Home / Keluarga / Pendidikan Keluarga / Mengembalikan Fungsi Keluarga untuk Menangkal Propaganda LGBT

Mengembalikan Fungsi Keluarga untuk Menangkal Propaganda LGBT

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Haramnya LGBT (inet)
Haramnya LGBT (inet)

dakwatuna.com – Ada apa dengan keluarga Indonesia? Semakin maraknya dan gencarnya LGBT di Indonesia meresahkan para keluarga di Indonesia terutama orang tua. Fenomena ini bisa dilihat dari munculnya kelompok atau komunitas-komunitas LGBT dan pendukungnya yang kian masif mempropagandakan diri dan menuntut pengakuan dengan mengatasnamakan HAM. Hal ini mengindikasikan kurangnya peran atau fungsi keluarga dalam dalam menumbuhkan generasi yang baik.

Keluarga di Indonesia mengalami distorsi fungsi, sehingga keluarga sebagai institusi sosial yang utama diharapkan mampu menjadi benteng terdepan gagal dalam menjalankan perannya dengan baik. Banyaknya penyimpangan seksual dan menyebarnya penyakit sosial di masyarakat, membutuhkan penanganan yang serius dan intergral. Salah satunya adalah mengembalikan fungsi keluarga agar mampu menangkal berbagai virus pemikiran terutama LGBT.

Ada beberapa fungsi keluarga yang semuanya harus mendapat perhatian, namun ada tiga fungsi pokok keluarga yang sulit untuk digantikan oleh selainnya. Yaitu fungsi biologis, fungsi sosialisasi anak dan fungsi afeksi. Dan di antaranya ada dua fungsi yang merupakan fungsi yang akan dibahas untuk mendapatkan penguatan keluarga, yakni:

Fungsi Sosialisasi Anak

Keluarga merupakan wadah awal pembentukan kepribadian anak. Tempat memperkenalkan anak pola hubungan dan tingkah laku, sikap, keyakinan dan nilai-nilai. Di sini anak melakukan pengamatan melalui proses belajar dalam interaksi antar anggota keluarga. Keluarga harus mempersiapkan bekal selengkap-lengkapnya agar anak mampu menjadi pribadi yang baik. Sehingga anak mempunyai nilai-nilai yang mampu membedakan hal-hal yang benar dan yang salah, yang layak ditiru atau dibuang.

Menjadi orangtua adalah bagaimana mampu mewariskan nilai-nilai, pemikiran dan pemikiran positif sehingga mampu membentuk kepribadian anak. Peran orang tua sangat penting dalam hal ini, karena anak-anak membutuhkan model atau tokoh yang langsung dapat dilihat dan dicontoh. Apabila orang tua gagal dalam menjalankan fungsi ini, anak akan mencari tokoh atau idola lain yang menurutnya pantas dijadikan panutan. Ingat, anak adalah amanah dari Allah dan orang tuanyalah yang membentuknya, hadits Nabi SAW: “Setiap bayi yang dilahirkan dalam keadaan fitrah berpotensi untuk berbuat baik dan buruk tergantung orang tuanya……”.

Anak-anak yang berkepribadian yang baik, mempunyai imunitas sehingga tidak mudah terprovokasi dengan segala propaganda menyesatkan baik melalui pergaulan maupun media yang gencar penuh tipu muslihat.

Fungsi Afeksi

Semua anak ingin dicintai dan merasa disayangi. Perasaan tersebut merupakan kebutuhan dasar yang harus dipenuhi oleh keluarga. Dalam buku Ilmu Sosial Dasar karya Ramdani Wahyu, M.Ag, M.Si dikatakan, menurut pandangan psikiatrik bahwa penyebab utama gangguan emosional perilaku, bahkan kesehatan fisik adalah ketiadaan cinta, yakni ketidak adaannya kehangatan, hubungan kasih sayang dalam suatu lingkungan yang intim (keluarga). Data-data menunjukkan bahwa kenakalan anak yang serius adalah salah satu ciri khas dari anak yang sama sekali tidak mendapatkan perhatian atau merasakan kasih sayang. Kebutuhan akan kasih sayang ini merupakan kebutuhan yang sangat penting bagi anak.

Anak yang tumbuh dalam limpahan cinta dan kasih sayang dari keluarga akan tumbuh menjadi pribadi yang mampu menghargai diri sendiri dan bertanggung jawab. Sehingga tidak menjatuhkan diri pada hal-hal yang dapat merusak atau membinasakan dirinya. Oleh karenanya agama kita sangat menekankan akan perlunya kasih sayang kepada keluarga. Dalam haditsnya Rasulullah bersabda; “Bukan termasuk golongan kami, orang yang tidak mengasihi yang kecil dan tidak menghormati yang lebih besar”.

Yang perlu menjadi perhatian dan diwaspadai adalah ketika keluarga tidak mampu memenuhi kebutuhan ini. Dan kebutuhan afeksi ini diambil alih atau bergeser pada orang lain. Sehingga anak merasa lebih betah dan nyaman berada di luar rumah. Karena anak tidak merasa cukup diperhatikan dan tidak ada kedekatan secara psikologis terhadap orang tuanya. Bahayanya adalah jika kelompok-kelompok atau komunitas-komunitas yang dimasuki anak tersebut ternyata adalah pergaulan yang destruktif. Apalagi sekarang banyak komunitas LGBT yang bertebaran baik di dunia nyata maupun di dunia maya, yang siap menjaring mangsanya.

Selamatkan anak-anak dan keluarga kita dengan memperikan perhatian, cinta dan kasih sayang yang mereka butuhkan. Komunikasikan cinta dan kasih sayang sayang kita dan ciptakan momen-momen kebersamaan yang akan semakin mempererat hubungan antar anggota keluarga.

 

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...
Bidpuan PKS -DPC Cikarang Timur.

Lihat Juga

Menlu Oman Sebut Israel Salah Satu ‘Negara’ di Timur Tengah

Organization