Topic
Home / Berita / Opini / 70 Tahun Indonesia, Masihkah NKRI Harga Mati?

70 Tahun Indonesia, Masihkah NKRI Harga Mati?

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (dakwatuna/hdn)
Ilustrasi. (dakwatuna/hdn)

dakwatuna.com – Indonesia usiamu kini tujuh puluh, jika kau manusia tentu usiamu sudah sepuh, kemerdekaanmu diperjuangkan dengan kucuran darah dan peluh, oleh pahlawan tanpa rasa jenuh dan tidak mengenal kata mengeluh.

Jasa pahlawan sungguh luar biasa, tak bisa dibayar dengan harta apalagi kata-kata, tentunya mereka punya harapan besar untuk Indonesia, agar selalu terukir senyum di wajah generasi bangsa, hargai jasa mereka dengan merawat Indonesia, agar kata merdeka selalu menggema di seluruh pelosok nusantara.

Sudah tujuh kali nakhoda bangsa ini berganti, mulai dari Soekarno hingga Jokowi, banyak hal yang harus kita syukuri, banyak pula yang perlu kritik dan evaluasi.

Indonesia memang istimewa, aneka ragam budaya, bahasa dan agama menyatu jadi satu bangsa, ini adalah anugerah yang harus kita jaga, tetap bersatu untuk Indonesia raya, tetap berkarya untuk Indonesia jaya.

Namun merdeka sejatinya belum dinikmati di negeri sendiri, masih banyak rakyat yang tersakiti, hak mereka dikebiri, penguasa menjanjikan Indonesia yang mandiri, berdiri di kaki sendiri, namun buktinya asing menggerogoti atas nama investasi, negara menumpuk utang luar negeri, padahal subsidi untuk rakyat sudah dikurangi, rakyat hanya disuguhi kartu sakti sebagai solusi.

Katanya Indonesia sedang sakit, ekonomi mencekik karena kebijakan pemerintah berpihak kepada si mata sipit, rakyat menjerit, kehidupannya kian menghimpit.

Indonesia kritis di ranah sosial, banyaknya kasus amoral, menjamurnya kasus kriminal, terjadinya konflik komunal, kekerasan seksual, sadisnya kasus begal, ah negeri kita bagai dihampiri Dajjal.

Penegakan hukum masih diskriminasi, banyak kasus tidak ditangani, BLBI dan Century sampai saat ini tidak selesai, sedang kasus esek-esek paling digemari, penegak hukum populer dengan festivalisasi, menjadi hiburan di televisi.

70 tahun bumi pertiwi, Ah Pancasila masihkah kau sakti? Masihkah NKRI harga mati? Ketika berkibar lagi bendera PKI dengan berani, bukankah mereka pemberontak yang menumpahkan darah di bumi pertiwi? Banyak yang tidak sadar bahwa kita disusupi, kita diprovokasi! Dan isunya Jokowi akan meminta maaf pada PKI.

Ah harusnya merah putih berkibar di puncak tertinggi, tapi di Papua merah putih diturunkan oleh tentara Papua Nugini. Padahal merah putih adalah harga diri, merah berarti berani, putih lambang suci! Jangan kotori!

Aduhai Indonesiaku… Jikapun kau telah sekarat, izinkan kami tetap merawat, karena kami yakin suatu saat, kau bangkit menuju bangsa yang bermartabat, kita ingin Indonesia menjadi negara yang kuat, bangsa yang berdaulat, maka kita harus berbuat, tidak hanya berpangku tangan dan mengumpat.

Kita ingin mengukir senyum di wajah generasi penerus, menjadikan Indonesia sepenggal firdaus, kami yakin jalannya tidak akan mulus, namun saksikanlah bahwa kami akan berjuang dengan tulus.

Saatnya bekerja dengan cinta, sesama anak bangsa tidak usah saling angkat senjata, berkaryalah agar bangsa kita tertata, Ayo Kerja, kerja, kerja!

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...

Tentang

Avatar
Mahasiswa Ekonomi Syariah di STAI Al-Azhar Gowa, hobi menulis, aktif di Forum Lingkar Pena Sulawesi Selatan.

Lihat Juga

Tegas! Di Hadapan Anggota DK PBB, Menlu RI Desak Blokade Gaza Segera Dihentikan

Figure
Organization