Topic
Home / Berita / Opini / Investasi Asing, Penjajahan Atau Peluang?

Investasi Asing, Penjajahan Atau Peluang?

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
ilustrasi-dolar-yuan (financesonline.com)
ilustrasi-dolar vs yuan (financesonline.com)

dakwatuna .com – Lazim kita jumpai akhir-akhir ini, rezim pemerintah ini sangat menggalakkan investasi. Ya, untuk menyehatkan perekonomian dan dengan alasan meningkatkan kesejahteraan maka investasi asing digenjot di dalam negeri. Dengan investasi, maka diharapkan lapangan pekerjaan akan semakin terbuka sehingga rakyat kembali memiliki kemampuan untuk memenuhi kebutuhannya.

Sebagai salah satu contoh, akhir-akhir ini santer kita saksikan adanya isu tentang regulasi terkait mendorong investasi yang menyentuh industri minuman keras (Miras). Presiden Joko Widodo (Jokowi) sudah mengumumkan paket kebijakan ekonomi tahap I September 2015, yang dimana berisi 134 aturan yang deregulasi. Aturan ini salah satunya Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 6/M-DAG/PER/1/2015 tentang Pelaksanaan Pengendalian Peredaran dan Penjualan Minuman Beralkohol Golongan A.

Peraturan Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri (Dirjen Dagri) Nomor 04/PDN/PER/4/2015 yang melaksanakan Peraturan Menteri Perdagangan No.6/M-DAG/PER/1/2015 tentang perubahan kedua atas Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 20/M-DAG/PER/4/2014 tentang Pengendalian dan Pengawasan terhadap Pengadaan, Peredaran dan Perizinan Minuman Beralkohol untuk menegaskan kembali peran Pemerintah Daerah (Pemda) dalam pengaturan penjualan minuman beralkohol golongan A di wilayah masing-masing dan mendefinisikan secara rinci pengertian tempat penjualan eceran lainnya.

Seperti dikutip Okezone dalam daftar Kebijakan Deregulasi September 2015, Jakarta, Senin (14/9/2015), aturan ini kembali ‘membebaskan’ peredaran minuman alkohol walaupun masih ada peran pemerintah daerah (pemda) untuk mengaturnya. Hal ini menunjukkan betapa demi mengundang investasi, maka policy yang ditentang banyak pihak di dalam negeri pun akan digulirkan.

Kenapa investasi begitu didorong? Karena upaya investasi berupa upaya komersialisasi kapital yang akan menghasilkan nilai tambah dalam bentuk entitas komersial ini akan menghasilkan nilai tambah berupa manfaat yang dapat dinikmati oleh pelakunya termasuk pula pelaku lain. Apabila di suatu daerah berdiri industri mebel rotan yang memiliki performa bisnis yang bagus, niscaya masyarakat akan dapat menikmati manfaatnya. Baik mereka yang menjadi pemilik usaha mebel rotan, karyawan di sana ataupun pelaku bisnis lain yang memiliki ikatan bisnis dengan industri ini. Lantas, bagaimana dengan investasi asing? Apakah ia bermanfaat bagi rakyat ini?

Dari 3 aktor pelaku suatu rantai nilai industri, terdapat 3 macam aktor ketika menilik dari perspektif perpindahan harta yaitu: pemilik bisnis (owner), karyawan dan pemilik bisnis lain. Investasi asing berarti mendorong pemilik bisnis asing yang berasal dari luar negeri untuk hadir dan mendirikan bisnis di negeri ini. Tampaknya, semua baik-baik saja. Walau sebenarnya ada suatu hal yang kurang menguntungkan bagi rakyat negeri ini.

Secara sederhana, perpindahan harta itu dibagi menjadi 2 yaitu perpindahan kepemilikan (al milkiyah) dengan pemanfaatan harta (tasharruf al milkiyah). Harta boleh jadi berpindah namun tidak diiringi perpindahan kepemilikannya. Contohnya adalah akad utang (al qardh al hasan). Pun juga harta telah mengalami perpindahan posisi namun tak diikuti dengan perpindahan kepemilikan. Contohnya adalah harta waris yang telah dibagikan yang pengelolaannya sama seperti sebelum diwariskan.

Secara lebih sederhana lagi, pertukaran harta dan barang/jasa akan melahirkan pemahaman akan 3 macam model perpindahan disertai dengan aspek resiko. Seseorang mengalokasikan dirinya dan aset yang ia miliki untuk meraih nilai tambah yang populer disebut laba. Jangan tanya resikonya. Bila gagal, ia akan kehilangan investasi berupa dirinya (waktu, pikiran, tenaga, dll…) dan asetnya. Namun jangan ditanya bagaimana gembiranya ketika sukses. Apa yang ia investasikan itu akan kembali utuh dan bernilai tambah dalam bentuk laba. Orang ini adalah business owner. Perpindahan kepemilikan harta yang signifikan baginya adalah laba.

Seseorang lain mengalokasikan dirinya namun tanpa aset riil yang dimilikinya. Tak perlu ia menginvestasikan uangnya, rumahnya dan aset lainnya pada sesuatu yang berresiko. Hampir tiada resiko dialaminya. Karena ia tak akan kehilangan sia-sia dirinya dan asetnya. Bahkan ia tak memerlukan adanya aset untuk memperoleh perpindahan kepemilikan harta yang diincarnya. Orang macam ini adalah karyawan. Dan perpindahan kepemilikan harta yang signifikan baginya adalah upah.

