Topic
Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Sekolah Para Pengais Sampah

Sekolah Para Pengais Sampah

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
ilustrasi (inet)
ilustrasi (inet)

dakwatuna.com – Matsudi, seorang bapak asal Jawa Timur yang sudah belasan tahun hijrah ke kota Pontianak. Ustadz Matsudi, beliau biasa dipanggil. Berbekal lahan milik keluarga dan niat tulus ikhlas untuk membantu sesama, Ustadz yang berperawakan tinggi dan bertubuh berisi ini berinisiatif mendirikan sebuah madrasah diniyah. Agaknya beliau ingin benar-benar mempraktekkan ajaran sebagaimana hadist yang menyatakan, “… Dan sebaik-baik manusia adalah orang yang paling bermanfaat bagi manusia.” (HR. Thabrani dan Daruquthni). Melalui madrasah ini, ilmu-ilmu ditularkan pada masyarakat sekitar yang sebagian besar warganya adalah dhuafa.

Puluhan tahun beliau mengajar anak-anak dan remaja sekitar Siantan Hilir, Pontianak Utara. Bangunan yang digunakan jauh dari layak. Mulai dari memasuki gapura depan halaman, atapnya sudah berlubang-lubang. Lokal yang digunakan sebagai sarana belajar apa lagi. Bangunan berdiri semi permanen, terbuat dari papan dan atapnya seng yang kusam penuh lubang. Dinding papan yang menjadi saksi bisu pun tak berdiri kokoh dan tak tertata dengan rapi, spanduk bekas menjadi penghalang ketika matahari begitu menyengat dan tempias di kala hujan. Baunya? Jangan ditanya. Aroma sampah yang menyesakkan dada, apek.

Menyesuaikan dengan kebutuhan masyarakat sekitar, madrasah diniyah ini bertransformasi. Semua kelengkapan administrasi dan penunjang lainnya dipenuhi, sehingga pada tahun 2011, madrasah ini berubah status menjadi Sekolah Dasar Swasta Islam Miftahusshalihin dengan kondisi yang masih tetap sama, kecuali tempat tinggal uztadz Matsudi, area musholla, dan kamar mandi. Dana dari donatur dan iuran keluarga mampu memberi sedikit polesan bangunan-bangunan tersebut sehingga menjadi lebih baik.

Sekolah tanpa tarif ini diperuntukkan bagi anak-anak pemulung, pengais sampah. Kenapa begitu spesifik siswanya? Ya, karena memang lingkungan sekolah ini berada di sekitar Tempat Pembuangan Akhir (TPA). Mana ada yang mau keluarga berada menyekolahkan anak-anaknya di tempat demikian? Tidak ada. Sebuah sekolah yang membuat hati ini terhenyak dan mata terbelalak. Bagaimana tidak, sekolah ini jaraknya tidak terlalu jauh dari kota Pontianak dan tidak masuk di daerah terpencil. Tapi keadaannya begitu memprihatinkan. Ditambah lagi, potongan kisah yang sering ditunjukkan anak-anak ke sekolah. Tak jarang, mereka membawa kue-kue bermerk mahal, tapi sudah tak tersegel dan kadaluarsa. “itu kue apa, darimana kamu membelinya?” tanya Dian, seorang guru di sekolah itu. Anak-anak tanpa rasa jijik menjawab, “Hasil mengambil dari sampah bu”. Mereka terbiasa hidup di lingkungan tidak sehat, dan mendapatkan pendidikan seadanya. Tak perlu muluk-muluk memikirkan ini itu untuk kemewahan, yang penting pendidikan terus berjalan. Anak-anak bagaimanapun keadaannya butuh dan perlu dididik. Maka dari itu, melihat antusias dan motivasi mereka datang ke sekolah untuk belajar saja sudah Alhamdulillah, dari pada menyaksikan mereka sekedar main-main tak jelas dan harus mencari nafkah yang belum saatnya. Meskipun tidak jarang juga mereka ikut membantu kerja orang tua, memungut sampah. Tapi, bukankah pendidikan itu sudah dijamin negara? “Setiap warga negara berhak mendapatkan pendidikan”. Tanpa memandang embel-embel status apa dan siapa.

Bukan keterbatasan dan minimnya sarana yang ingin kita umbar, akan tetapi kita ingin menunjukkan betapa masih ada orang-orang yang peduli di sekeliling kita, mau berbagi dan berbuat untuk pendidikan negeri ini. 11 guru yang rela setiap hari mengajar di SD ini dengan upah dunia yang tak seberapa jika dihitung-hitung. Tapi mereka meyakini ada nikmat lain yang lebih besar dan mewah dari sekedar harga dunia. Menjadi kawan dan pendengar cerita bagi anak-anak. Masih banyak anak negeri ini yang punya semangat maju meskipun dilingkupi keterbatasan. Selalu ada asa untuk pendidikan negri ini. Semoga.

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...
Avatar
Alhamdulillah sempat bergabung dengan divisi pendidikan di Sekolah Guru Indonesia-Dompet Dhuafa (SGI-DD) sebagai relawan guru untuk wilayah penempatan Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat (2014-2016) Saat ini menjadi bagian di School of Life Rumah Cahaya (Alam-Montessori-Islami)

Lihat Juga

Program Polisi Pi Ajar Sekolah, Pengabdian Polisi Jadi Guru SD dan TK

Figure
Organization