Home / Berita / Nasional / Menurut Jokowi, Konflik Korsel-Korut Jadi Salah Satu Penyebab Pertumbuhan Ekonomi Melambat

Menurut Jokowi, Konflik Korsel-Korut Jadi Salah Satu Penyebab Pertumbuhan Ekonomi Melambat

Presiden Jokowi
Presiden Joko Widodo memberikan gambaran makro ekonomi Indonesia dalam silaturahmi dengan dunia usaha di Jakarta Convention Center, Kamis (9/7/2015). (KOMPAS/HENDRA A SETYAWAN)

dakwatuna.com – Jakarta. Indonesia tengah menghadapi persoalan ekonomi yang kompleks. Pertumbuhan ekonomi yang melambat dan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika terus mengalami penurunan hingga angka Rp 14.000,- / USD.

Menurut Presiden Joko Widodo, perlambatan pertumbuhan ekonomi bukan hanya terjadi di Indonesia, namun secara global juga dialami negara-negara lain. Salah satu penyebabnya karena kembali memanasnya hubungan Korea Utara dan Korea Selatan.

“Perlambatan ekonomi yang terjadi saya tegaskan tidak hanya kita, tapi lebih berat tetangga-tetangga kita. ‎Sehari dua hari ini berpengaruh karena ramainya Korsel dan Korut,” ujar Jokowi di Istana Bogor, Senin (24/8/15) saat memberikan pengarahan di depan para gubernur, kapolda dan kajati, sebagaimana dikutip dari jpnn.com

Selain karena faktor hubungan dua negara itu, Jokowi juga mengatakan bahwa perlambatan juga terjadi karena krisis di Yunani, kenaikan suku bunga di Amerika Serikat dan adanya depresiasi Yuan.

“Karena itu, hal-hal tersebut perlu kita antisipasi bersama. Semuanya harus punya pemikiran yang sama, dan kepatuhan terhadap garis yang sama. Harus sama. Jangan sampai di luar garis,” tegas Jokowi.

Jokowi mengatakan, pertumbuhan ekonomi di Indonesia akan baik jika belanja dan serapan anggaran berjalan seiring baik di pusat dan daerah.

“Artinya, kalau belanja, spending government baik di APBN, APBD belanja di BUMN, belanja swasta nasional dan asing bisa bergerak. Itulah yang akan memberikan pertumbuhan pada ekonomi,” tandas Jokowi.

Perlambatan pertumbuhan ekonomi terlihat pada semester I 2015 sebesar 4,9 persen. Angka ini lebih rendah jika dibandingkan dengan realisasi pada semester yang sama tahun sebelumnya sebesar 5,1 persen.

Salah satu imbas dari lemahnya pertumbuhan ekonomi adalah bertambahnya jumlah penduduk miskin dan pengangguran di Indonesia.

Dikutip dari tempo.co, Institute For Development Of Economics and Finance (Indef) memprediksi jumlah penduduk miskin di Indonesia semakin banyak. Menurut Indef, jumlah penduduk miskin meningkat dari 10,96 persen per September 2014 menjadi 11,5 persen di Maret 2015, atau lebih dari 30 juta penduduk Indonesia berada dibawah garis kemiskinan.

Begitu pula dengan Indeks Pengangguran yang turut meningkat. “Dari 7,15 persen pada 2014, sekarang sudah menjadi 7,5 persen di semester I 2015,” ujar Ekonom Indef Fadhil Hasan di Jakarta. (sbb/dakwatuna)

Redaktur: Saiful Bahri

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...

Tentang

Saiful Bahri
Lahir dan besar di Jakarta, Ayah dari 5 orang Anak yang hobi Membaca dan Olah Raga. Setelah berpetualang di dunia kerja, panggilan jiwa membawanya menekuni dunia membaca dan menulis.

Lihat Juga

Seminar Nasional Kemasjidan, Masjid di Era Milenial

Figure
Organization