Home / Berita / Nasional / Frans Magniz: Jokowi Ideologinya Hanya di Mulut

Frans Magniz: Jokowi Ideologinya Hanya di Mulut

Presiden Joko Widodo (tengah) didampingi sejumlah Menteri Kabinet Kerja bidang perekonomian dan Pimpinan lembaga keuangan saat konferensi Pers Paket Kebijakan Ekonomi di Istana Merdeka, Jakarta, 9 Seprember 2015. (Tempo/ Aditia Noviansyah)
Presiden Joko Widodo (tengah) didampingi sejumlah Menteri Kabinet Kerja bidang perekonomian dan Pimpinan lembaga keuangan saat konferensi Pers Paket Kebijakan Ekonomi di Istana Merdeka, Jakarta, 9 Seprember 2015. (Tempo/ Aditia Noviansyah)

dakwatuna.com – Jakarta.  Kritik terhadap sosok Joko Widodo sebagai Presiden datang dari Budayawan Frans Magniz Suseno yang menilai Jokowi sebagai pemimpin yang senang mengeluarkan slogan-slogan ideologis. Namun, pada saat bersamaan, Jokowi tidak memiliki pijakan ideologi yang jelas dalam menerapkan kebijakan ekonomi dan politik.

“Saya kira ideologinya (hanya) di mulut. Pemerintah sangat slogalistik,” Frans saat peluncuran dan bedah buku “Bersatu, Lawan, Menang: Jalan Pembebasan Indonesia” di kampus Universitas Indonesia Salemba, sebagaimana dilansir republika.co.id Selasa (15/9/15).

Pria kelahiran Jerman 79 tahun silam ini melihat Jokowi terlalu banyak beretorika. Slogan-slogan seperti nawacita dan trisakti hanya jargon yang sampai saat ini belum diterapkan.

“Saya belum melihat kebijakan politik ekonomi yang jelas. Garis nawacita dan trisakti bagi saya kosong. Kemandirian ekonomi hanya retorika,” ujar Frans.

Kendati begitu Frans mengaku masih memegang harapan kepada Jokowi. Menurut dia, pengamatannya saat ini Jokowi tengah berupaya membangun basis kekuasaan yang sejalan dengan cita-cita kampanye.
“Saya kira masih ada harapan untuk kita kepadanya,” ujar peraih penghargaan Bintang Maha Putera Utama dari Jokowi ini.

Pemuda harus menjadi kunci jawaban atas karut-marut persoalan bangsa hari ini. Frans mengatakan Indonesia butuh generasi muda yang tidak hanya sibuk berfokus pada karier. Indonesia, tambahnya, butuh generasi muda yang mau menggerakan hatinya untuk memajukan bangsa.

“Ikut memperbaiki,” ujarnya.

Frans juga menyerukan agar rakyat Indonesia, khususnya generasi muda, melawan segala upaya pemerintah yang bertendensi membungkam kebebasan berbicara. Menurut dia, kebebasan berbicara dan mengkritik merupakan buah reformasi yang mesti dirawat.

“Sangat penting mempertahankan kebebasan berpendapat, mengkritik, dan menyampaikan yang jelek-jelek. Saat ini ada tendensi mengkriminalisasi orang yang mengkritik, saya kira ini harus kita lawan,” paparnya.

Beberapa waktu yang lalau, Presiden Joko Widodo meluncurkan tiga paket kebijakan ekonomi untuk merespons kondisi ekonomi global yang berpengaruh pada ekonomi Indonesia.

“Kami telah melakukan langkah-langkah, tapi langkah tersebut belum cukup sehingga pemerintah meluncurkan paket kebijakan tahap I September 2015,” kata Jokowi saat mengumumkan paket kebijakan di Istana Merdeka, Rabu, 9 September 2015, dikutip dari tempo.co.

Tiga paket kebijakan tersebut adalah pertama, mendorong daya saing industri nasional melalui deregulasi, debirokratisasi, penegakan hukum dan peningkatan kepastian usaha. “Ada 79 aturan yang dirombak dari 154 yang masuk sehingga ini bisa menghilangkan duplikasi dan memangkas aturan yang menghambat daya saing,” kata Jokowi.

Selain itu, pemerintah juga menyiapkan sejumlah peraturan presiden, keputusan menteri untuk mempercepat birokrasi. Penyederhanaan izin, penguatan sinergi dan peningkatan kualitas pelayanan masyarakat juga menjadi fokus dalam poin pertama paket kebijakan.

Poin kedua dalam paket kebijakan yaitu mempercepat implementasi proyek strategis nasional dengan menghilangkan hambatan yang ada, menyederhanakan izin, mempercepat pengadaan barang serta memperkuat peran kepala daerah untuk mendukung program strategis itu.

Ketiga, pemerintah akan meningkatkan investasi di sektor properti. Pemerintah, kata Jokowi, akan mengeluarkan kebijakan untuk pembangunan rumah bagi masyarakat berpenghasilan rendah dan membuka peluang investasi di sektor ini sebesar-besarnya. (sbb/dakwatuna)

Redaktur: Saiful Bahri

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...

Tentang

Saiful Bahri
Lahir dan besar di Jakarta, Ayah dari 5 orang Anak yang hobi Membaca dan Olah Raga. Setelah berpetualang di dunia kerja, panggilan jiwa membawanya menekuni dunia membaca dan menulis.

Lihat Juga

APPERTI Tolak Perguruan Tinggi Asing di Indonesia