Topic
Home / Pemuda / Cerpen / Lelaki yang Selalu Bersembunyi

Lelaki yang Selalu Bersembunyi

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (ikhtiarui.wordpress.com)
Ilustrasi. (ikhtiarui.wordpress.com)

dakwatuna.com – “Dan baba, aku lagi-lagi tidak bisa memejamkan kedua mataku… meski aku sudah mencobanya dengan sekuat tenaga dan juga dengan beragam tips yang telah kalian berikan kepadaku. Apakah ada yang salah denganku?” Putri Ayesha mengeluh. Matanya menitiskan air yang segera ia usap. Pelayan dan dayang-dayang yang mengelilinginya juga ikut menangis sesegukan. Mereka mengerti gejolak yang dirasakan putri yang dicintai mereka.

Putri Ayesha yang malam itu dibalut gaun tidur kaftan berwarna biru langit, dengan rumbai-rumbai lembut di bagian sisi kanan dan kiri belakangnya, berjalan menuju jendela yang terbuka lebar di depannya. Ia memandang langit yang membentang megah menaungi kota tercintanya, Istanbul. Obor-obor masih menyala gagah, menebarkan cahaya di malam yang pekat. Para dayang dan pelayan membiarkan sejenak putri Ayesha mematung di sana. Menikmati aroma malam dengan beragam rasa dalam dirinya. Terdengar segukan yang tersamarkan desau angin malam dari arah jendela. Putri Ayesha nampak kembali menangis. Mungkin dia teringat lagi tentang nasib tragis kedua orang tuanya yang dua minggu lalu meninggal dalam perjalanan ke ibu kota. Sungguh tidak mudah kehilangan dua orang yang dicintai sekaligus. Sosok Ayahanda Raja Ahmet II yang lembut nan penyayang dan sosok hebat sang Ibunda Rahil Sayekh yang juga lembut dan perhatian kepada semua pelayan dan penghuni istana, membuat putri Ayesha sangat merindukan kehadiran keduanya. Untuk beberapa waktu ini, dia seakan kehilangan sebagian ruh dan spirit dalam dirinya untuk bangkit menatap matahari.

Putri Ayesha masih berdiri di depan jendela yang terbuka, menyeka air matanya yang meleleh membasahi kedua pipinya yang putih. Tidak banyak yang bisa dilakukan para pelayan dan dayang di sana, hanya menunggu sang putri bergegas beristirahat ke pembaringan.

Malam di tanah Turki semakin larut. Burung-burung sudah menidurkan anak-anak mereka dalam sarang di balik pepohonan. Tangis-tangis bayi sudah mereda. Jendela-jendela sudah tertutup rapat. Senda gurau sudah tak terdengar lagi. Malam benar-benar telah tegak berdiri di langit Istanbul. Putri Ayesha menyudahi syair malamnya bersama langit gelap, ia mulai naik ke ranjang empuknya. Para dayang dan pelayan pun berpamitan.

**

Entah ada angin apa pagi ini raut wajah sang Putri tampak berbeda sekali dari hari biasanya. Berseri-seri dan ceria menujukan hati bahagia. Para pelayan dan dayang yang melihatnya pun ikut senang dan berbahagia. Hari itu istana Ahmet II begitu cerah. Matahari bersinar tidak terlalu panas, juga tidak terlalu redup. Sungguh, wajah putri Ayesha pagi ini memang serasi dengan sinar sang matahari!

