Home / Berita / Surat Pembaca / Gatot Pujo Nugroho Bukan Konsultan Kerohanian Wong Solo (Bagian Kedua)

Gatot Pujo Nugroho Bukan Konsultan Kerohanian Wong Solo (Bagian Kedua)

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.

Gatot Pujo Nugroho (waspada.co.id)
Gatot Pujo Nugroho (waspada.co.id)

dakwatuna.com – Silaturahim Gatot dengan Puspo Wardoyo makin memburuk ketika dia dicalonkan sebagai wakil gubernur yang berpasangan dengan Syamsul Arifin. Keadaan ini bertambah buruk lagi ketika Gatot maju sebagai calon gubernur. Terhitung sejak Gatot menjadi wakil gubernur, kemudian menjadi gubernur hingga dia ditahan KPK saat ini, Gatot baru dua kali singgah dan makan di Wong Solo. Itupun ketika Puspo Wardoyo sedang tidak berada di Medan. Sedangkan pertemuan Puspo Wardoyo dengan Gatot terhitung sejak diangkat menjadi wakil gubernur hingga menjadi tahanan KPK ini baru terjadi tiga kali, itupun dalam acara-acara formal.

Pertemuan pertama mereka berlangsung pada pernikahan anak Bupati Tebing di Hotel Tiara, Medan. Selepas acara, di lobby hotel, Gatot berdiri cukup dekat dengan Puspo. Sayangnya, selama lima belas menit mereka menunggu mobil masing-masing, Gatot melihat Puspo Wardoyo seperti orang yang tak pernah dikenalnya selama ini, dia malah asyik berbicara dengan temannya.

Pertemuan Gatot dan Puspo yang kedua terjadi setelah dia memenangkan pemilihan gubernur Sumut. Pertemuan itu berlangsung pada acara halal bihalal di rumah tokoh Sumut, Rahmansyah. Saat itu Puspo datang dengan dijemput oleh Hanif, pengusaha dan tokoh masyarakat Sumut yang juga kakak Rahmansyah. Sampai di lokasi acara, Gatot sudah menempati meja VIP. Oleh Hanif, Puspo dipersilahkan duduk berdampingan dengan Gatot. Hanif dan Rahmansyah bermaksud memperkenalkan Gatot kepada Puspo karena mengira keduanya belum saling mengenal. Saat itu, Gatot hanya senyum-senyum kecil dan hanya mengeluarkan kata, “Mas Puspo”. Sesaat kemudian, tiba-tiba Gatot pergi meninggalkan meja VIP dan keluar ruangan. Sikap Gatot ini langsung mengundang rasa heran semua yang hadir, apalagi acara belum dimulai.

Dua tahun lalu, Gatot yang sudah menjadi gubernur itu pernah datang ke kantor pusat Wong Solo di Jalan Gajah Mada, Medan. Gatot menawarkan investasi sebesar Rp. 600 juta agar Wong Solo membuka gerai baru di Magelang, Jawa Tengah, kampung halaman Gatot. Gatot berharap adiknya, Edi yang ketika itu menjadi pimpinan Wong Solo di Ungaran, bisa punya usaha sendiri di Magelang. Kedatangan Gatot kali ini bukan untuk menemui Puspo Wardoyo, melainkan hanya bertemu dengan manager operasional Wong Solo, Sugiri dan Dadang.

Gatot Sebagai Wakil Puspo Wardoyo

Puspo Wardoyo sangat menyesalkan sikap Gatot yang mencantumkan ‘Konsultan Kerohanian’ dalam daftar riwayat hidupnya. Menurut Puspo, sebelum Gatot datang menemuinya, Wong Solo sejak tahun 1993 sudah memiliki penasehat kerohanian sendiri yang merupakan guru besar di IAIN Sumut, yakni Prof. Dr. Sahrin Harahap dan wakil-wakilnya seperti Dr. Abdul Matin, Lc, Dr. Daud Rasyid, MA, Dr. Zainal, Lc, MA dan Dr. Sofyan Saha, Lc. Para ahli fiqih, ahli tafsir dan ahli hadits ini memiliki jadwal tetap dalam mengisi kajian-kajian Islam untuk pimpinan, staf dan karyawan Wong Solo seluruh Indonesia.

