Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Siang Puasa, Malam Jangan Puasin

Siang Puasa, Malam Jangan Puasin

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (klinik fotografi Kompas)
Ilustrasi (klinik fotografi Kompas)

dakwatuna.com– Qatadah mengatakan, “Allah SWT tidaklah memerintahkan sesuatu kepada para hamba-Nya karena Ia membutuhkannya. Allah juga tidak melarang hamba-Nya mengerjakan sesuatu karena Ia bakhil. Tetapi, Allah memerintahkan para hamba mengerjakan apa yang baik bagi mereka dan melarang mereka mengerjakan sesuatu yang merusak mereka.”

Dalam khazanah keilmuan agama Islam, kita mengenal istilah hikmatut tasyri’ untuk menjelaskan hikmah-hikmah yang ada di balik disyari’atkannya sesuatu oleh Allah Ta’ala. Misalnya, daging babi (khinzir) diharamkan oleh Allah. Hikmahnya, ternyata daging babi mengandung banyak cacing (meskipun sudah dimasak) yang bisa menyebabkan orang yang memakannya jatuh sakit.

Begitu pula ketika Allah mewajibkan puasa di bulan Ramadhan. Ada banyak hikmah di baliknya. Rasulullah saw bersabda, “Shumuu tashihhu, berpuasalah kalian, niscaya kalian akan sehat.”

Ada banyak penelitian yang membuktikan bahwa berpuasa bisa menjadikan kita sehat. Puasa bisa menjadi momen jeda bagi organ-organ pencernaan setelah sebelas bulan terus-menerus bekerja. Puasa juga bisa membantu menurunkan kadar kolestrol, tekanan darah tinggi, dan asam urat. Tidak hanya menyehatkan fisik, tapi juga menyehatkan jiwa.

Hikmah lainnya adalah berpuasa bisa meningkatkan kepekaan sosial kita. Ketika lapar dan haus, terasalah penderitaan orang-orang miskin nan faqir yang pada hari-hari biasa merasa perih disebabkan kurangnya makanan dan minuman.

Maka, amat aneh orang yang pada siang harinya berpuasa, tapi di malam hari (setelah berbuka) membalas dengan berbanyak-banyak mengkonsumsi makanan. Istilah mereka, “Siang puasa, Malam puasin!”

Sikap seperti ini tidaklah tepat. Bila dilitik dari sisi kesehatan, pola seperti itu juga tidak menyehatkan. Bayangkan organ-organ pencernaan yang beristirahat pada siang hari, tiba-tiba setelah berbuka menerima input makanan dan minuman yang berlebih sehingga harus bekerja lebih keras. Efek puasa menjadi tidak maksimal karenanya.

Allah Ta’ala juga sudah memperingatkan di dalam Alquran, “…makan dan minumlah kamu, tapi jangan berlebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebihan.” (Al-A’raf : 31)

Secara umum, berpuasa adalah momentum untuk melatih kita untuk mengontrol diri sendiri di setiap saat. Maka, nafsu harus selalu bisa kita kendalikan sebab kalau nafsu sudah menguasai diri dan merajalela, kerusakanlah yang akan terjadi. Orang-orang yang bisa mengontrol dirinya setiap saat itu disebut wara’. Ia selalu berhati-hati. Dan, ini adalah ciri-ciri orang bertakwa.

Semoga kita termasuk orang yang layak mendapatkan kebahagiaan karena telah berpuasa dengan sungguh-sungguh. Rasulullah saw bersabda, “Ada dua kebahagiaan yang menjadi hak orang berpuasa. Kebahagiaan pertama, ketika ia berbuka puasa. Kebahagiaan yang kedua, ketika ia bertemu dengan Allah Ta’ala nanti.”

Allahumma Amiin.

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...
Avatar
Mahasiswa S1 Ilmu Keperawatan USU. Ketua Al-Fatih Club. Murid. Penulis. Beberapa karyanya yang sudah diterbitkan; Istimewa di Usia Muda, Beginilah sang Pemenang Meraih Sukses, Cahaya Untuk Persahabatan, dan lain-lain

Lihat Juga

Yakesma Babel Ajak Anak Yatim dan Dhuafa Shopping Bareng

Organization