Home / Keluarga / Pendidikan Anak / Orang Tua yang “Bisu”

Orang Tua yang “Bisu”

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (inet)
Ilustrasi. (inet)

dakwatuna.com – Masihkah kita para ayah mau mengusap anak kita saat dia sedang gelisah? Masihkah saat ini para ayah mau membentangkan tangan untuk merangkul anak laki-lakinya dan menenangkan risau hatinya? Masihkan sekarang para ibu mau berpayah-payah mendampingi dan bersabar mendengar celoteh dan kegalauan hati anak-anak perempuannya? Atau para ayah sekarang sudah tidak lagi menjadi orang tua bagi anak-anaknya namun para ayah telah menjadi “serdadu” yang kejam dan tak kenal kompromi dalam perintah, yang didengar oleh anak hanyalah khutbah yang sudah anak hafal susunan kata-katanya atau para ibu kini telah berubah menjadi sosok yang menakutkan bagi anak perempuannya karena yang dia dengar saat mereka di rumah hanyalah suara biola yang salah kesek, menjerit tak jelas not nadanya membuat gendang telinga sakit mendengarnya.

Mari kita ingat kembali pesan dalam Alquran baik yang tersurat maupun yang masih bersifat tersirat tentang betapa pentingnya peran kedua orang tua dalam pendidikan anaknya. Banyak penulis di berbagai macam media yang saling menyalahkan. Ketika yang menulis adalah seorang ibu dia akan menyalahkan para ayah karena ketidakhadiran para ayah dalam pendidikan anak, teringat kami akan perkataan Muhammad Faudzil Adzim, penulis buku Best Seller Segengam Iman Anak Kita “ibu yang seperti ini sebenarnya sedang melampiaskan kejengkelen hatinya terhadap suaminya” atau sebaliknya jika yang menulis adalah seorang ayah dia juga akan menyalahkan kaum ibu. Jadi siapakah yang bersalah atas semua yang terjadi dan siapakah yang memegang peranan penting dalam pendidikan dan kehidupan anak-anak? tentu saja kedua orang tuanyalah yang bersalah karena kedua orang tua memiliki peranan yang sama penting bagi anak. Ummahatu madrasatul ula tidak ditafsirkan hanya sebatas ibu adalah madrasah pertama bagi anak-anaknya namun lebih dari itu yaitu “keluarga” adalah sekolah pertama bagi anak-anak, karena keluargalah yang pertama anak kenal dan anak tiru, keluarga adalah yang di dalamnya terdiri dari ayah, ibu dan anak. Peran ayah dan ibu sangatlah penting bagi kehidupan anak-anaknya. Jadi saya pikir tidak adil jika ada yang saling menyalahkan dan melempar tanggung jawab atas kesalahan pola didik yang terjadi pada anak karena ayah dan ibu sama-sama memiliki posisi yang sangat penting bagi anak.

Banyak orang tua yang telah “bisu” kepada anak-anaknya. Banyak para ayah yang tidak lagi pandai mengatakan kata-kata menenangkan kepada anak-anaknya mungkin para ayah sudah lupa betapa sahdunya kata-kata seorang ayah yang mampu menenangkan tangisan anak-anaknya ketika terjatuh saat bermain, pun para ibu tidak pandai lagi bersabar dan bertutur mutiara layaknya ketika anak masih kecil, sehingga rumah tidak lagi menjadi surga bagi anak. Rumah bagi anak justru seperti sebuah pengadilan dan anak manjadi tertuduh semua yang ada di rumah menyalahkan dan menyudutkan dirinya.

Betapa banyak anak-anak yang akhirnya terjatuh ke dalam masalah buruk karena kebisuan orang tuanya dalam bertutur kata dan “bisu” dari bermusyawarah tentang akibat buruk dari perbuatan anak, kebanyakan dari orang tua membisu dan selalu menyalahkan anak. Alih-alih karena rasa cinta kepada anak lantas orang tua membiarkan anak lepas kendali dan membiarkankan mereka berbuat sekena hati mereka atau sebaliknya karena alasan bersikap tegas kepada anak justru orang tua kehilangan kelembutan kepada anak, orang tua justru bukan bersikap tegas tetapi keras dan kasar bagaikan serdadu pada anak sehingga anak memilih menutup diri kepada orang tuannya dan lebih memilih curhat di Facebook atau kepada pacarnya. Selayaknya orang tua menyalahkan dan mencela diri mereka sebelum mencela perbuatan buruk anak-anaknya karena semua perbuatan anak adalah akibat dari ketidaktahuanmereka atau karena kekesalan mereka terhadap orang tuanya.

Wahai para ayah Begitu sulitkah bagimu untuk mengeluarkan kata “Nak hari ini ayah kangen sama kamu”? Begitu sulitkah memeluk anak laki-lakimu? Begitu sulitkah bagimu memberikan penjelasan kepada anak perempuanmu kenapa ayahnya pulang larut malam dari pekerjaan? Hal ini mungkin tidak berarti apa-apa bagi kita selaku orang tua, namun bagi anak ini adalah kata-kata yang menunjukkan bahwa dia belum menjadi yatim, dia ternyata masih memiliki ayah yang sangat mencintainya kepadanya dia lebih pantas mencurahkan kegalauan hatinya dari pada kepada pasangan haramnya atau menuliskan kegalauan hatinya di status facebooknya. Wahai para orang tua jika anda ingin tahu siapa anak-anakmu maka lihatlah nanti siapa pasangannya, bisa jadi anak perempuan kita nanti memilih jodoh lantaran kebencian hatinya kepada sosok ayahnya, lihatlah istri dari anak laki-lakimu. Bisa jadi dia memilih jodohnya karena dia menaruh dendam kepada ibunya. Wahai para orang tua jangan menjadi orang tua yang “Bisu” , jangan menjadi serdadu bagi anak-anakmu dan rumah engkau jadikan seperti barak militer.

Mulailah bebenah, tidak perlu saling menyalahkan. Mulai saat ini bermusyawarah dengan pasangan untuk menyamakan konsep pendidikan anak-anak, dengan anak-anak kita tentang segala hal karena kebanyakan orang tualah yang sebenarnya menjadi akar persoalan. Ketika anak sudah masuk pada fase tiga tahun kedua anak berhak mengetahui segala yang menyangkut masa depannya.

Semoga tulisan kami selaku seorang yang baru belajar menjadi ayah ini bisa bermanfaat bagi kita semua terutama para orang tua. Selamat menjadi orang tua sholeh…

 

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...

Lihat Juga

Perlukah Orang Tua Mengantar ke Sekolah?

Organization