Topic
Home / Berita / Opini / Soal Islam Nusantara, Penolakan Mamah Dedeh dan Kritik Untuk Wasekjen PBNU

Soal Islam Nusantara, Penolakan Mamah Dedeh dan Kritik Untuk Wasekjen PBNU

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Islam Nusantara (warkopmbahlalar.com)
Islam Nusantara (warkopmbahlalar.com)

dakwatuna.com – Dalam artikel Wasekjen PBNU, Muhammad Sultan Fathoni, “Menjawab Islam Nusantara” yang membela mati-matian term Islam Nusantara dengan mengkritisi tulisan Faisal Islam dengan judul, “Menyoal Islam Nusantara” di Koran Sindo, sekaligus juga Sultan Fathoni mengkritisi penolakan dari Mamah Dedeh terhadap Islam Nusantara yang menyatakan bahwa tidak ada Islam Nusantara melainkan Islam rahmatan lil ‘alamin.

Fokus Saya dalam ulasan berikut ini adalah mengenai peneguhan bahwa tidak ada istilah Islam Nusantara tetapi dengan dalil yang digunakan oleh Mamah Dedeh, tidak adanya Islam Nusantara itu ya sama halnya tidak adanya istilah Agama NASAKOM (Nasional Agama Komunis) untuk ulasan NASAKOM dan hubungannya dengan ANUS (Agama Nusantara) Saya sudah tulis dalam Artikel yang berbeda “Dari Soekarno Hingga Jokowi, Reinkarnasi NASAKOM menjadi ANUS”.

Kembali ke pembahasan Islam Nusantara, Kritik dari Sultan Fahoni tentang dalil yang digunakan oleh Mamah Dedeh itu benar, karena memang tujuan dari Ayat itu adalah lebih kepada Rasulullah SAW, Rasulullah SAW dalam Surah al-Anbiya’ ayat 107, wa ma arsalnaka illa rahmatan lil alamin (Aku tidak utus engkau Muhammad kecuali untuk mengasihi alam semesta). Ditegaskan sebagai pengasih seluruh alam jika dilihat secara tekstual bahasa Indonesia, Rahmat = Kasih Sayang dan Lil ‘alamiin = Untuk Seluruh Alam. Walaupun sebenarnya Mamah Dedeh bisa dibenarkan jika mengaitkan antara Muhammad SAW dengan Islam karena Muhammad SAW membawa Islam, Ketika Kita menyebut Islam maka ada Nabi Muhammad SAW yang membawanya, artinya jika mau dimaknai secara terbuka kehadiran Muhammad SAW sama halnya dengan kehadiran Islam yang berfungsi sebagai rahmat sekalian alam.

Pertanyaan adalah apakah Kata “Rahmatan Lil ‘alamin” bisa dikatakan sebagai dalil yang menolak term Islam Nusantara, jika menggunakan pengertian Islam Nusantara dalam pandangan Sultan Fathoni yang menyebutkan ”Islam Nusantara”? adalah dua kata yang masing-masing mempunyai makna dan kedua kata tersebut digabungkan untuk membentuk frase. Maka jadilah rangkaian Islam Nusantara yang memperlihatkan hubungan erat antara bagian yang diterangkan-menerangkan (Ramlan, 1985) meski tanpa menimbulkan makna baru. Hanya saja terma Islam Nusantara bukanlah bentuk pengembangan agama Islam. Islam Nusantara itu paham dan praktik keislaman di bumi Nusantara sebagai hasil dialektika antara teks syariat dengan realita dan budaya setempat (Afifuddin Muhajir, 2015). Spirit Islam Nusantara adalah praktik berislam yang didahului dialektika antara teks-teks syariah dengan realitas dan budaya tempat umat Islam tinggal. Perspektif ushul fiqih, proses dialektika antara teks-teks syariah dengan realitas dan budaya tempat umat Islam tinggal itu sesuatu yang lumrah terjadi, bahkan pasti terjadi mengingat Islami itu ajaran yang universal. Dan Islam Nusantara adalah wujud Islam yang universal mengingat ia telah dipeluk oleh ratusan juta penduduk Nusantara dan telah melahirkan ratusan ribu produk hukum dan khazanah keislaman lain.