Orang ketiga ini tak perlu mengalokasikan dirinya untuk suatu kegiatan bisnis di suatu industri yang spesifik. Bahkan tak perlu ia menginvestasikan aset yang dimilikinya. Yang berarti tak ada resiko ia kehilangan aset yang dimilikinya. Cukup ia menawarkan asset yang telah ia miliki kepada pihak yang membutuhkan. Perpindahan kepemilikan harta yang signifikan baginya adalah berupa uang sewa.

Bila kita lihat, secara sederhana dapat ditarik kesimpulan dengan menggunakan adagium “More risk, more profit”, model orang yang akan menerima perpindahan kepemilikan harta yang paling besar adalah business owner dalam bentuk laba. Bahkan, dalam industri tertentu terdapat kesenjangan yang besar antara laba yang diperoleh business owner dengan upah yang diterima para karyawan dan sewa yang diterima oleh penyewa dalam mekanisme bisnisnya.

Dengan mendorong investasi asing dan tidak menyiapkan investasi dalam negeri dengan baik sama dengan membiarkan porsi pertambahan nilai terbesar lari kepada pihak asing melalui mekanisme perpindahan kepemilikan harta dengan model laba tadi. Rakyat hanya akan memperoleh upah dan sewa. Apalagi bila tidak ada regulasi yang mengatur tentang dimana dana asing yang dipakai tersebut harus “diparkir”. Maka tanah, air dan manusia di negeri ini akan dimanfaatkan secara sangat signifikan oleh para business owner asing itu.

Apalagi jika industri yang disodorkan kepada pihak asing adalah industri di sektor primer ekonomi negeri ini seperti: pangan, energi dan air. Dimana produk akhir yang akan dibeli oleh rakyat negeri ini adalah produk pokok. Ibaratnya, mau dijual dengan bungkus apapun tetap laku!

Jika digunakan isu ketergantungan dan kemandirian dalam mengulas fenomena ini maka semakin “dimanjakan” para investor asing, maka semakin tergantung rakyat dan mungkin pemerintah padanya. Pressure atau lobi akan dapat dilakukan oleh para business owner ini kepada pemerintah atau kelompok masyarakat untuk kepentingan mereka.

Bahkan dalam politik ekonomi Islam, ketahanan pada sektor pokok dalam sistem Islam tidak terlepas dari sistem politik Islam yaitu jaminan pemenuhan semua kebutuhan primer (kebutuhan pokok bagi individu dan kebutuhan dasar bagi masyarakat) setiap orang individu per individu secara menyeluruh, berikut jaminan kemungkinan bagi setiap orang untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan sekunder dan tersiernya, sesuai dengan kadar kesanggupannya sebagai individu yang hidup dalam masyarakat yang memiliki gaya hidup tertentu.

“Menjual diri” kepada investor asing bukanlah satu-satunya kebijakan yang tepat. Republik Rakyat Tiongkok (RRT) menjadi maju dengan cara ini. Namun perlu kita lihat, seperti apa policy RRT dalam mewujudkan industri dalam negeri yang perlahan-lahan akan menuju substitusi import? Ya….yaitu ketika barang dan jasa yang diimpor atau dibuat di dalam negeri oleh pihak asing secara perlahan namun pasti akan dapat diproduksi sendiri.

Solusi terbaik adalah pemerintah tak hanya sekadar memohon-mohon kepada pihak asing saja untuk membuka bisnis di dalam negeri. Juga harus dilakukan upaya yang “lebih melayani” kepada calon investor-investor dalam negeri. Apabila investor asing begitu dimanja, tentu investor dalam negeri harus lebih dimanja supaya mereka bisa masuk ke dalam industri ini dan perlahan namun pasti memenangkan persaingan.

Ketergantungan pada impor atau pada pemilik bisnis asing bisa membuka jalan pengaruh asing terhadap politik, kestabilan dan sikap negara. Dua kondisi tersebut juga berpengaruh pada stabilitas ekonomi dan moneter, bahkan bisa menjadi pemicu krisis. Akibatnya stabilitas dan ketahanan negara bahkan eksistensi negara sebagai negara yang independen, secara keseluruhan bisa menjadi taruhan.

Selain itu, policy yang mendorong perpindahan pengetahuan dari investor asing ke pihak-pihak dalam negeri harus didukung. Dengan demikian, perlahan namun pasti pendekatan substitusi import atau persaingan dengan industri asing di dalam negeri akan dapat dilakukan. (hatma/dakwatuna)

 

Redaktur: Samin Barkah

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...
Avatar
Tenaga ahli untuk business sustainability and locak-regional economic development. Saat ini Hatma sedang berkarya di suatu perusahaan minyak & gas nasional untuk mengelola: CSR, social engineering dan keberlanjutan bisnis (business sustainability) di aset-aset milik perusahaan tersebut. Dengan latar belakang Teknologi Pertanian (UGM) dan Magister Teknik Industri (UII), Hatma yang sedang menempuh pendidikan Ekonomi Islam di IOU (Qatar) ini mendapatkan pengakuan sebagai tenaga ahli di bidang Regional Economic Development dari pemerintah Jerman di 2010. Mengkonsentrasikan diri pada isu tentang business sustainability melalui pendekatan social engineering dan community development, pelbagai pelatihan dan sertifikasi baik di level nasional dan internasional telah diikutinya.

Lihat Juga

Manipulasi Esemka

Figure
Organization