Topic
Home / Berita / Nasional / Kilas Balik Menuju Peringatan 100 Tahun Dan Muktamar Mathla’ul Anwar Ke 19 di Pandeglang

Kilas Balik Menuju Peringatan 100 Tahun Dan Muktamar Mathla’ul Anwar Ke 19 di Pandeglang

Muktamar Ke-19 Mathla'ul Anwar. (sarda-ma.blogspot.com)
Muktamar Ke-19 Mathla’ul Anwar. (sarda-ma.blogspot.com)

dakwatuna.com – Mathla’ul Anwar berdiri pada 10 Ramadhan 1334 H, bersamaan dengan tanggal 10 Juli 1916 M. didirikan oleh para kiayi di sekitar Menes, Pandeglang, Banten diantaranya adalah: Kyai Moh. Tb. Soleh, Kyai H. E. Moh Yasin, Kyai Tegal, Kyai H. Mas Abdurrahman, K.H. Abdul Mu’ti, K.H. Soleman Cibinglu, K.H. Daud, K.H. Rusydi, E. Danawi, K.H. Mustagfiri dan sejumlah tokoh lainnya.

Dalam usia seratus tahun ini Mathla’ul Anwar termasuk organisasi yang tua dan mampu bertahan sampai saat ini. Tidak banyak organisasi yang mampu bertahan sampai usia seratus tahun. Sejak pendiriannya sampai sekarang, Mathla’ul Anwar fokus pada tiga bidang amal baktinya yaitu: pendidikan, dakwah dan sosial.

Bidang pendidikan diwujudkan dalam bentuk pendrian lembaga pendidikan berupa sekolah dan madrasah yang saat ini ada sekitar 2000 satuan pendidikan di Seluruh Indonesia. Bidang dakwah berupa pengiriman tenaga dakwah ke berbagai tempat untuk memberikan siraman rohani yang menyejukan bagi umat. Sedangkan bidang sosial dengan mengembangkan panti asuhan, rumah sakit dan pemberdayaan masyarakat melalui dana Zakat, Infaq dan Sedeqah.

Moment peringatan seratus tahun Mathla’ul Anwar sengaja difokuskan di Pandeglang sebagai tempat kelahirannya sekaligus menjadi salah satu basis masa Mathla’ul Anwar. Filosofinya adalah agar Mathla’ul Anwar kembali mengingat dan meneladani semangat perjuangan para pendirinya dahulu sebagai bekal untuk membangun Mathla’ul Anwar seratus tahun berikutnya.

Seratus tahun lalu salah satu tokoh pendiri Mathla’ul Anwar yaitu K.H.E. Moh. Yasin yang baru kembali dari rapat Syarikat Dagang Islam (SDI) di Bogor mengajak beberapa tokoh lainnya untuk mendirikan organisasi dengan harapan muncul seberkas sinar. Nama inilah kemudian kemudian menjadi MATHLA’UL ANWAR (bahasa Arab, yang artinya tempat lahirnya cahaya).

Berbeda dengan Haji Samanhudi yang melihat masalah umat dari segi ekonomi dengan membentuk SDI, para tokoh Mathla’ul Anwar mengatasi kondisi umat dengan memberi ilmu yang menjadi sumber kebangkitan dunia karena “Ilmu itu adalah cahaya”. Memberi ilmu ini diimplementasikan dengan mendirikan lembaga pendidikan berupa madrasah;

Pendirian Mathla’ul Anwar diawali dengan mendirikan madrasah modern yang menerapkan system klasikal kelas A, B, 1, 2, 3, 4, 5, 6 dan 7 secara berjenjang yang saat itu belum diterapkan oleh pribumi, kecuali Belanda. Ini merupakan sumbangsih dan terobosan Mathla’ul Anwar dalam mengembangkan system pendidikan modern di Indonesia.

Motif utama pendirian Mathla’ul Anwar adalah karena adanya keprihatinan para tokoh masyarakat mengenai kondisi masyarakat saat itu yang berada dalam himpitan penjajah Belanda sehingga menjadi masyarakat yang penuh dengan kebodohan, khurafat, tahayul serta bid’ah;

Misi Mathla’ul Anwar ini sesungguhnya selaras dan senafas dengan salah satu tujuan pendirian NKRI yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa. Jauh sebelum kemerdekaan yaitu tahun 1916, Mathla’ul Anwar sudah melaksanakan misi mulia ini. Sepanjang perjalanan sejarahnya, Mathla’ul Anwar juga selalu selaras dengan program Pemerintah. Karenanya wajar jika Pemerintah juga memberi perhatian terhadap perjuangan Mathla’ul Anwar.  Salah satunya adalah dengan mengangkat pendiri Mathla’ul Anwar sebagai pahlawan.

Dalam cara beragama, Mathla’ul Anwar mengajarkan kepada warganya untuk hidup toleran dan harmonis tidak mengedepankan perbedaan karena perbedaan itu adalah rahmat. Mathla’ul Anwar tidak fanatik dengan mazhab tertentu namun membolehkan warganya untuk menganut mazhab yang empat yaitu; Syafi’i, Hanafi, Maliki, dan Hambali. Justeru faham toleran (tasamuh) seperti inilah yang diperlukan dalam iklim yang kian pluralitas saat ini sehingga energy bangsa ini tidak terkuras pada konflik yang tidak penting.

Mathla’ul Anwar sejak kelahirannya memang fokus untuk membina masyarakat di pedesaan sehingga jarang terdengar dan kurang terkenal. Saat ini Mathla’ul Anwar sudah memiliki perwakilan di 30 Provinsi dan mengelola ribuan lembaga pendidikan berupa madrasah dan sekolah di seluruh Indonesia serta satu Universitas yaitu; Universitas Mathla’ul Anwar (UNMA) yang terletak di desa Sindanghayu, Kecamatan Saketi, Kabupaten Pandeglang. UNMA yang dimilik-pun lokasinya berada di desa karena ditujukan kepada masyarakat di pedesaan yang kurang mampu agar bisa mengecap pendidikan tinggi yang berkualitas.

Dalam meningkatkan mutu pendidikan ini, Mathla’ul Anwar telah bekerjasama dengan beberapa negara di Asia seperti Singapore dan Malaysia serta negera di Timur Tengah. Harapan kedepan, agar kualitas pendidikan Mathla’ul Anwar setidak-tidaknya setara dnegan Singapore. Salah satu bentuknya adalah dengan mendirikan Sekolah “Mathla’ul Anwar Global School” (MAGS) yang berlokasi tidak jauh dari tenpat pertama kalinya Mathla’ul Anwar didirikan dahulu.

Kedepan, Mathla’ul Anwar harus lebih kuat lagi dalam menjalankan misi utamanya yaitu: pendidikan, dakwah & sosial dengan bersinergi bersama Pemerintah dan bekerjasama dengan berbagai pihak baik di dalam maupun luar negeri.  (Oke Setiadi/sbb/dakwatuna)

Redaktur: Saiful Bahri

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...

Tentang

Saiful Bahri
Lahir dan besar di Jakarta, Ayah dari 5 orang Anak yang hobi Membaca dan Olah Raga. Setelah berpetualang di dunia kerja, panggilan jiwa membawanya menekuni dunia membaca dan menulis.

Lihat Juga

Muktamar IMSA-MISG Tahun 2017 Resmi Dibuka

Figure
Organization