Putri Ayesha yang memiliki senyuman manis itu tengah berlatih kuda. Salah satu olahraga yang diajarkan Rasulullah kepada umatnya. Dengan lincah dia dan kuda cokelatnya yang bernama Zulfikar berpacu di lapangan dengan beberapa orang pelatih. Tampak wajah cantiknya mulai kelelahan tapi tidak ia tunjukan. Senyuman cantik yang dikulumnya menyembunyikan itu semua. Dengan terengah-engah ia turun dan menghampiri penasehat kepercayaan ayahnya, Tuan Sulaiman Tsanif yang sudah menunggunya dengan sebingkai senyuman di depan kolam Tsanuri yang tenang. Ditemani pohon-pohon palm yang sejuk, mereka duduk sambil meminum teh. Mengobrol dan tertawa bersama. Semenjak pemakaman kedua orang tuanya, tuan Sulaiman memang sibuk sekali mengurus berbagai hal yang berkaitan dengan keluarga Raja Sultan Ahmet II, dan baru hari ini dia sempat untuk bertemu dengan putri Ayesha yang sedari kecil sudah dikenalnya.

Raut wajah putri Ayesha tampak bingung. Entah apa yang dikatakan tuan Sulaiman, sampai merubah drastis suasana hatinya. Dia tampak bingung dan gugup. Dan lantas berpamitan. Ia berlari pelan ke dalam istana. Tuan Sulaiman menatapnya penuh harap dari depan danau Tsanuri yang sejuk.

**

Lagi-lagi ku dapati wajahnya tengah memandang langit yang menaungi kota ini dari jendela kamarnya di lantai tiga. Tampak dari kejauhan tangannya lagi-lagi mengusap pipinya yang basah oleh air mata. Entah karena sebab apa, aku mulai bertanya-tanya. Apa mungkin putri sedang teringat pada mendiang kedua orang tuanya?

Aku memalingkan pandanganku pada tuan Sulaiman yang sedang berjalan-jalan di sekitar danau Tsanuri dengan melipatkan kedua tangannya ke belakang. Dia tampak sedang berpikir keras, karena sesekali dia mengambil nafas dalam dan menghembuskannya ke langit.

Putri Ayesha ternyata kembali lagi ke danau Tsanuri yang berkilau terkena pantulan sinar matahari yang sudah naik sepenggalan. Dia datang dengan membawa sebuah map berwarna kuning keemasan yang diikat dengan tali yang berwarna senada di kedua tangannya. Dia menghampiri tuan Sulaiman yang juga sedang menunggunya.

**

Istana pagi ini benar-benar berbeda dari biasanya. Aku menemukan para pelayan dan dayang-dayang sibuk ke sana kemari. Menghias isi rumah. Dapur mengeluarkan asap dan aroma makanan yang biasa dihidangkan di hari-hari spesial. Ada apa ini?

Putri Ayesha hari ini juga ikut berbeda. Wajahnya dipoles gincu berwarna merah merona yang senada dengan gaun yang dikenakannya hari itu. Matanya masih saja sendu meski sudah terpolesi eye shadow hasil riasan Rafshah, sang perias istana. Tidak lama setelah putri Ayesha keluar dari kamarnya, serombongan orang tiba yang kemudian disambut meriah oleh seluruh penghuni istana. Seorang pemuda yang mengenakan jas terbaik berwarna hitam turun dengan sumringah sambil sedikit merapikan letak dasi di lehernya. Senyumannya selebar dasi yang ia kenakan. Berjalan dengan rasa percaya diri yang tiada tandingannya. Tampak gugup. Di belakangnya tuan Sulaiman menyambut mereka dengan santun dan mengarahkan mereka ke tempat pertemuan, aula istana Sultan Ahmet II.

Putri lama tertunduk. Dia tahu siapa lelaki yang ada di depannya. Seorang lelaki dari kota sebelah utara Istanbul ini adalah teman sepermainannya dahulu. Kedua orang tuanya adalah sahabat karib ayah dan ibunya. Tapi mereka tidak bisa berteman seakrab kedua orang tua mereka. Putri hanya menyesali kenapa kedua orang tuanya mewasiatkan untuk menikahkan dia dengan lelaki seperti Sahab! Putri Ayesha belum mampu untuk menatap kedua mata Sahab, dia sungguh tidak siap!

