Topic
Home / Pemuda / Cerpen / Saat Cinta Harus Ikhlas

Saat Cinta Harus Ikhlas

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (nuevotiempo.org)
Ilustrasi. (nuevotiempo.org)

“Dia.. yang menjaga lisannya.
Dia.. yang menjaga pandangannya
Dan dia yang menjaga hatinya”

dakwatuna.com – Status di line nya membuat aku selalu memikirkan bagaimana harus diriku berbuat kepadanya, ia menyadarkanku pada suatu hal. Entah bagaimana awalnya sehingga aku bisa menjadi teman di line ini. Sungguh, jika Allah meridhai, aku ingin menjadikannya sebagai bidadari dunia dan surgaku.

Pandangannya menunduk jika berjalan, sekali-kali melihat tegap, namun ia kembali lagi menunduk, pipinya terlihat kemerah-merahan dan di bibirnya seolah ada senyum yang terpaksa ia tahan. Wajahnya kemalu-maluan. Lelaki mana yang tak tertarik padanya, ia begitu menahan pandangannya dan sifatnya, ia berbeda dari kebanyakan muslimah lainnya. Melihatnya hanya dengan diam dan menahan rasa, ini yang mampu lakukan.

“Dia tersenyum !!!” tukasku pada Yahya, teman satu kost denganku.

“Dia siapa??” Tanya Yahya sambil menatapku heran.

“Akhwat yang waktu itu!” tegasku mengingatkan Yahya.

“Ketika kita salipan, kemaren sore di halaman masjid!” tegasku mengingatkan Yahya kembali

“Senyum sama ente Di?” Tanya Yahya sambil mengernyitkan dahinya

Aku menggeleng perlahan sambil mengangguk, Yahya tetap memandangku sambil mengernyitkan dahinya.

“Bukan sama ane, tapi sama akhwat lainnya Ya!” tukasku sambil cengengesan. Yahya mengelus dadanya dan tak ada lagi kernyitan di dahinya.

“Sepertinya penyakit ente ini sudah stadium akhir Di, mesti di terapi ni!” tukas Yahya sambil menarik tanganku.

“Terapi apa’an ?”

Ente ini sudah terjangkit virus merah jambu, dan mesti diterapi!”

“Yahya. Ane ini masih waras kok.. dan ane insyaa Allah masih bisa menjaga rasa ini, sampai nanti kami dipertemukan di pelaminan!” tegasku sambil menatap langit kamar

“Astagfirullah, Adi. Mending ente segera ambil wudhlu terus ngaji deh,,, banyak setannya kayanya ente ini.”

***

Aisyah Asshafiyah, nama wanita itu. Bahkan kami tak pernah berkenalan, mengetahui namanya saja dari seorang teman. Sesekali kami bertemu, meskipun hanya sekadar berpapasan, entahlah apa yang direncanakan Allah sehingga aku seringkali menemukannya, meskipun ia tak pernah melemparkan pandangannya terhadapku.

Lagi-lagi hari ini ia tersenyum, meskipun bukan kepadaku. Astaghfirullah… aku sadar, aku tak selayaknya mempunyai perasaan yang berlebih seperti ini. Sesering aku mengingatnya sesering mungkin aku beristighfar. Allah, maafkan hambamu ini.

Pernah ada rasa ingin melupakannya, karena memang, aku tak sepantasnya mempunyai rasa yang berlebih seperti ini kepada wanita yang belum halal untukku, aku belum sanggup untuk melamarnya, ya aku belum sanggup. Berdiam diri, memperhatikannya dari kejauhan, mengetahui aktivitasnya dari akun sosmednya adalah hal yang sering aku lakukan, namun lagi-lagi aku menyadari, ada malaikat yang selalu mengawasiku, tak sepantasnya aku lakukan ini. Ketika hati ini bergejolak ingin menemuinya, meskipun hanya sekadar berpapasan, di lain hal aku selalu menyadari jika hal yang kulakukan ini salah. Yah… serumit inilah aku menjaga perasaan hatiku terhadapnya.

Terkadang aku tak yakin, jika dia bukan wanita yang dijodohkan oleh Allah untukku, karena aku sangat menyadari, kualitasnya dan aku sangat berbeda jauh, aku masih saja tak mampu menundukkan pandangan, sedangkan ia adalah wanita yang sempurna akhlaknya, itu bagiku.

“Insyaa Allah, bulan depan ane walimahan!” tukas Bang Rahman

Alhamdulillaaaah….!!” Seruku dan teman-teman yang lain. Di lingkaran kecil ini, kami biasa menamakannya Liqo’an.

“Akh Adi, ntar ente cs bisa jadi kepanitiaannya, ente PJ ny. Jangan lupa nampilin nasyid dari antum ya?” pinta Bang Rahman sambil memegang pundakku.

