Topic
Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Jalan Terjal Mempertahankan Takwa

Jalan Terjal Mempertahankan Takwa

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
ilustrasi (inet)
ilustrasi (inet)

dakwatuna.com – Idul fitri merupakan hari spesial bagi umat Islam. Pasalnya pada hari itu kaum muslimin merayakan kemenangan setelah sebulan penuh menunaikan amaliyah Ramadhan.. Semua kita berharap Ramadhan dapat mengantarkan kita pada derajat takwa. Derajat yang paling tinggi di sisi Allah yang memancarkan cahaya dalam menuntun hidup ini. Orang yang bertakwa akan berusaha secara maksimal dalam melaksanakan ketaatan pada Allah. Perintah Allah dilaksanakan dan larangan ditinggalkan secara konsekwen. Hidup dan kehidupannya hanya semata mencari ridho Allah sebagai bukti ikrar syahadatnya pada yang Maha Kuasa. Makanya, di bulan Syawal ini kita dituntut untuk membuktikan ketakwaan dalam bentuk peningkatan ibadah.

Agar derajat takwa selalu menghiasi diri dan mampu meneranggi hidup dalam menapaki jalan kebenaran. Apalagi di bulan Syawal yang identik dengan hari suka cita. Berbagai aktivitas silaturahmi dan mengunjungi tempat wisata menjadi pilihan banyak orang. Tak jarang justru dalam kegiatan tersebut menyebabkan seseorang lalai dan terlena. Ibadah yang telah dirasakan kelezatannya selama Ramadhan secara perlahan hilang dalam diri seseorang. Akibatnya kesholehan seseorang mulai redup dengan berlalunya Ramadhan. Sejatinya Syawal yang bermakna bulan peningkatan, harusnya ibadah kita juga semakin meningkat sebagai buah manis Ramadhan yang telah dinikmati. Di sinilah peran takwa sangat berguna dalam membuktikan kesuksesan Ramadhan kita.

Makanya ada lima jalan terjal berliku yang penuh tantangan yang kita harus lalui dalam mempertahankan derajat takwa dalam diri kita. Di katakan sebagai jalan terjal yang berliku karena jalan ini tak mudah dilewati, butuh perjuangan dan pengorbanan hebat dalam mencapai semua itu. Adapun jalan tersebut adalah. Pertama, jalan mu’ahadah yakni mengingat perjanjian dengan Allah. Sungguh, sejak dalam kandungan ibu kita, di saat ruh ditiupkan ke dalam jasad, kita telah berjanji untuk menyatakan bahwa Allah sebagai Rab dan Illah . Dalam QS. Al A’raf 172 dijelaskan, “ Bukankah Aku ini Tuhanmu? Mereka menjawab, “Betul ( Engkau Tuhan kami ), kami bersaksi”.

Begitulah perjanjian kita dengan Allah untuk menjadikan-Nya sebagai Tuhan Yang disembah. Dengan selalu mengingat perjanjian tersebut maka tentunya kita berusaha untuk selalu mematuhi segala ketentuan Allah dalam menapaki kehidupan ini. Kita berusaha melaksanakan perintah Allah dan menjauhi segala larangan-Nya sebagai konsekuensi takwa dalam diri.

Kedua, jalan muraqabah yakni selalu merasa diawasi Allah. Sifat ini sangat kuat untuk dapat menghadirkan nilai takwa dalam diri seseorang. Orang yang selalu merasa diawasi Allah maka akan berhati-hati dalam hidup dan kehidupan. Mereka akan berpikir sebelum berucap, bertindak dan berbuat hingga berbagai maksiat dapat dihindarinya. Mereka merasakan keagungan Allah di setiap waktu dan keadaan dan juga merasakan kebersamaan di kala sepi atau ramai. Allah berfirman,” Yang melihat kamu ketika berdiri dan melihat pula perubahan gerak badannya di antara orang-orang yang sujud” ( Asy Syu’araa 218-219 )

Ketiga, jalan muhasabah yakni menghitung atau instropeksi diri. Menghitung diri merupakan salah satu usaha untuk selalu menghadirkan takwa dalam diri sendiri. Kita berusaha menghitung diri dan mengevaluasi amal kebaikan atau keburukan yang telah dilakukan. Dengan evaluasi diri, kita akan dapat mengetahui sejauh mana kebaikan yang telah kita lakukan dalam persiapan menghadapi hari kebangkitan. Dalam QS. Al-Hasyr 18, Allah berfirman, “ Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari akhirat, dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.”

