Topic
Home / Berita / Opini / Pelemahan Ekspor di Tengah Depresiasi Rupiah, Kok Bisa?

Pelemahan Ekspor di Tengah Depresiasi Rupiah, Kok Bisa?

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (primaradio.co.id)
Ilustrasi. (primaradio.co.id)

dakwatuna.com – Pelemahan nilai tukar rupiah tidak melulu bencana, tapi bisa juga menjadi berkah terutama bagi para eksportir. Harga barang Indonesia akan terlihat lebih murah dengan pelemahan nilai rupiah. Dengan begitu masyarakat luar negeri akan cenderung menambah belanja impornya dari Indonesia. Sehingga wajar jika kemudian Pemerintah, baik Presiden dan Menteri Keuangan, mengungkapkan bahwa pelemahan nilai tukar rupiah ini bisa menggenjot laju ekspor yang nantinya diharapkan mampu mendorong pertumbuhan ekonomi kita.

Pada kenyataannya, data ekspor kita menunjukkan tren penurunan dalam beberapa tahun terakhir. Data ekspor yang dikeluarkan BPS bahkan menunjukkan, pada Juli 2015 terjadi penurunan ekspor sebesar 15,53% dibandingkan bulan sebelumnya. Jika dibandingkan dengan Juli 2014, penurunan tersebut bahkan mencapai 19,23%. Kenapa bisa begitu? Bukankah rupiah sudah melemah sehingga barang-barang produksi kita terlihat lebih murah?

Setidaknya ada dua alasan yang melatarbelakangi hal tersebut. Pertama, kita harus lihat bahwa ternyata banyak barang modal penunjang produksi yang akan diekspor berasal dari impor. Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar menjadikan harga barang impor menjadi lebih mahal. Hal itu membuat para pelaku industri terpaksa mengurangi impor, sekalipun yang dikurangi merupakan barang modal. Penurunan barang modal tentu saja menjadikan produksi juga ikut turun, sehingga ekspor pun menurun.

Menariknya, jika kita cek data neraca perdagangan, kita akan melihat bahwa dalam beberapa bulan terakhir, Indonesia selalu mengalami surplus. Bahkan pada Juli 2015, Indonesia mencatatkan surplus tertinggi dalam 19 bulan terakhir yaitu sebesar 1,33 miliar dolar AS. Pada awalnya itu terlihat mencengangkan dan sangat menggembirakan di tengah kondisi perlambatan ekonomi saat ini. Namun jika kita cek lebih dalam, ternyata surplus tersebut terjadi bukan karena peningkatan ekspor yang signifikan. Sebagaimana sudah disebutkan sebelumnya, ekspor kita mengalami tren penurunan, termasuk di bulan Juli 2015. Yang ternyata terjadi adalah penurunan impor yang lebih dalam dibandingkan penurunan ekspor. Jika nilai ekspor kita sebesar 11,41 miliar dolar AS dan hanya turun sebesar 15,53%, nilai impor tercatat rendah yaitu sebesar 10,08 miliar dolar AS dengan penurunan dibanding bulan sebelumnya (Juni 2015) mencapai 22,36%.

Yang lebih mengkhawatirkan, penurunan impor itu ternyata banyak berasal dari impor bahan baku dan barang modal. Pada Juli 2015, penurunan terbesar tercatat berasal dari golongan mesin dan peralatan mekanik, yaitu sebesar 23,61%. Sementara jika kita rentangkan dari Januari hingga data terakhir yaitu di Bulan Juli, nilai impor bahan baku selama periode tersebut tercatat mengalami penurunan sebesar  20,45% dan nilai impor barang modal mengalami penurunan sebesar 15,66%. Apa yang bisa kita tangkap dari data tersebut? Sederhana saja, yaitu Indonesia akan mengalami perlambatan produksi akibat sedikitnya barang baku dan barang modal yang kita miliki. Dan dengan begitu, perlambatan ekspor belum akan berhenti di sini. Kita mungkin akan mengalami penurunan ekspor yang makin dalam.

Alasan kedua mengapa ekspor kita tidak tumbuh di tengah depresiasi rupiah adalah karena negara mitra kita juga sedang mengalami perlambatan ekonomi. Sebagaimana kita ketahui, ekspor kita banyak tertuju pada negara-negara besar seperti Cina dan Amerika Serikat. Amerika Serikat kita tahu baru saja keluar dari resesi yang menimpa mereka sejak tahun 2014. Pertumbuhan mereka bahkan sempat mencapai -0,9% di awal tahun 2014 hingga kemudian membaik di pertengahan tahun namun kembali melambat dan mencapai 0,6% (q-on-q) di awal tahun 2015 kemarin. Pertumbuhan year on year Amerika juga masih berusaha mencapai angka 3%. Sementara Cina bahkan sedang mengalami “tahun-tahun gelap” di mana pertumbuhan mereka terus merosot. Kini bahkan para ekonom memprediksi Cina tidak akan bisa mencapai 7% untuk pertumbuhan mereka, dan merupakan yang terendah bagi Cina dalam kurun 20 tahun terakhir. 7% memang masih terbesar di dunia, namun bagi Cina yang penduduknya mencapai 1,3 miliar, itu tentu merupakan sebuah petaka dan akan berdampak pada tingginya tingkat pengangguran. Dengan kondisi yang seperti itu, wajar kalau nilai impor mereka kemudian turun drastis, yang berdampak pada penurunan nilai ekspor Indonesia.

Setidaknya dengan dua alasan itu, tak usah heran jika kemudian kita melihat ekspor justru semakin melemah di tengah depresiasi rupiah. Keadaan sekarang juga berbeda dengan keadaan ketika krisis ekonomi 1998. Pada waktu itu kita memang mengalami krisis, namun negara mitra dagang kita sedang baik-baik saja sehingga wajar jika kemudian pertumbuhan ekonomi bisa meroket tiba-tiba akibat pertumbuhan laju ekspor yang signifikan. Adapun sekarang, pertama, kita kesulitan untuk produksi karena harga barang modal naik. Kedua, pun kita bisa memperbanyak produksi, hendak kita jual ke siapa barang-barang produksi kita?

Sekalipun begitu, jangan jadi orang yang panik. Sebab yang lahir dari kepanikan adalah kepanikan berikutnya. Sebagai muslim kita ingat-ingat saja firman Allah SWT dalam surat Al-Insyiroh: Inna ma’al ‘usri yusro. Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan. Alam pun telah mengajarkan kita sebuah pelajaran: selepas kemarau panjang, akan datang musim penghujan. Di balik krisis, semoga tetap banyak keberkahan. Salam.

Sumber:

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...
Avatar
Mahasiswa Ilmu Ekonomi, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia. Tertarik pada Ekonomi Internasional. Ketua Umum Forkoma UI Banten dan merupakan Santri Pesantren Mahasiswa Yayasan Keluarga Muslim FEB UI

Lihat Juga

Iran Ancam Tutup Selat Hormuz, Amerika Serikat Murka

Figure
Organization