Topic
Home / Berita / Silaturahim / Potret Orang-Orang Susah di Tengah Ancaman Paceklik Sosial

Potret Orang-Orang Susah di Tengah Ancaman Paceklik Sosial

Bedah novel "Rumah di Tengah Sawah" karya Muhammad Subhan, Ahad (6/9) di aula SMP Negeri 2 Padangpanjang. (IST/FAM)
Bedah novel “Rumah di Tengah Sawah” karya Muhammad Subhan, Ahad (6/9) di aula SMP Negeri 2 Padangpanjang. (IST/FAM)

dakwatuna.com – Padangpanjang.  Persoalan hidup manusia yang paling banyak mendapatkan tekanan adalah kaum miskin. Mereka selalu dibuat aturan atau undang-undang yang cenderung merugikan masyarakat kelas bawah.

“Dalam novel Rumah di Tengah Sawah diceritakan tentang sebuah pemukiman yang tergusur karena sikap egois oknum. Dengan alasan rumah orang-orang susah itu tidak ada IMB, dan itu alasan yang dicari-cari. Yang sebenarnya mereka ingin mengusir si miskin untuk menambah kantong-kantong kekayaan si kaya lalu mendirikan Mall atau Plaza,” ujar Dra. Lili Asnita, salah seorang narasumber yang membedah novel “Rumah di Tengah Sawah” karya Muhammad Subhan, Ahad (6/9/15), di aula SMP Negeri 2 Padangpanjang.

Tampil pembicara lainnya, Drs. Irzen Hawer, novelis asal Kota Padangpanjang, yang juga membedah novel itu. Acara diikuti 200-an peserta yang terdiri dari kalangan pelajar, mahasiswa, dan guru se-Sumatra Barat.

Menurut Lili Asnita, penggusuran pemukiman di “Rumah di Tengah Sawah” mendapat perlawanan pemilik rumah, namun mereka tidak berdaya. Salah seorang tokoh, Bondan, bocah usia enam tahun yang bercita-cita menjadi dokter, tidak terima rumahnya digusur.

“Bondan berteriak dan mengatakan, ‘Tunggu nanti kalau saya sudah besar akan membalas perbuatan kalian!’. Sebuah intimidasi, ketamakan, keegoisan dan ketidakpedulian oknum-oknum aparat membuat seorang anak kecil mampu berontak,” kata Lili Asnita yang juga penulis sejumlah buku.

Dia menyebutkan, selain mengandung nilai-nilai karakter, novel “Rumah di Tengah Sawah” adalah potret kekinian terhadap fenomena penggusuran rumah dan lahan orang-orang susah yang banyak terjadi di sudut-sudut kota.

“Walau latar cerita di tahun 1980-an, namun realitas sosial yang ditulis pengarang adalah realitas kekinian, dan peristiwa serupa hampir setiap hari kita baca di media massa” kata Lili Asnita yang juga Guru Bahasa dan Sastra Indonesia SMA Negeri 4 Bukittinggi.

Sementara menurut Irzen Hawer, studi ekstrinsik yang menonjol dalam novel “Rumah di Tengah Sawah” adalah unsur pendidikan dan unsur sosial. “Kesulitan untuk meraih impian dalam jalur pendidikan sedang trend pada beberapa novel pengarang Indonesia di satu dekade akhir-akhir ini,” kata Irzen Hawer yang juga penulis sejumlah novel.

Dia mengungkapkan, gesekan sosial dengan tetangga akibat tekanan ekonomi di dalam novel “Rumah di Tengah Sawah”, yang berlanjut keributan ayah Agam (tokoh utama) dengan ayah Anton tetangganya terpicu oleh hal sepele lalu memunculkan tokoh Agam, Bondan dan Anton sebagai penyelamat dan pahlawan konflik orangtua mereka.

“Apa yang dilakukan Agam, Bondan, Anton, wajib ditiru dan diteladani anak-anak Indonesia sekarang, kalau kita tak ingin bangsa ini ke depannya mengalami “paceklik sosial”,” ujar Irzen Hawer yang juga guru Bahasa dan Sastra Indonesia SMA Negeri 1 Batipuh, Tanahdatar.

Meskipun demikian, baik Lili Asnita maupun Irzen Hawer sependapat, bahwa ending novel “Rumah di Tengah Sawah” menggantung dan berkemungkinan disengaja pengarang untuk mengundang rasa penasaran pembaca.

“Benar, sebab ‘Rumah di Tengah Sawah’ adalah novel trilogi, dan semoga tahun depan bisa terbit novel berikutnya,” ujar Muhammad Subhan, pengarang novel itu.

Bedah novel “Rumah di Tengah Sawah” terselenggara berkat kerjasama Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia dengan Majalah “Pita Biru” SMP Negeri 2 Padangpanjang dan Sanggar Seni Dunia Kita Padangpanjang.

Kepala SMP Negeri 2 Padangpanjang sekaligus Penasihat Majalah “Pita Biru”, Zulkifli, M.Pd., yang membuka acara itu memberikan apresiasi atas terbitnya novel “Rumah di Tengah Sawah”. Dia berharap, terbitnya novel tersebut dapat memicu anak-anak didik bahkan guru di sekolahnya untuk ikut berkarya.

“Bagi kami, Muhammad Subhan bukan orang asing, sebab sejak 2013 beliau membantu sekolah kami menerbitkan Majalah Siswa “Pita Biru” dan ikut andil mengembangkan minat dan bakat siswa di bidang tulis menulis, khususnya sastra,” tambah Zulkifli. (rel/sbb/dakwatuna)

Redaktur: Saiful Bahri

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...

Tentang

Saiful Bahri
Lahir dan besar di Jakarta, Ayah dari 5 orang Anak yang hobi Membaca dan Olah Raga. Setelah berpetualang di dunia kerja, panggilan jiwa membawanya menekuni dunia membaca dan menulis.

Lihat Juga

Sanlat for Executive RISKA Cetak Generasi Muslim Sejati

Figure
Organization