Topic
Home / Berita / Opini / Menciptakan Kerukunan Umat Beragama

Menciptakan Kerukunan Umat Beragama

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Islam Nusantara (warkopmbahlalar.com)
Islam Nusantara (warkopmbahlalar.com)

dakwatuna.com – Sebagai negara besar dengan populasi terbesar ke-4 di dunia, tentu Indonesia memiliki berjuta kekayaan yang bangsa dan negara lain belum tentu miliki. Salah satu kekayaan yang jarang kita temukan di setiap zamannya adalah banyaknya agama yang mampu hidup dengan sah di Indonesia. Mereka merasa terlindungi. Mereka juga mampu hidup berdampingan, damai, dan nyaman di nusantara. Inilah Indonesia, negeri yang amat kaya dan penuh dengan rasa kasih sayang.

Baru-baru ini kita mendengar ide tentang pluralisme. Ide ini muncul karena menurut para pencetusnya, Indonesia adalah negara yang memiliki agama, dan semua agama di Indonesia adalah benar. Mungkin benar argumenya ketika menurut penganut agama tertentu mengatakan agama yang dianutnya benar, namun kita sebagai negara demokrasi tidak bisa memaksakan instruksi kebenaran itu oleh umat agama lain terhadap agama yang tidak dia anut. Karena itu sudah menyalahi dari aturan-aturan Tuhannya masing-masing dalam kitab suci mereka.

Baru-baru ini kita juga mendengar ide Islam Nusantara. Ide ini muncul dari para penggagasnya, karena Indonesia terancam oleh gerakan transnasional dan tindakan radikalisme yang berbalut agama. Namun perlu kita ketahui bahwa Islam ini agama universal yang mengatur segala sendi kehidupan, dan Islam ya Islam. Tidak ada Islam Nusantara, Islam Eropa, dan Islam manapun. Karena Islam ya Islam, ia sempurna sebagai agama.

Kerukunan umat beragama adalah agenda penting dalam kehidupan bermasyarakat di negeri ini. Agenda itu juga harus menjadi nilai toleransi dalam hidup di tengah perbedaan yang ada. Kerukunan umat beragama akan tercipta jika kita sebagai warga negara sadar akan perbedaan dan pandangan hidup dalam beragama. Inilah yang kita sebut sebagai pluralitas. Nilai terpenting dari pluralitas sadar akan perbedaan di tenaga kemajemukan dan tetap berpegang teguh pada rambu-rambu agama.

Sebagai orang yang beragama kita perlu memperdalam korelasi antara agama dan kedamaian hidup. Agama adalah kepercayaan, sedangkan kedamaian hidup dapat terjadi ketika nilai-nilai kepercayaan akan agama dapat teraplikasikan dalam kehidupan. Namun jika nilai-nilai kepercayaan akan agama itu sudah mulai rusak, maka kedamaian hidup juga rusak. Pluralisme yang mencoba mengkritik konsep agama adalah bentuk kerusakan berfikir dan berakidah. Jika alurnya saja sudah salah, maka otomatis hasilnya pun akan salah. Bukan kedamaian hidup yang didapat, namun kegelisahan dalam menjalankan hidup yang didapat. Inilah efek panjang dari nilai-nilai pluralisme.

Selain itu ide Islam Nusantara juga perlu kembali kepada ide Islam yang sebenarnya, yakni Islam ya Islam, Islam yang sempurna sebagai pengayom serta penunjuk jalan kehidupan. Radikalisme di Indonesia justru terjadi karena toleransi yang kelebihan dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini yang menyebabkan gerakan radikal itu lahir untuk membasmi toleransi yang salah tersebut. Jadi adanya ide Islam Nusantara bukan untuk menyelesaikan permasalahan, justru dapat memicu radikalisme yang berbalut agama.

Oleh karena itu, ide tentang pluralitas adalah ide yang tepat untuk menciptakan kerukunan umat beragama di Indonesia. Kita sadar akan kemajemukan, terutama dalam beragama, dan kita sadar bahwa perbedaan ini adalah bentuk kekayaan negeri kita. Pemaksaan untuk mengimani agama lain adalah sebuah tindakan yang salah dan keluar dari rambu-rambu agama Islam. Biarkan mereka memeluk agamanya masing-masing dan kita menghargai serta bertoleransi dalam hal itu. Karena ini adalah cara kita untuk menghargai kebesaran bangsa Indonesia. (pandu/dakwatuna)

Redaktur: Samin Barkah

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...

Tentang

Avatar
Staf Direktorat Aparatur Negara, Kementerian PPN Bappenas | Peneliti Center for Information and Development Studies (CIDES) Indonesia | Mahasiswa S2 Magister Perencanaan dan Kebijakan Publik Universitas Indonesia

Lihat Juga

Intelijen Jerman Peringatkan Bahaya Kelompok Sayap Kanan Ekstrem

Figure
Organization