Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / 1 Syawal di Kampung Halaman Orang Lain

1 Syawal di Kampung Halaman Orang Lain

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi(inet)
Ilustrasi(inet)

dakwatuna.com Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar… Laaila hailllah huwallahu Akbar, Allahu Akbar Walillah Ilham…3x

Itulah gema takbir berkumandang di seantero negeri ini, hari kemenangan yang dinantikan oleh setiap umat muslim di bumi ini, di mana hari raya umat muslim kembali ke fitri, kembali bersih dari noda dan dosa.

1 Syawal 1436 H yang jatuh tepat di hari Jumat penanggalan 17 Juli 2015 lalu, merupakan hari raya yang berbeda dibandingkan hari raya idul fitri pada tahun – tahun sebelumnya, hari raya yang dirayakan jauh dari kampung halaman, seperti itulah yang dirasakan olehku, sebagai seorang relawan pendidikan yang mesti mengabdikan diri untuk daerah 3T (Terdepan, Terluar dan Tertinggal).

Jika pada tahun sebelumnya, aku melewati bulan ramadhan bersama keluarga tercinta, kini di tahun ini mesti merasakan bulan puasa jauh dari keluarga dan jauh dari kampung halaman. Namun, aku tak sedih sedikit pun walaupun terkadang merasakan hal yang demikian. Tapi di sini di daerah penempatanku, sebagai daerah pengabdianku selama setahun di daerah Pandeglang Banten, aku merayakannya dengan keluarga baru, keluarga yang begitu baik padaku, sudah aku rasakan, rasa sayang dan rasa cinta dengan tulus. Ya, merekalah keluarga baruku di tanah pengabdian.

Seperti kebanyakan orang lain yang notabene saat menjelang 1 Syawal, banyak yang mudik ke kampung halamannya masing – masing, guna merayakan hari idul fitri bersama keluarganya, namun aku tetap di tanah pengabdian ini, sekadar ingin merasakan lebaran di kampung orang lain, jauh dari keluarga dan jauh dari keramaian hiruk pikuk kampung halaman. Keadaan ini juga dirasakan oleh dua orang teman relawan di daerah penempatan, di mana mereka juga tak mudik dan merasakan lebaran di tanah pengabdian, yaitu saudara Heriyanto dan saudari Nurhasanah.

Pengalaman hari raya di kampung halaman orang lain menjadi salah satu pengalaman yang sangat menarik bagiku. Adat istiadat, kebiasaan serta pola silahturahim yang berbeda yang pernah aku rasakan di kampung halamanku sendiri.

Setelah shalat ied, kebiasaan penduduk di desa Kutakarang ini, langsung berkumpul dengan orang tua mereka masing – masing. Jika berada di kampung yang jauh dari rumah orang tua, maka mereka segera menuju kampung orang tua mereka berada, karena penduduk di sini, rata – rata berdomisili di kampung sebelah. Dalam artian tak jauh dari kampung orang tuanya, atau boleh dikatakan masih dalam satu kawasan desa.

Kebiasaan yang lain juga yaitu, makan – makan di hari raya. Lumrahnya, yaitu opor ayam dan ketupat. Namun, di sini lauknya berupa daging kerbau yang di olah menjadi berbagai jenis masakan, sate, santan, goreng dan masih banyak lagi yang lainnya. Dari segi kue hidangan yang disajikan ketika tamu datang untuk silahturahim, tidak jauh beda dengan hari – hari di luar hari raya, tidak ada yang istimewa, seperti pada masyarakat umumnya, di mana mereka mesti menyiapkan kue – kue kering dengan minuman yang berbagai merk.

Inilah kesederhanaan yang aku rasakan di tanah pengabdianku selama setahun, mengikuti program Sekolah Guru Indonesia – Dompet Dhuafa. Pengalaman yang tak pernah dapat aku lupakan, menjadi salah satu bagian dari masyarakat Banten di daerah terpencil. Allahu Akbar….

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...

Lihat Juga

Khutbah Idul Fitri 1439 H: 8 Pelajaran dari Ramadhan