Pertunangan hari itu berjalan lancar. Meski putri Ayesha menunjukan sikap yang tidak biasa terhadap tamu. Istana kembali sepi. Hanya terdengar gemericik air dari taman Sofia di depan. Para pelayan dan dayang sedang beristirahat setelah selesai mempersiapkan segala hal untuk acara hari ini.

Aku berjalan ke kamar dan berencana untuk beristirahat juga. Semalaman ini aku terjaga demi menyelesaikan tugas dari guru mengajiku. Setibanya di depan kamar, ada seseorang berlari ke arah balkon dengan meninggalkan sepucuk surat di bawah pintu kamarku.

Dunia seakan runtuh setelah ku baca satu persatu barisan kalimat yang bertulisan miring di depanku ini. Allah, Ya Rabb…

Untuk lelaki yang selalu bersembunyi…

Aku harap kau baik-baik di dalam bilikmu. Tidak kurang suatu apapun dan tidak hilang suatu apapun. Aamiinku dengan sungguh kesungguhan…

Untukmu… seorang lelaki yang selalu bersembunyi…

Jika bukan karena pertolongan Allah lewat dirimu, aku mungkin sudah menjadi seorang wanita gila di kota ini. Seorang putri kerajaan yang kehilangan akal warasnya karena ditinggalkan oleh kedua orang tuanya dalam waktu yang bersamaan. Seorang putri kerajaan yang ketakutan menghadapi kehidupan…

Tapi… Allah izinkan kau hadir di istana ini, sebagai seorang lelaki yang selalu bersembunyi di dalam bilikmu. Kau temani hari-hari sedihku dengan beragam cara yang selalu membuat jiwaku kuat menghadapi episode kehidupan yang teramat berat ku rasa. Kau menguatkan rongga-rongga ragaku dengan ribuan cara yang tidak pernah ku duga.

Kau lakukan itu sekian lama, di balik persembunyianmu.

Kau lakukan itu sejak aku masih berumur tujuh tahun, dengan balutan kain yang membuatku tersandung.

Kau lakukan itu sejak kau tinggal diistana ini, saat kita berumur tujuh tahun!

Adakah yang lebih sempurna dari seorang lelaki yang selalu bersembunyi? Yang harus ku tatap kedua matanya? Dan ku suguhi senyuman ridhaku?

Adakah yang lebih pantas dari seorang lelaki yang selalu bersembunyi? Yang pantas mendapati cinta dari seorang wanita yang sama sekali belum pernah tersentuh? Adakah yang lebih layak dari seorang lelaki yang selalu bersembunyi? Yang patut mendapat kejayaan karena keikhlasannya selama ini? Adakah? Adakah? Tolong jawab jika orang itu ada selain dirimu…

-Ayesha-

**

Aku bernama Zayyid Tsanif, seorang anak lelaki. Ayahku adalah penasehat kerajaan Sultan Ahmet II. Dia adalah seorang ayah yang hebat. Dipercaya turun temurun oleh keluarga kerajaan untuk mengemban amanah sebagai seorang penasehat. Jabatan yang sangat berat. Tapi dia layak. Lelaki yang sangat jujur, tawadhu, dan bijak. Hari-harinya dihiasi dengan membaca dan merenung. Kemudian dia menangis. Ingat Tuhannya, juga dosanya…

Ibuku sudah lama tiada. Ia seorang wanita pejuang yang berjuang dengan penyakitnya. Tidak didapati lagi oleh ayah wanita seperti ibu. Walau sudah sembilan belas tahun berlalu, ayah tetap menjadi seorang lelaki yang setia bagi ibu.

Semenjak ibu meninggal, ayah memboyongku ke istana tempatnya bekerja. Istana itu sungguh megah. Setiap bangunan dicat dengan warna keemasan. Kilauan cahaya dari batu-batu pualam warna warni yang ditempel di setiap sudut bangunan semakin membuat istana ini cantik. Pohon-pohon besar dan rindang berdiri menangkal sebagian panas matahari. Bunga beragam jenis menghiasi setiap sudut bangunan. Dari mulai tulip beragam warna sampai dengan anggrek beragam jenis. Air yang mengalir dari taman Sofia mengeluarkan gemericik syahdu. Sungguh aku mencintai istana ini sejak pertama kali aku menginjakan kaki di sini.