Keempat. Jalan mu’aqobah yakni, berani memberikan sanksi pada diri sendiri. Ketika kita melakukan sebuah kesalahan maka kita harus mampu memberi sanksi atau hukuman pada diri kita sendiri. Apabila seorang mukmin melakukan kesalahan maka tak pantas baginya membiarkannya. Sebab membiarkan diri dalam kesalahan lambat laun akan menjadi kebiaasaan sehingga semakin sulit untuk meningalkannya. Makanya dengan keberanian dalam memberi sanksi, tentu sifatnya yang mubah dapat memberikan efek jera sehingga akan membuat diri kita tidak akan mengulangi kesalahan yang sama.

Kelima, jalan mujahadah yakni, bersungguh-sungguh dalam beribadah . Untuk mendapatkan takwa kita harus bersungguh-sungguh dan optimal dalam beribadah. Tujuan utama dari setiap ibadah adalah meraih takwa seperti ibadah puasa yang telah kita lakukan . Mustahil kita akan meraih derajat takwa dengan ibadah yang sederhana dan tidak berkualitas. Kesungguhan seseorang dalam melaksanakan ibadah akan berimbas pada kualitas dan mutu ibadahnya. Makanya, di bulan Syawal ini kita harus mampu mempersembahkan ibadah terbaik dalam menggapai derajat takwa sebagai jalan mudah menuju surga. Balasan yang berharga bagi orang-orang yang bertakwa atas kesungguhannya dalam beribadah pada Sang Pencipta. Semoga Allah memudahkan langkah kita sekalipun harus melewati jalan terjal yang berliku.

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...

Tentang

Avatar
Lahir di Batusangkar tanggal 28 September 1967. SD sampai SMA di Batusangkar dan menamatkan S1 pada Fakultas Tarbiyah IAIN Imam Bonjol Batusangkar. Tamat April 1993 dan kemudian mengajar di MTSN Batusangkar sebagai tenaga honorer. Tahun 1992-2005 aktif mengelola kegiatan Pendidikan dan Dakwah Islam di bawah naungan Yayasan Pendidikan Dakwah Islam Wihdatul Ummah. Tahun 1995 bersama aktivis dakwah lainnya, mendirikan TK Qurrata Ayun , tahun 2005 mendirikan SDIT dan PAUD. Semenjak tahun 1998 diangkat sebagai guru PNS dan mengajar di SMAN 2 Batusangkar sampai sekarang. Tahun 2012 mendirikan LSM Anak Nagari Cendekia yang bergerak di bidang dakwah sekolah dan pelajar diamanahkan sebagai ketua LSM. Di samping itu sebagai distributor buku Islami dengan nama usaha Baitul Ilmi. Sejak pertengahan Desember 2012 penulis berkecimpung dalam dunia penulisan dan dua buku sudah diterbitkan oleh Hakim Publishing Bandung dengan judul: "Daya Pikat Guru: Menjadi Guru yang Dicinta Sepanjang Masa dan Belajar itu Asyik lho! Agar Belajar Selezat Coklat. Kini tengah menyelesaikan buku ketiga Guru Sang Idola: Guru Idola dari Masa ke Masa. Di samping itu penulis juga menulis artikel yang telah dimuat oleh Koran lokal seperti Padang Ekspress, Koran Singgalang dan Haluan. Nama istri: Riswati guru SDIT Qurrata Ayun Batusangkar. Anak 1 putra dan 2 putri, yang pertama Muthiah Qurrata Aini (kelas 2 SMPIT Insan Cendekia Payakumbuh), kedua Ridwan Zuhdi Ramadhan (kelas V SDIT ) dan Aisyah Luthfiah Izzati (kelas IV SDIT). Alamat rumah Luak Sarunai Malana Batusangkar Sumbar.

Lihat Juga

Bentuk-Bentuk Penyimpangan di Jalan Dakwah (Bagian ke-3: Persoalan Jamaah dan Komitmen (Iltizam))

Figure
Organization