Topic
Home / Berita / Daerah / Ahok Sebut ‘Kepala Preman’, FBR: Kepala Penjahat, Rampok, Gak Masalah

Ahok Sebut ‘Kepala Preman’, FBR: Kepala Penjahat, Rampok, Gak Masalah

Petugas mengadakan razia kendaraan yang parkir di tepi jalan. (bisnis.com)
Petugas mengadakan razia kendaraan yang parkir di tepi jalan. (bisnis.com)

dakwatuna.com – Jakarta.  Buntut dari kerusuhan yang terjadi di Pasar Gembrong beberapa waktu yang lalu membuat Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama mengeluarkan pernyataan bahwa dia akan memberantas ormas-ormas yang menguasai lahan parkir dan menyebut dirinya “kepala preman”. (baca: Kericuhan di Pasar Gembrong, Ahok: Saya Kepala Preman yang Baru)

Menanggapi pernyataan tersebut, Lutfi Hasan, Ketua FBR mengaku tidak peduli dengan pernyataan Ahok yang menyebut bahwa Ahok kini “kepala preman”.

“Enggak ada masalah, dia mau bilang kepala penjahat, kepala bagian, kepala rampok, enggak ada masalah dengan kita. Kita enggak pernah bersentuhan apa-apa dengan dia, kok,” ujar Lutfi seperti dikutip dari Tempo.co, Selasa, (11/8/15).

Terkait penyataan ahok bahwa lahan parkir banyak dikuasai ormas, Luthfi merasa selama ini tidak ada organisasi masyarakat yang menguasai lahan parkir. Dia berpendapat bahwa pernyataan Ahok tersebut terlalu naif untuk memberantas ormas-ormas tersebut. Namun Lutfi mendukung apabila sistem parkir yang diperbaiki untuk dikelola pemerintah daerah.

“Justru artinya bahwa lahan parkir itu menjadi resmi karena dikelola oleh pemda, tapi jangan dilupakan bahwa tukang parkirnya harus orang-orang di sekitar situ, bukan orang-orang yang direkrut dari tempat lain. Saya kira itu tidak masalah,” katanya.

Demi memaksimalkan potensi pendapatan dari parkir, Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama mengaku siap bergesekan dengan ormas sekali pun. Cara Ahok ialah menggaji petugas parkir di lapangan dua kali upah minimum provinsi dan memasang mesin terminal parkir. “Menggaji petugas parkir dua kali itu sama saja saya bertindak sebagai kepala preman baru,” tutur Ahok.

Menurut Ahok, benturan organisasi masyarakat yang menguasai lahan parkir di Ibu Kota memang tak terhindarkan. Sebab, potensi ekonomi yang bisa dikeruk dari bisnis parkir sangat menggiurkan.

Beberapa waktu yang lalu seperti diberitakan bisnis.com, Ahok memperkirakan bahwa potensi retribusi parkir tepi jalan atau on the street di seluruh titik di DKI Jakarta bisa mencapai hampir Rp2 triliun.

Besaran potensi tersebut diperolehnya apabila sejumlah titik parkir di DKI Jakarta dipasangi parkir meter sehingga kebocoran penerimaan retribusi parkir selama ini bisa ditekan dengan maksimal.

“Potensi retribusi parkir di Jakarta itu bisa mencapai Rp1,9 triliun. Itu kalau pakai mesin (parkir meter) semua,” tutur Ahok , di Balaikota, Selasa (30/6/2015). (sbb/dakwatuna)

Redaktur: Saiful Bahri

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...

Tentang

Saiful Bahri
Lahir dan besar di Jakarta, Ayah dari 5 orang Anak yang hobi Membaca dan Olah Raga. Setelah berpetualang di dunia kerja, panggilan jiwa membawanya menekuni dunia membaca dan menulis.

Lihat Juga

Ustadz Abdul Somad yang Terpanggang dari Dua Arah

Figure
Organization