Dari penjelasan Sultan Fathoni terkait term Islam Nusantara itu dapat dilihat sangat liberalisme sekuler, pemahaman yang merusak ajaran Islam. Jadi, Islam Nusantara jika disimpulkan secara ringkasnya adalah Islam yang praktek Syariatnya disesuaikan dengan Realitas dan kondisi masyarakatnya, ini sama halnya Sultan Fathoni membenarkan jika Islam itu masuk di daerah yang kondisinya memang perdukunan, maka gunakanlah Islam sebagai alat perdukunan, la wong budayanya dukun kok, atau ketika Islam masuk di daerah kejawen masih dengan sesajen maka Islam ikut melebur dengan budaya sesajen, Jika Islam masuk ke daerah yang budayanya seks bebas maka Islam boleh masuk dengan menghalalkan Seks bebas, (Boleh dong Saya menerjemahkannya begitu) Jika pemahaman Islam Nusantara yang dikembangkan oleh Wasekjen PBNU bahwa Islam yang praktek syariahnya disesuaikan dengan realitas dan dialektika budaya setempat.

Padahal Islam sejatinya bukan budaya, jika saja Islam harus melalui pendekatan budaya setempat maka ketika budaya jahiliyah seperti membunuh anak perempuan di zaman itu agar Islam diterima maka Budaya membunuh anak perempuan menjadi bagian dari ajaran Islam. Jilbab bukanlah budaya Arab tetapi ajaran Islam, artinya Jilbab berlaku di manapun Islam itu berada karena perintah Allah Swt bukan budaya warisan orang Arab. Baca lagi Artikel Saya “ISLAM BUKAN BUDAYA ARAB” Monggo di googling.

Kita harus mengakui Kritik Sultan Fathoni terhadap Tulisan Faisal Islam yang menyoal Islam Nusantara dan penolakan Mamah Dedeh dengan dalil QS. Al-Anbiya ayat 107 itupun bisa dibenarkan tetapi Pemahaman Term ISLAM NUSANTARA yang disodorkan Sultan Fathoni sangat sesat dan menyesatkan karena tidak sesuai dengan hakikat kehadiran Islam yang sesungguhnya. Sangat kental dengan proyek liberalism Sekuler yang dibawa Dajjal laknatullah ‘alaih.

Katakanlah dalil A[quran yang digunakan Mamah Dedeh tidak tepat, tetapi sepertinya Sultan Fathoni bisa melihat dalil Alquran yang lain seperti berikut ini:

قُلْ يَاأَيُّهَا النَّاسُ إِنِّي رَسُولُ اللهِ إِلَيْكُمْ جَمِيعًا الَّذِي لَهُ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضِ لآ إِلَهَ إِلاَّ هُوَ يُحْيِ وَيُمِيتُ فَئَامِنُوا بِاللهِ وَرَسُولِهِ النَّبِيِّاْلأُمِّيِّ الَّذِي يُؤْمِنُ بِاللهِ وَكَلِمَاتِهِ وَاتَّبِعُوهُ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ

Katakanlah: “Hai manusia, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu semua, yaitu Allah yang mempunyai kerajaan langit dan bumi; tidak ada Ilah (yang berhak disembah) selain Dia, yang menghidupkan dan yang mematikan, maka berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya, Nabi yang ummi yang beriman kepada Allah dan kepada kalimat-kalimat-Nya (kitab-kitab-Nya) dan ikutilah dia, supaya kamu mendapat petunjuk. (Al-A’raf: 158)

Perintah Allah dalam ayat ini “Katakanlah: “Hai manusia, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu semua”, ini menunjukkan bahwa Nabi Muhammad diutus untuk seluruh manusia, sebagaimana firman Allah,

وَمَآ أَرْسَلْنَاكَ إِلاَّ كَآفَّةً لِلنَّاسِ بَشِيرًا وَنَذِيرًا وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لاَ يَعْلَمُونَ

Dan Kami tidak mengutusmu, melainkan kepada umat manusia seluruhnya, sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan, tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahui. (Saba’: 28)

Oleh karena itulah siapa saja yang telah mendengar dakwah agama Islam, agama yang dibawa oleh Nabi Muhammad , yang membawa kitab suci Alquran, kemudian tidak beriman, tidak percaya dan tidak tunduk, maka dia adalah orang kafir dan di akhirat menjadi penghuni neraka, kekal selamanya. Allah Taala berfirman,