Tapi, ternyata ada yang jauh lebih indah dari istana Sultan Ahmet II ini. Setelah berhari-hari aku tinggal di sini, aku melihat seorang wanita cantik yang seumuran denganku selalu berjalan-jalan di taman depan di dekat danau yang berwarna kehijauan. Dia sangat cantik. Kerudung hitamnya menjulur ke bawah. Kadang tertiup angin, dan kadang menyentuh tanah saat dia merendahkan tubuhnya. Kadang juga ia tersandung jatuh, karena pakaiannya terlalu besar.

Dia seorang gadis yang memiliki senyuman indah. Seindah bunga tulip yang menghiasi taman Sofia. Hari demi hari, kami tumbuh di istana ini. Namun dia tidak pernah tau aku, adanya aku, dan kebiasaanku menatapnya dari kejauhan.

Ayah pernah mendapatiku sedang menatapnya dari bilik ruanganku. Ia hanya menasehatiku dengan bijak, “Dia adalah gadis penerus kerajaan ini. Layakkah jika kita hanya mengintipnya di sini sepanjang hari? Tanpa ada yang dilakukan?” Aku lanjut bertanya, “Lalu, apa yang harus aku lakukan ayah?” “Doakanlah dia menjadi putri yang bertakwa kepada Allah, yang takut hanya kepada Allah, yang setia kepada Allah, yang menyukai Allah. Dia penerus kerajaan ini. Jagalah dia, sebagaimana kau menjaga dirimu. Lindungilah dia sebagaimana kau melindungi dirimu. Hiburlah dia dengan caramu saat dia bersedih. Dia adalah penerus kerajaan ini.”
Aku berpikir. Dan mulai saat itu, dia adalah warna di setiap doaku. Nama yang tidak pernah henti aku semogakan. Dalam setiap sujud, dalam setiap air mata yang jatuh. Mulai saat itu, dia adalah orang yang selalu kuperhatikan, kulindungi sebisaku, kuhibur dengan caraku. Karena dia, penerus kerajaan ini. Meski dia tidak tahu tentang aku.

Siang itu matahari amat terik. Burung-burung diam. Angin pun tenggelam. Putri Ayesha yang saat itu berumur sembilan tahun, sedang asyik bermain dengan teman sebayanya yang tidak lain saudara-saudaranya dari pihak ayah dan dengan anak-anak sahabat kedua orang tuanya. Mereka tertawa, kemudian berebut boneka, lalu menangis. Boneka miliknya diambil oleh gadis yang berambut pirang. Dia tidak sendiri mengambil boneka itu, lelaki yang disampingnya pun ikut membantu mengambilnya dari putri. Putri Ayesha berlari ke istana dan tidak kembali. Sampai akhirnya dua hari kemudian dia bermain lagi di taman itu dengan saudaranya dan dengan membawa boneka baru yang amat aneh! Ya, itu boneka yang aku buatkan untuknya dari kain-kain bekas yang dijahit tangan. Aku kirimkan lewat mainanku.

Dan kejadian malam itu, hujan deras dipenuhi kilatan petir yang mencekam. Raja Ahmet II dan istri sedang dalam perjalanan menuju ibu kota. Sampai pagi menjelang, istana berduka! Raja Ahmet dan istri dikabarkan meninggal karena terjebak dalam topan yang dahsyat di tengah perjalanan. Hari-hari putri Ayesha kelam. Setiap hari dia habiskan untuk menangis dan mengurung diri di kamarnya. Sampai ketika aku mengirimkan dua buah lukisan wajah kedua orang tuanya, untaian puisi biasa yang biasa ku buat untuk anak-anak di desa tetangga, kisah murid-murid kecilku yang sangat mengharukan, kemudian dia mau keluar.

