Topic
Home / Berita / Nasional / DPR: Krisis Ekonomi Sekarang Mirip Situasi 98

DPR: Krisis Ekonomi Sekarang Mirip Situasi 98

Kurs rupiah terus melemah hingga menembus angka Rp 13.500 per USD.  (liputan6.com)
Kurs rupiah terus melemah hingga menembus angka Rp 13.500 per USD. (liputan6.com)

dakwatuna.com – Jakarta.  Tanda-tanda Indonesia kembali terjerumus ke dalam situasi krisis 1998, yang kala itu bahkan bisa meruntuhkan rezim Orde Baru sebenarnya sudah sangat jelas. Salah satunya, indikator pelemahan ini bisa dilihat dari loyonya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS. Belakangan ini, kurs bahkan mencapai Rp13.500 per satu dolar AS.

“Ini hal yang sama dengan krisis tahun 1998. Memang, puncaknya itu mencapai Rp18.000. Tetapi, pas April, Mei (tahun 1998), sudah kisaran itu. Ini sudah sangat membahayakan,” ujar Wakil Ketua DPR RI Fadli Zon Jumat (7/8/15), dikutip dari ROL.

Politikus Partai Gerindra itu menilai pemerintah kurang maksimal dalam mengantisipasi perlambatan ekonomi Indonesia. Dia mengaku, sudah menjelaskan langsung kepada Presiden Joko Widodo terkait kemungkinan Indonesia terjerumus mengulang sejarah kelam ekonomi 1998.

Fadli mengatakan krisis ekonomi bukan lagi diambang mata. Maka dari itu, Presiden diminta melakukan terobosan.

“Kita ini sebenarnya sudah memasuki tahap awal krisis, bukan lagi menyongsong krisis. Sehingga, pendekatannya mestinya pendekatan yang lebih konservatif,” katanya.

Kompascom memberitakan, sejak akhir pekan lalu, kurs rupiah kian melemah, bahkan menembus angka terendah pasca krisis 1998, yaitu Rp 13.539 per dollar AS.

“Kita akan terus melakukan stabilisasi. Kita terus melakukan intervensi di pasar. Kita terus melakukan pemantauan di pasar dan kita juga tidak segan-segan melakukan intervensi di pasar,” ujar Deputi Gubernur BI Perry Warjiyo di Kantor BI, Jakarta, Senin (3/8/2015).

Hingga penutupan pasar spot sore tadi, rupiah tetap lemah dan belum mampu keluar dari angka Rp 13.500 per dollar AS. Namun, Perry menyatakan bahwa BI selama ini telah melakukan intervensi kepada pasar untuk menstabilkan rupiah. Buktinya kata dia, cadangan devisa terus turun lantaran dipergunakan untuk stabilisasi rupiah. (sbb/dakwatuna)

Redaktur: Saiful Bahri

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...

Tentang

Saiful Bahri
Lahir dan besar di Jakarta, Ayah dari 5 orang Anak yang hobi Membaca dan Olah Raga. Setelah berpetualang di dunia kerja, panggilan jiwa membawanya menekuni dunia membaca dan menulis.

Lihat Juga

Rusia: Turki Maju sejak Erdogan Memimpin

Figure
Organization