Topic
Home / Berita / Daerah / Sejarawan Betawi: Kalau Kampung Pulo di Gusur, Pluit Gusur Juga Dong

Sejarawan Betawi: Kalau Kampung Pulo di Gusur, Pluit Gusur Juga Dong

Bentrok antara warga Kampung Pulo dengan petugas yang memaksa warga meninggalkan tempat tinggal mereka di bantaran ciliwung. (kompas.com)
Bentrok antara warga Kampung Pulo dengan petugas yang memaksa warga meninggalkan tempat tinggal mereka di bantaran ciliwung. (kompas.com)

dakwatuna.com – Jakarta.  Penggusuran tempat tiggal warga Kampung Pulo, Jakarta Timur oleh Pemprov DKI Jakarta yang berujung pada bentrokan antara warga dengan petugas mendapat kritikan dari sejarawan Betawi, JJ Rizl.

Pendiri Komunitas Bambu tersebut mempertanyakan keputusan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) tersebut. Kalau memang alasannya karena warga menyalahi peraturan dengan tinggal di lahan hijau atau daerah resapan, kenapa mereka yang tinggal di Pantai Mutiara, Pluit tidak juga digusur.

“kalo Ahok konsisten gusur kampung pulo krn dianggap tinggal di lahan hijau/resapan gusur jg dong lingkungan rumahnya di pantai mutiara” tanya Rizal dalam kultwittnya di akun @jjRizal

Sejarawan asli Betawi tersebut beralasan karena kawasan Pantai Mutiara seluas 860 ha tersebut merupakan kawasan hutan bakau dan resapan.

“kawasan pantai mutiara itu kawasan yg 860 ha diperuntukan bagi hutan bakau en resapan, tp koq Ahok belaga ga tahu en berdosa tinggal disana” ungkapnya.

Pemerhati budaya Betawi tersebut juga berani menjamin kalau kawasan Pantai Mutiara dimana Ahok tinggal tersebut tidak akan digusur.

“Ahok ga bakal gusur rumahnya di pantai mutiara meski melanggar peruntukan krn dia anggap itu rumah hoki en dia ga tau sejarah ruang Jakarta” tegas Rizal.

“mengapa kpd orang kecil Ahok galak sekali, sementara pada developer spt reklamasi pluit yg jelas2 merusak lingkungan hatinya baik sekali? yg tinggal di kawasan yg seharusnya bkn u perumahan tp dibuatan jd perumahan oleh developer en diberi sertifikat itu terus dianggap legal?” lanjutnya.

Rizal juga mengkritik masalah rusunawa yang kerap dijadikan Ahok sebagai alasan untuk melegalkan penggusuran. Menurutnya solusi tinggal di Rusunawa sebagai kebijakan yang tidak manusiawi, karena warga yang tadinya memiliki rumah sendiri kini harus mengontrak selama 5 tahun.

Ahok juga dianggap sebagai penghianat karena telah mengingakari janji yang sudah disepakati dengan warga, dimana warga Kampung Pulo didampingi kawan Ciliwung Merdeka telah bertemu dan membawa konsep hasil kerja bareng arsitekarsitek  terbaik .

Ahok bahkan salut melihat hasil karya yang dibawa warga dan sepakat  dengan konsep kampung berwawasan manusia dengan air tersebut.

Kritik senada juga datang dari Sosiolog Universitas Indonesia, Tamrin Amal Tomagola. Dikutip dari kompas.com, Tamrin menyoroti bentrokan warga dengan petugas yang dinilai karena warga merasa dikhianati oleh Ahok.

“Warga (Kampung Pulo) sudah punya solusi dan konsep warga soal Kampung Pulo itu sudah dipresentasikan ke Ahok. Waktu itu, Ahok juga sudah setuju, tetapi tiba-tiba keputusannya berubah. Malah kirim petugas buat bongkar paksa,” jelasnya.

Tamrin juga menilai, cara penggusuran di Kampung Pulo tidak manusiawi. Idealnya, penggusuran dilakukan ketika warga sudah menempati tempat tinggal yang baru. Faktanya, banyak warga yang belum menempati Rusun Jatinegara. (sbb/dakwatuna)

Redaktur: Saiful Bahri

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...

Tentang

Saiful Bahri
Lahir dan besar di Jakarta, Ayah dari 5 orang Anak yang hobi Membaca dan Olah Raga. Setelah berpetualang di dunia kerja, panggilan jiwa membawanya menekuni dunia membaca dan menulis.

Lihat Juga

Nissa Sabyan Semakin Bersemangat Jadi Duta Kemanusiaan

Figure
Organization