Topic
Home / Narasi Islam / Sosial / Penerapan Sila Kelima

Penerapan Sila Kelima

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Kondisi ruangan kelas di sebuah Madrasah Ibtidaiyah. (Januarita Sasni)
Kondisi ruangan kelas di sebuah Madrasah Ibtidaiyah. (Januarita Sasni)

PANCASILA

“Satu… Ketuhanan Yang Maha Esa
Dua… Kemanusiaan yang adil dan beradab
Tiga… persatuan Indonesia
Empat… Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmah kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan
Lima… Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia”

dakwatuna.com –  Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia, selalu diulang-ulang saat membaca teks pancasila. Namun bagaimanakah penerapannya? Sudahkah terasa keadilan yang sesungguhnya? Entahlah kalau di bidang yang lain, namun yang kulihat saat ini dalam bidang pendidikan semua itu belum terlaksana. Mulai dari fasilitas, sarana prasarana dan SDM yang berkualitas.

Tak perlu jauh jauh mencari contoh, cukup dari pengalaman beberapa sekolah yang mungkin sudah sering kita kunjungi. Perbandingan semua itu dapat menyimpulkan potret keadilan yang terjadi di kehidupan sebenarnya. Keadilan masih sebatas angan dan impian, siapa yang harus disalahkan…? Tentu saja masing- masing kita punya jawaban sendiri, namun menurut saya tak ada yang mesti disalahkan cukup kita introspeksi diri hingga kita temukan apa yang mesti diperbaiki.

Tidak perlu kita peduli dengan pihak yang harusnya punya tanggung jawab untuk semua ini, namun seakan tutup mata dari fenomena yang terpampang jelas di hadapannya. Bersama kita bebenah, lakukan apa yang kita bisa dengan apa yang kita punya, agar nanti mereka benar- benar tak berani membuka mata untuk menatap kita. Di pelosok yang masih terhitung sebagai bagian Indonesia, bisa kita lihat bagaimana kondisi pendidikan di sana. Ruangan kelas yang tak ubahnya Camp pengungsian bahkan ada yang seperti kandang ternak. Padahal suasana tempat belajar juga mempengaruhi semangat bahkan minat anak untuk belajar. Jika seperti ini bagaimana mereka akan nyaman belajar jika melihat ruangannya saja enggan.

Kalaupun ada ruangan yang agak lumayan maka kapasitasnya yang bermasalah. Di satu sekolah yang saya temui hanya ada dua ruangan untuk tingkat Sekolah Dasar. Kedua ruangan itu memuat enam kelas, sudah pasti bahwa satu ruangan ditempati oleh tiga kelas. Kelas 1,2,3 di ruangan pertama dan kelas 4,5,6 menempati ruangan kedua. Antara kelas yang satu dengan kelas lainnya tidak ada sekat, mereka hanya di bedakan oleh jarak tempat duduk. Antara ruang pertama dan ruang kedua pun tidak tertutup rapat. Suatu kali saat saya sedang mengajar di kelas 4,5 dan 6 tiba-tiba siswa yang di ruangan sebelah meribut bahkan sampai masuk ke ruangan tempat saya mengajar. Bisa dibayangkan saat mengajar harus di borong tiga kelas dengan materi yang berbeda sambil menertibkan tiga kelas yang lain di ruangan sebelah. Kondisi kelas yang tidak bersekat pun membuat mereka duduk bercampur antara satu kelas dengan kelas yang lain.

Mungkinkah karena sekolah ini swasta, jadi semua fasilitasnya hanya dari yayasan? Bisa jadi, namun saat dibandingkan dengan Sekolah Dasar Negeri yang jaraknya tidak terlalu jauh dari madrasah tersebut ternyata tidak jauh berbeda. Hanya saja ruangannya lebih banyak, kalau fasilitas di dalamnya pun tidak ada yang bisa dibanggakan.

Aku selalu merasa bersalah saat melafadzkan sila kelima pancasila tersebut, bagaimana pertanggung jawabannya di akhirat kelak. Aku takut saat nanti diminta bukti sila kelima itu, aku tak dapat menunjukkannya. Kini aku hanya mencoba melebur dalam pengabdian di pelosok Banten, banyak belajar dari mereka yang tidak menjadikan keterbatasan sebagai alasan untuk berpangku tangan. Meski kini sila kelima masih belum ku temui, aku masih yakin seiring berjalannya waktu sila kelima itu kan menjadi nyata.

Meskipun permasalahan serupa ini tidak hanya di bidang pendidikan. Di bidang yang lain pun sepertinya semua itu ikut menyumbang masalah. Kemungkinan tidak hanya sila kelima tapi sila yang lain pun sepertinya juga begitu. Jika dipikir-pikir ulang kembali maka aplikasi nyata tiap butir sila dalam kehidupan masih dipertanyakan.

 

 

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...
Avatar
Januarita Sasni, S.Si, SGI. Lahir di Sumatera Barat pada tanggal 25 Januari 1991. Menyelesaikan Pendidikan menengah di SMAS Terpadu Pondok Pesantren DR.M.Natsir pada tahun 2009. Menyelesaikan Perguruan Tinggi pada Jurusan Kimia Sains Universitas Negeri Padang tahun 2014. Menempuh pendidikan guru nonformal pada program Sekolah Guru Indonesia Dompet Dhuafa (SGI DD) sejak Agustus 2014 hingga Januari 2015, kemudian dilanjutkan dengan pengabdian sebagai relawan pendidikan untuk daerah marginal hingga Januari 2016. Sekarang menjadi laboran di Lab. IPA Terpadu Pondok Pesantren Daar El Qolam 3 sejak Februari 2016. Aktif di bidang Ekstrakurikuler DISCO ( Dza ‘Izza Science Community) sebagai koordinator serta pembimbing eksperiment dalam pembuatan Karya Tulis Ilmiah. Tergabung juga dalam jajaran redaksi Majalah Dza ‘Izza. Mencintai dunia tulis menulis dan mengarungi dunia fiksi. Pernah terlibat menjadi editor buku “Jika Aku Menjadi” yang di terbitkan oleh Mizan Store pada awal tahun 2015. Salah satu penulis buku inovasi pembelajaran berdasarkan pengalaman di daerah marginal bersama relawan SGI DD angkatan 7 lainnya. Kontributor tulisan pada media online (Dakwatuna.com) sejak 2015.

Lihat Juga

Menjadi Calon Ibu Peradaban yang Bijak dalam Penggunaan Media Sosial

Figure
Organization