Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Perpisahan Sesaat; Ketika Anak Mondok di Pesantren

Perpisahan Sesaat; Ketika Anak Mondok di Pesantren

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (islamimadina.blogspot.com)
Ilustrasi. (islamimadina.blogspot.com)

dakwatuna.com – Pondok pesantren merupakan salah satu alternatif pendidikan yang tidak bisa dipandang sebelah mata, karena orientasinya bukan sebagai tempat pembuangan anak-anak nakal. Boleh jadi sebagai wadah bagi anak-anak kita dalam menjawab tantangan zaman. Berharap tercipta generasi yang lebih baik, lebih kuat, bukan seperti generasi orang tuanya yang lemah dan tidak berdaya jiwanya.

Tahun ajaran barupun dimulai. Bagi anak-anak (umumnya mulai usia 12 tahun) yang mulai masuk pondok pesantren, tibalah saat perpisahan antara mereka dan keluarganya. Kendati bukan perpisahan yang sebenarnya, karena masih ada jadwal kunjungan, jadwal telpon dan liburan semesteran. Tiap anak berbeda karakter, berbeda motivasi dalam mengawali dunia baru mondok di pesantren, dunia yang “jauh” dari kenyaman rumah, belaian orangtua atau kehangatan keluarga.

Bagi anak yang telah termotivasi kuat dan memilih sendiri pondok pesantren idamannya, tentu orang tua tidak perlu usaha keras melepas anak di hari-hari pertamanya, dan adaptasi anakpun akan lebih singkat dan mudah. Berbeda pada anak yang masih sedikit galau dan kurang kuat motivasi atau setengah hati masuk pesantren, tentu orang tua butuh ekstra usaha melepas anak di hari-hari pertama, karena anak akan tampak lebih emosional menyikapi perpisahannya, dan sebisa mungkin menghindari tindakan dramatis anak, misal mogok atau melarikan diri dari pondok pesantren.

Semua itu tergantung orang tua dalam mempersiapkan anak-anaknya, tentu perlu persiapan khusus yang tak sebentar. Salah satunya adalah persiapan kemandirian sejak dini, karena pondok pesantren bukan tempat instan membentuk kemandirian anak. Pondok pesantren hanya sebagai sarana membentuk anak menjadi LEBIH mandiri. Maka sejak dini dan tentunya disesuaikan dengan tahap-tahap perkembangan anak, kemandirian fisik dan psikologis perlu dilatih.

Kemandirian fisik antara lain anak dilatih mampu melakukan aktivitasnya sendiri, misalnya mulai makan sendiri pada usia 3 tahun, mandi sendiri di usia prasekolah, memasak saat anak di usia sekolah dasar, mencuci piring dan lain sebagainya, tentu semua itu disesuaikan terhadap masing-masing anak. Oleh karena itu, orang tualah yang dituntut untuk lebih mengenal anak dalam melatih kemandirian agar menjadi tepat sasaran.

Kemandirian psikologis salah satunya yaitu anak mampu membuat keputusan. Orang tua melatih hal tersebut dengan cara selalu menyodorkan dua pilihan dalam segala hal, mulai dalam memilih baju setelah mandi hingga membuat komitmen jadwal harian anak, biarkan anak yang menentukan dan orang tua tetap memberi arahan. Dengan demikian tidak pernah ada unsur paksaan orang tua kepada anak. Anakpun akan jauh lebih percaya diri dalam segala situasi.

Hari-hari pertama mulai mondok di pesantren memang bukan perkara mudah, baik bagi anak maupun orang tua, terutama bagi sang ibu yang lebih melankolis dalam perpisahan sesaat ini. Antara tega dan tidak tega, rasa rindu dan kehilangan pun sudah dirasakan membuncah oleh sang ibu. Sejauh mana azzam telah dipancangkan, semua karena rasa sayang dan demi masa depan bagi sang buah hati yang sedang beranjak remaja. Maka ringankan hati dengan mengawalinya dengan ucap “Bismillah” disertai pelukan erat dan kecupan di kening sebagai tanda pemberi semangat kepada anak.

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (1 votes, average: 5,00 out of 5)
Loading...

Tentang

Avatar

Lihat Juga

UNICEF: Di Yaman, Satu Anak Meninggal Setiap 10 Detik

Figure
Organization