Insyaa Allah Bang,,” jawabku sambil tersenyum manis

“Semoga antum lekas nyusul juga Di, ama si akhwat itu!” timpal Yahya sambil menatapku cengengesan. Sebelum aku menjawab Bang Rahman langsung menimpali pula.

Alhamdulillah,, sudah ada calonnya ya, segerakan aja akh, jangan ditunda-tunda” tegas Bang Rahman sambil tersenyum

“Belum Bang, masih ditargetin!” jawabku sambil menahan senyum.

Bang Rahman, adalah Murabbiku saat ini, beliau sering memotivasiku dengan kata-katanya yang sangat luar biasa. Ketika ada masalah ia terkadang merasa dengan hanya melihatku, padahal Yahya sering tidak mengetahui, meskipun ia teman satu kostku. Bang Rahman sudah kuanggap sebagai kakakku sendiri.

Afwan Di, antum di kos kah? Ane mau minta tolong anterin undangan walimahan ane bisa?” pesan Bang Rahman mampir melalui jejaringan whatsapp.

Insyaa Allah bisa, tapi ane ni lagi di kampus, insyaa Allah di rumah ada Yahya, titipkan ke beliaua bang!” balasku.

Aisyah Asshafiyah, lagi-lagi aku bertemu dengannya, dan lagi-lagi dia tak pernah sedikitpun menoleh kepadaku.

“Selamat ya Fiya. Do’ain aku segera nyusul juga!” tukas teman akhwatnya sambil menjabat tangan Asshafiyah. Aku hanya berpapasan dan hanya mendengar kata itu dari temannya. Ada apa dengan Asshafiyah?

“Akh Yahya, ada titipan dari Bang Rahman?” Tanyaku pada Yahya ketika ia berada di depan kost, sambil memegang gitarnya.

“Ada, sebagian sudah ane bagikan, ntar sisa nya biar ane lagi aja yang antar, udah bilang ke Bang Rahman kok!”

“Oh, syukran.. Buku yang ane titip ke antum tadi pagi mana?”

“Di tas ane, ambil aja!”

Terapi Virus Merah Jambu. Judul buku yang kutitipkan pada Yahya. Ingin tertawa juga ketika membaca judul buku ini, tapi buku ini yang disarankan oleh Yahya.

“Fathur Rahman & Aisyah Asshafiyah”

Nama itu, nama itu tertulis jelas di undangan walimahan ini.

“Degg!”

Bagai dunia dalam kegelapan, pandanganku nanar, seolah ada yang sakit di dalam dada ini, ada yang salah di hati ini. Ya Allah…

“Ya sudah, ngga papa sih akh, kalau antum ngga mau ngasih tau siapa akhwat yang antum target kan itu!” aku mengingat kata-kata bang Rahman waktu lalu. Ya Allah,, bagaimana jika saat itu aku memberitahukan kepadanya jika wanita yang akan dihalalkannya aku menyimpan rasa padanya.

Ya Allah, sesakit ini kah mencintai seseorang yang belum halal untukku. Astaghfirullah…. Ampuni aku ya Allah.

Setelah beberapa hari mencoba mengikhlaskan seseorang yang belum halal untukku, hari ini adalah saat di mana akhir dari pengikhlasan itu. Aku harus benar-benar rela untuk melepaskannya pergi. Aku yakin, Allah telah mempersiapkan yang terbaik buatku, secara tidak langsung, Allah juga memintaku untuk memantaskan diri J .

“Tak akan lupakanmu
Tapi kuharap bisa mengikhlaskan cinta
Karena kuyakin rencana-Nya lebih indah
Jika berjodoh kita kan disatukan-Nya.

Tak mau hapuskanmu
Tapi kurela melepaskanmu kepadan-Nya
Karena kuyakin pilihan-Nya yang terbaik
Jika tak bersatu. Allah kan pilihkan jodoh yang lebih baik.”

Lantunan nasyid yang berjudul Cinta Dalam Ikhlas yang biasa di bawakan Kang Abay, sengaja kami bawakan.

Awalnya berat untuk menghadiri acara ini, melihat wanita yang dicintai menikah bersama orang lain. Astaghfirullah

Bang Rahman sudah mengamanahkan aku sebagai penanggung jawab acaranya ini, tak mungkin aku melepaskan amanah ini, dan lebih memilih tak berperan di acara ini, aku tak ingin menuruti kemauan diri yang menurutku salah.

Semoga Allah menjadikan mereka pasangan dunia dan akhirat. Aamin.. Aamin ya Robbal alamin….

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...
Reni Novita Lestari
Mahasiswi di Universitas Palangka Raya senang dengan dunia kepenulisan selalu ingin belajar menyampaikan kebaikan dengan tulisan

Lihat Juga

Semusim Cinta, Ajang Menambah Ilmu dan Silaturahim Akbar WNI Muslimah Se-Korea Selatan

Figure
Organization