Home / Berita / Silaturahim / Bedah Buku “Antara Umar dan Khalid” yang Langsung Ludes di Cetakan Pertama

Bedah Buku “Antara Umar dan Khalid” yang Langsung Ludes di Cetakan Pertama

Bedah buku karya terbaru Hepi Andi Bastoni, Ahad (23/8/2015) di Ruang Serbaguna Masjid al-Ghifari MMB IPB Bogor, yang digelar oleh Event Organizer For Us (Forum untuk Semua). (ist)
Bedah buku karya terbaru Hepi Andi Bastoni, Ahad (23/8/2015) di Ruang Serbaguna Masjid al-Ghifari MMB IPB Bogor, yang digelar oleh Event Organizer For Us (Forum untuk Semua). (ist)

dakwatuna.com – Event Organizer For Us (Forum untuk Semua) menggelar acara bedah buku karya terbaru Hepi Andi Bastoni, Ahad (23/8/2015) di Ruang Serbaguna Masjid al-Ghifari MMB IPB Bogor. Buku berjudul Antara Umar dan Khalid ini dibedah langsung oleh penulisnya Hepi Andi Bastoni dan Hilman Rosyad Syihab. Dengan dihadiri sekitar 100 peserta, acara ini berlangsung khidmat dan penuh antusias.

Sebagai penulis, Hepi Andi Bastoni tampil lebih awal memaparkan konten buku. “Buku ini adalah kumpulan tulisan, renungan beberapa fragmen dalam kehidupan Nabi SAW dan para sahabatnya. Meski sebagian kontennya lebih banyak bicara tentang Umar bin Khaththab dan Khalid bin Walid, tapi ada juga beberapa kisah lain,” papar pria kelahiran Baturaja, 5 November 1975 ini.

Yang menarik dari buku ini, selain pemaparan kisah dengan sangat apik, bahasa yang mengalir, renyah dan mudah dipahami juga kemampuan penulis menghubungkannya dengan konteks kekinian. Misalnya, dalam judul Ketika Abu Hurairah Menjadi Gubernur, dikisahkan bahwa sebelum diangkat menjadi pejabat di Bahrain, Umar meminta data kekayaan Abu Hurairah. Alasannya, agar Umar tahu kekayaan pejabatnya sebelum memerintah. Ketika masa jabatannya selesai, Umar akan mendata kekayaannya kembali. Jika diketahui kekayaan pejabat tersebut melonjak drastis, di luar kewajaran, maka Umar akan menyitanya dan memasukkan ke kas negara.

Bedah buku karya terbaru Hepi Andi Bastoni, Ahad (23/8/2015) di Ruang Serbaguna Masjid al-Ghifari MMB IPB Bogor, yang digelar oleh Event Organizer For Us (Forum untuk Semua). (ist)
Bedah buku karya terbaru Hepi Andi Bastoni, Ahad (23/8/2015) di Ruang Serbaguna Masjid al-Ghifari MMB IPB Bogor, yang digelar oleh Event Organizer For Us (Forum untuk Semua). (ist)

Hepi mengungkapkan, dalam konteks sekarang, hal ini menarik. Jika saja kaidah ini diterapkan, mungkin akan sedikit bisa menekan angka korupsi.  Sebab, pejabat akan berpikir ulang mengeruk kekayaan, karena akhirnya akan disita negara. Mereka juga akan berpikir untuk menjadi pejabat. Belajar dari Umar, ia sangat ketat dalam masalah kekayaan pejabatnya. Ia ingin memisahkan antara jabatan dan kemewahan. Jika Anda ingin hidup mewah, jangan jadi pejabat. Demikian kira-kira prinsipnya.

Masih ada 29 kisah lainnya yang dipaparkan penulis, lengkap dengan analisa dan ibrahnya dikaitkan dengan konteks hari ini.

Hilman Rosyad lebih banyak bicara tentang rambu-rambu sirah yang dihubungkan dengan hadits. Menurutnya, sirah merupakan bagian tak terpisah dengan hadits. “Fitur hadits itu ada lima; qaul (perkataan), fi’l (perbuatan), shifat (penyifatan), taqrir (penetapan) dan sirah,” ujar konsultan masalah keluarga dan sirah ini. Menurut ayah lima anak ini, belajar sirah tak bisa dipisahkan dengan belajar hadits. Hanya saja, dari sisi kekuatan hukum mungkin beda. Sebab, fitur hadits yang paling banyak itu adalah qaul atau perkataan. Bagian ini yang mendominasi penetapan suatu hukum.

Terkait dengan buku yang dibedah, Hilman Rosyad mengajak peserta untuk memahami kondisi para sahabat Nabi. “Mereka itu hidup di zaman yang sangat dekat dengan masa Jahiliyah. Kita harus memahami jika dalam kondisi tertentu ada sisi yang mesti kita maklumi. Misalnya, ada revalitas antara Umar dan Khalid. Itu terjadi sejak masa sebelum Islam. Ketika mereka masuk Islam, benih-benih itu masih ada. Nah, nilai-nilai Islam dan keberadaan Nabi SAW yang meredamnya sehingga tidak melanggar ajaran Islam,” paparnya.

Seperti dituturkan penulis, buku ini termasuk fenomenal. Terbit persis di hari kemerdekaan RI yang ke-70, cetakan pertama buku ini ludes di hari pertama terbit. Sebanyak 2000 eksemplar habis. “Padahal, buku ini belum sempat satu eksemplar pun masuk ke toko buku. Entah apa yang terjadi? Mungkin masyarakat kita sangat rindu dengan sosok pemimpin seperti Umar dan Khalid. Apalagi melihat kondisi pemimpin hari ini yang sangat jauh dari harapan umat,” ujarnya.

Saat ini, buku Antara Umar dan Khalid sedang naik cetakan kedua. Ditargetkan, sebelum akhir bulan sudah kembali beredar di tengah pembaca. Semoga bisa menambah khazanah keilmuan di tengah haus dan rindunya kita kepada pemimpin harapan umat. (Dena Karyanto/dakwatuna/hdn)

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...

Tentang

Avatar

Lihat Juga

ICMI Rusia Gelar Workshop Penulisan Bersama Asma Nadia

Figure
Organization