Ketika Gatot datang dan meminta bantuan pada tahun 1996, Puspo Wardoyo memintanya untuk aktif mengikuti kajian-kajian agama yang diberikan guru-guru Wong Solo itu. Bahkan, jika ada undangan acara-acara keislaman di Medan sedangkan Puspo berhalangan, maka Gatotlah yang diminta untuk menggantikannya. Posisi Gatot sebagai wakil Puspo pada acara-acara keagamaan di Medan ini makin tinggi intensitasnya ketika Puspo diangkat sebagai Bendahara Umum Kadin Muslim Sumut. Begitu pula dengan kegiatan-kegiatan PKS, Puspo Wardoyo selalu meminta Gatot mewakilinya. Apalagi waktu itu bersamaan dengan kesibukan Puspo Wardoyo berkeliling Indonesia dan Malaysia dalam rangka melabarkan sayap Wong Solo. Gatot makin sering mewakili Puspo dalam acara-acara kedua lembaga itu.

Sayangnya, ketika Gatot diangkat menjadi Ketua DPW PKS Sumut, dia mulai memutuskan hubungannya dengan Puspo Wardoyo. Indikasi memburuknya hubungan Gatot dengan Wong Solo dan Puspo Wardoyo ini makin jelas ketika dilantik menjadi Gubernur Sumut menggantikan Syamsul Arifin.

Dalam sebuah penerbangan dari Medan ke Jakarta, Puspo Wardoyo bertemu dengan Ketua DPW PKS Sumut yang kemudian bertanya soal kemungkinan Gatot dicalonkan sebagai gubernur oleh PKS dalam pilkada. Waktu itu, Puspo sarankan agar PKS jangan mengusung Gatot sebagai calon gubernur. Pasalnya, dalam pandangan Puspo, Gatot memiliki akhlak yang buruk, yakni suka memutuskan silaturahim. Sayangnya, saran Puspo ini tidak diindahkan. Akhirnya, setelah terpilih menjadi gubernur, banyak kalangan yang menyesalkan sikap Gatot yang sukar ditemui, termasuk oleh petinggi-petinggi PKS.

Puspo Wardoyo mengakui, bahwa sarannya kepada Ketua DPW PKS Sumut untuk tidak mencalonkan Gatot sebagai gubernur itu tidak memiliki tujuan apa-apa. “Saya tidak punya niatan politik apapun. Saya ini hanya seorang pengusaha. Saya juga pernah dilamar oleh Chairuman Harahap untuk menjadi calon wakil gubernurnya untuk melawan Gatot tapi saya menolaknya,” kata Puspo. Ketidaksetujuan Puspo terhadap pencalonan Gatot sebagai gubernur hanyalah dilandasi oleh rasa cinta pada PKS. “Saya hanya ingin agar citra PKS di kemudian hari tidak dirusak oleh Gatot yang suka memutuskan tali silaturahim ini,” jelas Puspo.

Meski sudah dikecewakan oleh Gatot, namun Puspo Wardoyo masih menyisakan prasangka baik kepada Gatot saat ini. “Saya berprasangka baik saja kepada Gatot, juga kepada teman-teman lain yang pernah dibantu dan dibesarkan Wong Solo. Mungkin mereka merasa malu dan takut kehilangan masa atau takut tidak akan mendapat simpati masyarakat kalau punya hubungan dengan saya yang berpoligami. Masalahnya, mengapa mereka awalnya mau datang dan meminta bantuan saya, tetapi setelah tujuan mereka tercapai, mereka pergi dengan memutuskan tali ukhuwah dan silaturahim?” tanya Pupso sambil menebar senyumnya yang khas poligamor. (darso/dakwatuna)

Sebelumnya

Redaktur: Samin Barkah

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...
Avatar
Lahir di Papela, Kec. Rote Timur, Kab. Rote Ndao. Alumni Pesantren Attaqwa, Ujungharapan Bahagia, Bekasi. Pernah di redaksi Majalah Warnasari (Pos Kota Group) dan Majalah Amanah. Tinggal di Bekasi, Jawa Barat.

Lihat Juga

MK, Sosial Media dan Etalase Demokrasi