlah orang yang menunggu disapa, menunggu diberi salam atau menunggu dijabat tangannya. Rasulullah saw bersabda:

إِنَّ أَوْلَى النَّاسِ بِاللَّهِ مَنْ بَدَأَهُمْ بِالسَّلاَمِ

“Sesungguhnya orang yang paling mulia di sisi Allah adalah orang yang memulai salam kepada mereka” (Hr. Abu dawud; Shahih).

Ibnu Umar ra memiliki sikap tawadhu’ atau rendah hati yang membuat orang-orang menyukainya. Ia selalu memulai salam, baik ketika bertemu yang lebih tua atau yang lebih muda. Subhanallah…! Kalau seorang muslim berpenampilan prima, wajahnya senyum berseri, dan aktif memulai salam ketika bertemu, tentu ini merupakan PR yang sangat dahsyat. Terlebih lagi kalau semakin dihangatkan dengan jabat tangan. Hasan Basri mengatakan: “Al-mushafahah tazidu fil-mawaddah – Jabat tangan itu menambah kecintaan”.

  1. Jadilah Dermawan

Harta merupakan alat pikat yang luar biasa. Manusia cenderung suka kepada orang yang banyak memberi bantuan materi kepadanya. Maka dari itu, di tangan penebar kesesatan, kekayaan menjadi sarana pemurtadan. Lemahnya iman dan kurangnya pemahaman Islam angat rentan terhadap iming-iming harta. Buktinya, ada di antara saudara-saudara kita korban bencana merapi yang karena uluran tangan missionaris, mereka berganti keyakinan. Sebaliknya, di tangan orang shalih, kekayaan akan menjadi pintu hidayah, penguat keyakinan dan kebaikan dunia akhirat.

Kuncinya adalah kelapangan hati untuk berderma di jalan Allah. Rasulullah saw bersabda:

نِعْمَ الْمَالُ الصَّالِحُ لِلْمَرْءِ الصَّالِحِ

“Sebaik-baik harta yang shalih adalah yang berada di tangan orang yang shalih” (Hr. Ahmad; Shahih).

Muslim yang dermawan itu dekat dengan Allah, dekat dengan manusia, dekat dengan surga dan jauh dari apa neraka. Anas meriwayatkan bahwa seorang laki-laki datang kepada rasulullah saw, lalu beliau memberinya kambing yang memenui lembah di antara dua bukit. Maka ia mendatangi kaumnya dan mengatakan “Ayo masuk Islam…! Sesungguhnya Muhammad saw kalau memberi tidak takut miskin”. Anas menuturkan “Seseorang datang kepada rasulullah saw hanya ingin mendapatkan dunia. Sore harinya, ia telah manjdi orang yang lebih menyintai agama Islamnya dibanding dunia seisinya”. (Shahih Ibnu Hibban).

Setelah fathu Makkah, Shafwan bin Umayyah termasuk orang kafir yang minta diberi kebebasan tinggal di Makkah selama dua bulan. Nabi mengabulkan, bahkan memberinya waktu empat bulan. Selanjutnya Nabi menghadapi perang Hunain dan Thaif, beliau meminjam 100 pedang lengkap dengan baju perangnya kepada Shafwan. Sahfan pun ikut perang di barisan kaum muslimin bersama Nabi.

Allah memberi kemenangan, dan banyak ghanimah (harta pampasan) yang diperoleh kaum muslimin. Dalam perjalanan pulang, sampai di Ji’ranah, Shafwan mengamati ternak yang memenuhi lorong diantara dua gunung. “Engkau menyukainya?” tanya nabi. Shafwan menjawab “Ya”. “Semua ternak yang ada di lorong gunung itu untuk kamu” kata Nabi. Shafwan lalu menyatakan: “Hanya seorang Nabi yang rela memberikan kekayaan sebanyak ini. Aku bersaksi tidak ada tuhan selain Allah, dan Muhammad adalah hamba Allah dan utusanNya”. Di tempat itu pula ia menyatakan keislamannya. (Kanzul-‘ummal).

  1. Nyatakan Simpati

Di samping bahasa hati dan sikap, bahasa verbal atau bahasa lisan tetap diperlukan. Bagi orang yang belum memahami niat baik yang kita tunjukkan dalam sikap, ia akan menjadi faham dengan pernyatan kalimat. Bagi yang sudah faham, pernyataan akan menjadi pengokoh yang menguatkan. Beritahukan bahwa ia mempunyai tempat tersendiri di hati kita.

Kita katakan, umpamanya “Aku senang bisa bersahabat dengan Anda”, “Kita menjadi bersaudara karena Allah”, “Aku sangat berbahagia dengan keislaman Anda”, atau “Aku mencintai Anda karena Allah”. Rasulullah saw bersabda:

إِذَا أَحَبَّ أَحَدُكُمْ أَخَاهُ فَلْيُعْلِمْهُ إِيَّاهُ

“Apabila seseorang di antara kalian mencintai saudaranya, maka beritahukanlah hal itu kepadanya” (Hr. Tirmidzi; Shahih).

Alangkah indahnya hidup saling menyintai karena Allah. Dan alangkah kekalnya persahabatan yang dibangun di atas ketaqwaan kepada Allah. Itulah kawan abadi. Allah berfirman:

الْأَخِلَّاءُ يَوْمَئِذٍ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ إِلَّا الْمُتَّقِينَ

“Teman-teman akrab pada hari (akhirat) itu, sebagiannya menjadi musuh bagi sebagian yang lain, kecuali orang-orang yang bertakwa”. (Qs. Az-zukhruf/43: 67)

Pembaca yang mulia, aku mencintaimu karena Allah.

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...
Avatar
Pengasuh Pesantren Nurul Ihsan, Cilacap (Menyiapkan dai hafizh dan mandiri). Alumni LIPIA S1 Syariah, 1991. Penulis buku "Diary Perjalanan Haji", "99 Cahaya Kebajikan".

Lihat Juga

Dakwah Islam Kewajiban Semua Muslim

Organization