Home / Berita / Opini / Erdogan, Jokowi serta Hubungan Agama dan Negara

Erdogan, Jokowi serta Hubungan Agama dan Negara

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan tiba di Indonesia disambut Deputi Menko Ekonomi dan Keuangan, Kamis (30/7/15).  (@DailySabah)
Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan tiba di Indonesia disambut Deputi Menko Ekonomi dan Keuangan, Kamis (30/7/15). (@DailySabah)

dakwatuna.com – Banyak pelajaran yang dapat kita petik dari kedatangan Presiden Turki Recep Tayyeb Erdogan ke Indonesia. Dari sekian banyak itu, kita ambil satu soal yang memiliki momentum sangat tepat, yakni terkait relasi agama dan Negara di Tanah Air.

Hubungan agama dan Negara di negeri ini menjadi wacana yang tak pernah berakhir. Bukti tak terbantahkannya adalah saat menjelang pemilu. Isu ini tiba-tiba menghangat dan menjadi sangat penting untuk dibahas. Kita ambil contoh saat menjelang pilpres 2009. Dalam debat cawapres yang disiarkan langsung oleh stasiun televisi nasional, pertanyaan tentang relasi Islam dan Negara ditanyakan oleh moderator acara Prof Komaruddin Hidayat. “Bagaimana menurut Anda sebaiknya hubungan antara agama dan Negara (politik)?”

“Agama harus kita tempatkan di atas politik,” kata Boediono yang diamini oleh Prabowo Subianto. Sedangkan Wiranto lebih menukik tajam. “Agama memang harus dipisahkan dari politik, tapi nilai-nilai moralnya harus menjadi spirit agar politik menjadi santun dan berakhlak. Keesokan harinya, Koran Tempo menulis.” Ketiganya sepakat memisahkan agama dari politik.”

Relasi agama dan Negara memang mengalami dinamika sejak sebelum dan sesudah kemerdekaan. Namun, hubungan keduanya lebih banyak diwarnai ketegangan. Sebut saja soal Piagam Jakarta, pembubaran Masyumi di zaman Soekarno, peristiwa Tanjung Priok di era Soeharto hingga kemudian maraknya isu teroris di masa kini.

Di masa pemerintahan Jokowi yang belum genap setahun, hubungan agama dan Negara semakin hari kian mencemaskan. Pemblokiran media Islam online hingga penanganan tragedi pembakaran masjid di Tolikara, menjadi gambaran adanya catatan pada hubungan antara agama dan Negara.

Mengapa di usia kekuasaannya yang sangat singkat, rezim Jokowi begitu terlihat ketidaksukaanya kepada Islam? Jawabannya sederhana, karena inner circle Jokowi merupakan “kelanjutan” dari orang-orang yang phobia terhadap Islam di masa Orde Lama dan Orde Baru. Tanpa menyebut nama, kita sudah kenal siapa mereka.

Islamophobia, begitulah kita kerap menyebut mereka. Orang-orang semacam ini sangat takut jika Islam berkuasa di Indonesia. Karena itu dengan segala cara mereka membuat hubungan agama dan Negara selalu tegang. Juga melakukan political decay atau pembusukan politik terhadap politisi Islam dengan cara mengkriminalisasi melalui kasus korupsi, doyan perempuan dan sebagainya.

Islamophobia adalah sebuah penyakit yang lahir dari, “Perasaan kurang percaya diri golongan minoritas,” kata mantan Ketua LIPI, Taufik Abdullah. Minoritas yang percaya diri, ujar Taufik, pasti tidak akan takut pada Islam. Mereka akan bergaul dengan siapa saja seperti dalam memperjuangkan demokrasi dan musyawarah. (Politik Demi Tuhan, Pustaka Hidayah, 2000)

Islamophobia ini lahir karena adanya kecurigaan yang berlebihan. Kecurigaan itu kemudian dibungkus dengan menghembuskan berbagai macam mitos seputar Islam dan keindonesiaan. Salah satu yang begitu gencar ditiupkan adalah mitos tentang disintegrasi bangsa ketika Islam dijadikan sebagai ideologi. Padahal, tidak ada bukti sejarah yang valid bahwa Islam menjadi sumber perpecahan bangsa. Umur persatuan bangsa, kata Anis Matta, tidak ditentukan oleh ideologi yang dianut suatu bangsa, namun oleh umur keadilan politik, sosial dan ekonomi. (Anis Matta, Dari Gerakan ke Negara, Penerbit Fitrah Rabbani, 2006)

Timor-Timur yang lepas dari NKRI, bukan karena di sana diterapkan syariat Islam, tapi karena ketidakadilan dalam berbagai bidang. Nanggroe Aceh Darussalam yang “memberontak”, juga bukan karena syariat Islam, namun karena tak adanya keadilan ekonomi dan sosial. Begitu pula halnya dengan Papua.

Nah, kehadiran Erdogan ke Indonesia harusnya dapat membuat rezim Jokowi dan kaum Islamophobia yang ada di sekelilingnya berpikir ulang soal Islam politik. Erdogan adalah role model tentang bagaimana ketika Islam berkuasa. Tak menakutkan, tak menyeramkan, tak hantam kromo. Saat orang religius berkuasa, kebijakan yang dikeluarkan sangat akomodatif, merangkul semua kalangan.

Kekhawatiran akan dijadikannya sebagai negara agama tak terbukti. Meski sudah lama berkuasa, secara resmi pemerintahan Erdogan baru pada 2013 membolehkan pemakaian jilbab bagi kaum wanita yang PNS. Sedangkan hakim, polisi dan tentara tetap tidak dibolehkan berjilbab.

Di Turki, Erdogan tidak mulus juga menjalankan kekuasaannya. Kaum sekularis terus mengusiknya karena tak rela ada politisi Islam yang memimpin mereka. Mereka menjuluki Erdogan sebagai “Islamis Reaksioner“. Erdogan malah menjawab julukan itu dengan menyebut dirinya sebagai “Pemimpin Religius di Negara Sekular“.

Kita berharap besar, kunjungan Erdogan ke Indonesia tak cuma membuat Jokowi tertarik untuk meningkatkan hubungan ekonomi antara kedua negara. Lebih dari itu, ini waktu yang sangat tepat bagi Jokowi dan orang-orang di sekitarnya untuk mengubah cara pandang terhadap Islam.

Tapi bisakah? Walau kita pesimis jika melihat bagaimana perlakuan Jokowi kepada pimpinan GIDI yang jelas-jelas telah membakar masjid di Tolikara. Bukankah karpet merah untuk Erdogan juga digelar Jokowi kepada teroris GIDI saat berkunjung ke Istana Negara? (erwyn/dakwatuna)

Redaktur: Samin Barkah

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...
S1 FISIP Universitas Jurusan Ilmu Politik. Pernah menjadi wartawan dan selama hampir 3 tahun menjadi Redaktur majalah ESQ 165. Menulis di berbagai media online dan kumpulan tulisannya menjadi buku dengan judul Masihkah PKS Bermasa Depan? (Maghfirah Pustaka, 2013). Karya buku lainnya: Jejak Langkah Menuju Indonesia Emas 2020 (Arga Publishing, Mei 2008) dan menjadi Ghost Writer buku best seller: The Great Story of Muhammad (Maghfirah Pustaka, 2011). Saat ini sebagai Pemred www.kabarumat.com

Lihat Juga

Menlu Oman Sebut Israel Salah Satu ‘Negara’ di Timur Tengah

Organization