Home / Berita / Surat Pembaca / Surat untuk Seluruh Muslimin: Kita Bersaudara!

Surat untuk Seluruh Muslimin: Kita Bersaudara!

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (nurlienda.wordpress.com)
Ilustrasi (nurlienda.wordpress.com)

dakwatuna.com – Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Saudaraku, mari kita awali perbincangan ini dengan mengucapkan Alhamdulillah, kita memuji Allah atas limpahan karunia-Nya yang tidak bisa kita hitung. Shalawat dan salam kita kirimkan pula untuk baginda Nabi Muhammad saw yang telah dipilihkan oleh Allah sebagai qudwah (teladan) bagi kita semua.

Saudaraku, akhir-akhir ini ada perasaan yang tidak enak menyentuh hati saya, entah pun dirasakan juga oleh saudara-saudara sekalian. Sedih rasanya melihat pertengkaran terjadi di mana-mana, perang kata hujat, maki, dan cela hampir setiap saat berkobar. Tambah lagi dengan adanya media sosial, gejala itu semakin dahsyat merebak; forum di sana, forum di sini, sehingga di banyak tempat pertengkaran bisa terjadi.

Padahal, kita semua telah disatukan dalam bingkai persaudaraan yang kokoh. Firman Allah Ta’ala dalam QS Ali Imran ayat 103, “Dan berpegang teguhlah kamu semuanya pada tali (agama) Allah, janganlah kamu bercerai-berai..”

Ikatan persaudaraan kita ini adalah ikatan yang istimewa. Ini persaudaraan yang tidak terbatas pada kesamaan kepentingan saja (rational relationship), di mana kepentingan yang utama; kita bersaudara kalau kita sama-sama saling membutuhkan, lalu tidak lagi bersaudara kalau tidak ada kepentingan. Tidak terbatas pula pada kedekatan dalam hubungan kekeluargaan, kelompok, atau kedekatan teritorial semata (emotional relationship), di mana persaudaraan hanya untuk orang yang dekat saja, sementara orang yang jauh bukan siapa-siapa. Tetapi, persaudaraan kita adalah persaudaraan karena iman (ukhuwah Islamiyah), siapa pun yang memegang iman kepada Allah dan Rasul-Nya adalah saudara kita. Di mana pun ia berada.

Saudaraku, lantas ada pertanyaan yang harus kita jawab di sini; Bila memang kita bersaudara karena iman kepada Allah dan Rasul-Nya, kenapa api permusuhan dan perpecahan masih menyala di mana-mana?

Memang banyak sebab yang menyulut api itu. Bisa karena sense of unity (kecenderungan untuk bersatu) telah melemah pada masing-masing kita. Rendahnya kecenderungan untuk bersatu ini menjadikan persaudaraan kita seperti dedaunan kering, bila diterpa oleh sepercik api langsung terbakar. Sementara itu api-api berupa isu-isu panas selalu saja ada yang menyulutnya. Kali ini, kita harus mengintrospeksi diri kita masing-masing; benarkah demikian? Sebab, diri kita sendirilah yang lebih tahu apa isi hati kita.

Saudaraku, sudah menjadikan tabiat orang ramai pula berbeda-beda. Maka, dalam tubuh kaum Muslimin pun akan selalu ada perbedaan-perbedaan. Pengetahuan, pemikiran, pemahaman, keyakinan, dan tindakan; kita bisa berbeda dalam tiap-tiap tahap itu. Bila tiada kebijaksanaan, akan jadilah permusuhan dengan orang yang berbeda. Sedangkan saudara dianggap hanya sebatas orang yang sama.

Semoga saja kita tidak lupa, para sahabat Nabi saw dulu pun acap kali berbeda. Tetapi karena mereka selalu insaf bahwa mereka bersaudara, perbedaan itu tidak membahayakan mereka.  Justru perbedaan menjadi seperti warna-warna berlainan yang menyusun pelangi. Indah.

Saudaraku, semoga demikian pulalah yang terjadi di tengah-tengah kita. Jangan jadi daun kering yang mudah terbakar oleh provokasi. Jadilah pribadi sesejuk embun pagi. Hadirnya menyegarkan suasana. Bila ditemukan perbedaan di antara kita, jangan diperbincangkan dengan nuansa permusuhan. Seperti Imam Syafi’i dan Imam Yunus As-shadafi yang pernah berbeda pendapat dalam satu forum, meskipun tidak bertemu pada satu titik kesamaan mereka tetap berjabat tangan sebelum pulang, sambil berkata “Kita ini bersaudara.” Tak ada kebencian yang hinggap di hati.

Saudaraku, betapa indah bila persaudaraan kita ini kokoh, sehingga kita seperti yang disebut Allah dalam QS As-shaff ayat 4, “Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berjuang di jalan-Nya, mereka berbaris rapi seperti bangunan yang kokoh.”

Tidak seperti yang disebut oleh Allah dalam QS Al-Mukminun ayat 53, “Kemudian mereka (orang-orang yang mengikuti rasul) itu terpecah-belah dalam urusan agamanya menjadi beberapa kelompok. Tiap-tiap kelompok berbangga dengan apa yang ada di sisi mereka.”

Saudaraku, semoga kita ini diberikan hidayah oleh Allah selalu, sehingga bisa menjaga persaudaraan kita ini. Aamiin, Allahumma Aamiin.

Demikianlah sedikit catatan sebagai seruan untuk bersatu ini. Mohon maaf bila saudara-saudara menemukan kesalahan, itu bukan bagian dari kesengajaan kami..

Saudara kalian;

Penulis yang masih amat faqiir terhadap ilmu.

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...
Avatar
Mahasiswa S1 Ilmu Keperawatan USU. Ketua Al-Fatih Club. Murid. Penulis. Beberapa karyanya yang sudah diterbitkan; Istimewa di Usia Muda, Beginilah sang Pemenang Meraih Sukses, Cahaya Untuk Persahabatan, dan lain-lain

Lihat Juga

Imigran Muslim, Akankah Mengubah Wajah Barat di Masa Depan?

Organization