Topic
Home / Berita / Internasional / Eropa / Sejarawan Barat: Muhammad Tidak Menerima Wahyu dari Langit

Sejarawan Barat: Muhammad Tidak Menerima Wahyu dari Langit

 

Manuskrip Alquran
Manuskrip Alquran tertua di dunia. (merdeka.com)

dakwatuna.com – Jakarta.  Sejumlah sejarawan Barat mengatakan bahwa lembaran Alquran yang ditemukan di perpustakaan Universitas Birmingham, Inggris, bulan lalu, boleh jadi menyatakan kitab suci umat Islam itu sudah ada sebelum zaman Nabi Muhammad.

“Temuan ini bisa mengubah pandangan selama ini tentang bagaimana Alquran terbentuk. Dengan begitu ini bisa mengubah sejarah Muhammad dan para khalifah,” kata Sejarawan Tom Holland kepada koran the New York Times, seperti dilansir the Daily Mail, dikutip dari merdeka.com, Selasa (1/9/15).

Sejaran dari Universitas Oxford punya pendapat yang senada.

“Temuan ini bisa menjadi alasan tentang apa yang selama ini beredar soal terbentuknya Alquran. Misalnya, ternyata Muhammad dan para pengikutnya menggunakan teks Alquran yang sudah ada dan kemudian menyesuaikannya dengan kepentingan politik dan agenda mereka. Artinya Muhammad tidak menerima wahyu dari langit,” kata dia.

Pendapat para sejarawan barat tersebut didasarkan kepada temuan lembaran Alquran
yang diperkirakan berusia 1.448 tahun hingga 1.371 tahun.

Setelah diuji di Universitas Oxford, lembaran Alquran itu dinilai sebagai dokumen teks Alquran tertua yang pernah ada.

Analisa karbon menyatakan teks Alquran yang ditulis di atas kulit domba atau kambing itu berasal dari periode antara 568 Masehi hingga 645 Masehi, masa ketika Nabi Muhammad masih hidup. Tingkat akurasi analisa karbon itu mencapai 95,4 persen.

Manuskrip itu memuat ayat pada surat ke-18 hingga ke-20 kitab suci Alquran. Teks kitab suci itu ditulis dengan huruf Arab Hijaz.

Seperti diketahui, para ulama menyepakati hari kelahiran nabi adalah Senin 9 Rabiul Awal Tahun Gajah atau Tahun 53 sebelum Hijriah bertepatan dengan 20 April 571 Masehi.

Klaim dari sejarawan Barat itu dibantah keras oleh sarjana muslim bernama Mustafa Shah dari Pusat Studi Afrika dan Timur di London.

“Temuan manuskrip itu sejatinya membenarkan laporan asli tentang bentuk awal Alquran,” kata dia.

Menurut sejarah, Nabi Muhammad menerima wahyu pertama di Gua Hira pada 611 Masehi hingga beliau wafat pada 13 Rabiul Awal tahun 11 Hijriah atau 8 Juni 632 Masehi. Wahyu itu kemudian disampaikan dan disimpan dalam ingatan para sahabat serta ditulis di batu-batu, daun, punuk unta, kulit binatang, baru kemudian dibukukan pada zaman khalifah ketiga Utsman bin Affan.

Sementara itu, dikutip dari republika.co.id, Klaim universitas di Inggris tentang penemuan perkamen Alquran tersebut mendapat bantahan dari para sarjana Arab. Mereka menyangkal pernyataan bahwa Alquran dari Universitas Birmingham ditulis pada era Nabi Muhammad SAW.

“Tidak mungkin untuk memastikan bahwa perkamen ditulis di masa Nabi Muhammad SAW,” kata salah seorang sarjana Saudi Abdul Sattar Al Halouji seperti dikutip harian Makkah, Arabian Business pada Senin (27/7).

Selain menampik klaim Alquran tertua tersebut, Hallouj menyebut Birmingham tengah mencari perhatian publik semata. Untuk memperkuat argumennya, ia bersama para ahli tengah meneliti tinta yang digunakan dalam menulis bab-bab dari kitab suci tersebut.

Kulit binatang yang menjadi tempat teks Alquran ditulis tidak sama tuanya dengan yang diasumsikan peneliti. Tapi ini masih belum bisa membuktikan teks Alquran ditulis pada waktu sebagaimana yang diklaim Universitas Birmingham. (sbb/dakwatuna)

Redaktur: Saiful Bahri

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...

Tentang

Saiful Bahri
Lahir dan besar di Jakarta, Ayah dari 5 orang Anak yang hobi Membaca dan Olah Raga. Setelah berpetualang di dunia kerja, panggilan jiwa membawanya menekuni dunia membaca dan menulis.

Lihat Juga

Doa dan Munajat untuk Keselamatan Dalam Menghadapi Pandemi COVID-19

Figure
Organization