وَمَن يَكْفُرْ بِهِ مِنَ اْلأَحْزَابِ فَالنَّارُ مَوْعِدُهُ فَلاَ تَكُ فِي مِرْيَةٍ مِّنْهُ إِنَّهُ الْحَقُّ مِن رَّبِّكَ وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لاَ يُؤْمِنُونَ

Dan barangsiapa di antara mereka (orang-orang Quraisy) dan sekutu-sekutunya yang kafir kepada Alquran, maka nerakalah tempat yang diancam-kan baginya, karena itu janganlah kamu ragu-ragu terhadap Alquran itu. Sesungguhnya (Alquran) itu benar-benar dari Rabbmu, tetapi kebanyakan manusia tidak beriman”. (Hud: 17)

Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ لاَ يَسْمَعُ بِي أَحَدٌ مِنْ هَذِهِ اْلأُمَّةِ يَهُودِيٌّ وَلاَ نَصْرَانِيٌّ ثُمَّ يَمُوتُ وَلَمْ يُؤْمِنْ بِالَّذِي أُرْسِلْتُ بِهِ إِلاَّ كَانَ مِنْأَصْحَابِ النَّارِ

Demi (Allah) Yang jiwa Muhammad di tangan-Nya, tidaklah seorang pun di kalangan umat ini, Yahudi atau Nasrani, mendengar tentang aku, kemudian dia mati, dan tidak beriman kepada apa yang aku diutus dengan-nya, kecuali dia termasuk para penghuni neraka. [Hadits shahih Riwayat Muslim, no: 153, dari Abu Hurairah]

Katakanlah, Sultan Fathoni ingin menegaskan bahwa tidak ada hubungannya antara Nabi Muhammad SAW sebagai Penyeru untuk seluruh umat manusia dengan term Islam Nusantara, karena maknanya berbeda. Nabi Muhammad SAW diutus untuk seluruh Manusia dan seluruh alam itu Benar tetapi mengaitkan itu dengan Islam Nusantara dimana pengertiannya adalah Islam yang praktek syariahnya disesuaikan realita dan dialektika daerah setempat, jika Indonesia ya Indonesia. Itu menurut Wasekjen PBNU yang memang membawa misi NU dimana ajaran Islam disesuaikan dengan budaya masyarakat setempat padahal tidak semua budaya sebuah daerah sesuai dengan perintah Allah Swt.

Maka, katakanlah Rasulullah SAW sudah membawa budaya Arab di dalam Islam karena harus disesuaikan dengan kondisi Arab saat itu maka membunuh sudah akan menjadi budaya Kita saat ini, merendahkan perempuan sudah menjadi budaya dan Rasulullah SAW akan paling NU dari orang NU yang lainnya. Tetapi, Faktanya tidak begitu, Islam datang untuk mengubah kebiasaan jahiliyah yang tidak sesuai dengan perintah Allah Swt dan larangan Allah Swt yang tercantum di Alquran dan Hadits, artinya apapun itu yang tidak sesuai harus diluruskan bukan justru sebaliknya ajaran Islam yang menyesuaikan kondisi budaya dimana budaya itu tidak sesuai dengan Islam. Wallahu a’lam. (adi/dakwatuna)

Redaktur: Samin Barkah

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...
Avatar
HR Manager PT Hitachi Power Systems Indonesia, Tinggal Di DKI Jakarta kelahiran Kota Ketapang, Kalimantan Barat. A Speaker, Motivation Trainer, Thinker and a Writer on culture, humanity, education, politics, peace, Islam, Palestinian, Israel, America, Interfaith, transnational, interstate, Management, Motivation and Cohesion at workplace. Committed to building a Cohesive Indonesia, Cohesive Industrial relation, Cohesion at workplace and offer Islamic solutions to the problems that inside. Lulus dari Fakultas Dakwah STAI Al-Haudl Ketapang, Kalbar, Melanjutkan S-2 Manajemen di Universitas Winaya Mukti Bandung, Jawa Barat.

Lihat Juga

Manipulasi Esemka

Figure
Organization