Topic
Home / Berita / Daerah / Politisi PKS: Mentalitas “NPWP” pada Pilkada Batu Sandungan Demokrasi Sehat

Politisi PKS: Mentalitas “NPWP” pada Pilkada Batu Sandungan Demokrasi Sehat

Ada 14 daerah yang hanya memiliki calon tunggal hingga harus diperpanjang masa pendaftaran calon kepala daerah.  (lensaindonesia.com)
Ada 14 daerah yang hanya memiliki calon tunggal hingga harus diperpanjang masa pendaftaran calon kepala daerah. (lensaindonesia.com)

dakwatuna.com – Metro (24/8) – Sekretaris Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) MPR RI Almuzzammil Yusuf mengatakan, mentalitas “NPWP” alias Nomor Piro Wani Piro (nomor calon berapa, berani bayar berapa) pada pemilihan kepala daerah (Pilkada) akan jadi sandungan bagi demokrasi yang sehat maupun bagi pencapaian cita-cita rakyat yang tentram dan sejahtera.

“Harta Anda warga Metro yang sesungguhnya adalah anggaran daerah sebesar 760 miliar rupiah per tahun itu. Jangan mudah ditukar hanya dengan Rp250 ribu atau Rp100 ribu untuk kesejahteraan lima tahun,” kata Muzzammil, di depan peserta jaring aspirasi masyarakat bertema “Pancasila dan Kepemimpinan Daerah” di Aula Lembaga Edukasi Kartikatama Kota Metro, Lampung, dalam siaran tertulisnya, Senin  (24/8).

Pilkada di Indonesia dengan sistem one man one vote seharusnya dibarengi kemampuan masyarakat memilih pemimpin berdasarkan kapabilitas, bukan karena “dibeli” dengan politik uang yang jumlahnya tak seberapa.

“Ada pemimpin yang adil, jujur, bijaksana mestinya dicintai tidak oleh masyarakat? Mestinya dipilih tidak? Tapi mengapa bisa tidak dipilih?” tanya Anggota Badan Pengkajian MPR RI itu.

Senada dengan Muzzammil, Dosen Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Metro Nadirsyah Hawari menyatakan bahwa pemimpin terbaik adalah yang fasih menetapi tata kelola negara, termasuk dalam hal anggaran, serta mendahulukan kepentingan masyarakat daripada kepentingan pribadi maupun kelompoknya.

“Kira-kira bisa nggak dengan uang 700-an miliar itu orang Metro menjadi orang yang merdeka, sejahtera di tempat tinggalnya sendiri,” ujar Nadirsyah.

Nadirsyah menyesalkan masyarakat yang begitu mudah mencela zaman, mencela peristiwa, termasuk mencela pemimpin. Padahal, kata Nadirsyah, cela sesungguhnya ada pada diri mereka sendiri karena salah memilih pemimpin. (abr/dakwatuna)

Redaktur: Abdul Rohim

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...

Tentang

Avatar
Seorang suami dan ayah

Lihat Juga

Manipulasi Esemka

Figure
Organization