Dan hari ini, dia tau keberadaanku yang selama ini aku sembunyikan. Dia tau bahwa orang yang selama ini menghiburnya adalah seorang putra dari penasehat kepercayaan ayahnya yang kemarin membuatnya menangis karena perjodohan. Dia tahu bahwa seseorang telah mempertaruhkan segenap jiwa dan kekuatannya yang tak seberapa untuk menjaga dan melindungi sang penerus kerajaan.

Ku hanya menunduk. Kusimpan selembar kertas putih itu. Lalu aku mendirikan shalat.

**

Pagi ini langit Istanbul agak mendung. Siang nanti sepertinya akan tumpah air dari langit.

Ayah yang masih mengenakan baju saat sholat subuhnya mendekatiku. Dia memagang pundakku lembut, menatap syahdu ke dalam mataku, seakan tengah membaca apa yang sedang terjadi di dalamnya. Aku hanya tersenyum ringan.

“Kau adalah anak terbaikku. Kau lelaki terbaik di seluruh negeri ini. Penyejuk setiap mata yang melihatmu. Kau dicinta oleh setiap orang yang melihatmu. Ayah bukanlah seorang yang memiliki harta yang bisa diwariskan, tapi ayah punya Allah yang bisa juga kau miliki. Jika kau punya Allah maka kau punya segalanya. Allah akan membimbingmu menjalani hidup ini dengan caraNya. Berusahalah untuk menghindari laranganNya setiap saat. Kau adalah lelaki terbaik di negeri ini. Kau pecinta Allah, kau memperlakukan orang tuamu dengan begitu baik, kau ramah kepada sesama, kau pecinta kebenaran, dan kau adalah pemuda tersantun yang pernah dimiliki kota ini. Gapailah ridha Allah dengan cinta kepada sesama. Bersyukurlah selalu dengan kerendahan hati atas setiap nikmat Allah yang ada. Kau adalah sebaik-sebaik lelaki yang pernah aku miliki. Lelaki dengan ketampanan pemuda Konya. Kau adalah sebaik-sebaik lelaki yang dimiliki kota ini.

“Putri sebentar lagi akan melangsungkan pernikahan dengan Sahab, semua sudah disiapkan dengan sangat matang, demi menyongsong hari yang bersejarah. Tapi apalah daya, takdir Allah lebih kuasa, Sahab tidak patuh pada nasehat kedua orangtua yang melarangnya bepergian jauh menjelang hari pernikahannya. Sampai pada Allah menetapkan takdir untuknya dalam kecelakaan yang dialaminya dengan teman-temannya di sudut kota. Allah lebih mengetahui yang terbaik untuknya. Dalam kecelakaan itu, nyawa Sahab kembali kepada pemilikNya. Tidak ada yang bisa kami lakukan. Keluarga Sahab terpukul dan merasa bersalah kepada putri. Tak ada yang bisa putri Ayesha lakukan. Dia hanya putri meminta lelaki yang selalu bersembunyi untuk jadi peminangnya. Allah Maha Tahu, anakku.”

Aku tertegun. Masih belum bernapas. Lantas aku bersujud syukur dengan linangan air mata yang deras.

Bandung, 020815 *tesekkur edderem.

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...
Avatar
Mahasiswi tingkat akhir di salah satu univeritas di Bandung. Sebagai jurusan pendidikan bahasa saya sangat senang sekali dalam dunia tulis menulis. Ikut dalam salah satu organisasi kepenulisan Islami di kampus, yakni Al-Qolam KI untuk itu saya menggunakan media tulisan sebagai salah satu media dakwah yang semoga lebih menarik.

Lihat Juga

Polemik Al-Maidah Ayat 51, Darurat Strategi, dan Agenda Tersembunyi

Figure
Organization