Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Tinggalkan Medan Demi Jadi Relawan SGI Dompet Dhuafa di Pandeglang

Tinggalkan Medan Demi Jadi Relawan SGI Dompet Dhuafa di Pandeglang

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Tim Pandeglang – Banten, dari Kiri ke Kanan: Heriyanto, Ulfa Wardani, Nurhasanah, Fitrianti, Januarita Sasni, Sapto Prio Wawan Hadi Wibowo.  (Sapto Prio Wawan Hadi Wibowo)
Tim Pandeglang – Banten, dari Kiri ke Kanan: Heriyanto, Ulfa Wardani, Nurhasanah, Fitrianti, Januarita Sasni, Sapto Prio Wawan Hadi Wibowo. (Sapto Prio Wawan Hadi Wibowo)

dakwatuna.com – Ramadhan kali ini aku merasakan nuansa yang berbeda, karena kali ini aku tidak berkumpul dengan orang tuaku melainkan bersama dengan para relawan SGI Dompet Dhuafa lainnya.

Disatukan dalam sebuah wajihah yang bernama Sekolah Guru Indonesia (SGI), aku memiliki 5 saudara baru. Mereka adalah Sapto Prio Wawan Hadi Wibowo (Kendari), Heriyanto (Sumbawa), Ulfa Wardani Rangkuti (Medan), Fitrianti (Makasar), dan Januarita Sasni (Padang).

Namaku Nurhasanah. Aku sering disapa oleh teman-temanku Nur. Aku berasal dari Medan. Tetapi aku tidak dibesarkan di kota besar ini. Aku tinggal di sebuah desa bernama Desa Nagur, Kecamatan Tanjung Beringin Kabupaten Serdang Bedagai. Dulunya kabupaten ini bernama Deli Serdang, akan tetapi pada tahun 2005 terjadi pemekaran dan berganti nama kabupaten Serdang Bedagai.

Aku lahir di sebuah desa bernama Desa Nagur, 24 tahun yang lalu. Aku bukan dari keluarga yang kaya, ibuku hanya seorang ibu rumah tangga dan ayahku dulunya hanya seorang supir, tetapi sekarang sudah tidak bekerja lagi karena beliau sudah merasa lelah di usianya yang berkisar 63 tahun.

Aku punya seorang kakak laki-laki dan seorang adik laki-laki. Kakak laki-laki ku kini sudah bekerja sedangkan adik laki-lakiku masih berkuliah. Kini dia sudah pada semester akhir. InsyaAllah bulan Agustus 2015, dia akan wisuda. Aku sangat merindukan mereka. Aku juga sangat mencintai keluargaku.

Sebelum aku menjadi relawan SGI Dompet Dhuafa, aku pernah bekerja menjadi seorang guru di sebuah sekolah Islam. Nama sekolahnya SDIT Permata selama 1 tahun. Namun sebelumnya aku pernah menjadi guru bidang studi bahasa Inggris sementara menggantikan kakak sepupuku. Sekolah itu namanya SDIS Nurul Huda. Tetapi hanya 3 bulan saja aku menggantikannya. Lalu mengikuti PPL dari kampusku selama sebulan di sekolah yang tidak jauh dari rumahku.

Aku sudah mulai bergabung dengan yayasan Permata sejak Juli 2013 hingga Juli 2014. Ketika masih menjadi mahasiswa aku mencoba peruntungan mengikuti tes masuk ke yayasan ini. Dan alhamdulillah aku diterima bekerja di sini. Ketika tahun lalu aku akan dinaikkan pangkatnya menjadi wakil kepala sekolah. Tawaran itu tentu saja aku tolak, karena aku lebih memilih untuk bergabung menjadi salah satu mahasiswa SGI Dompet Dhuafa yang akhirnya akan menjadi relawan di daerah pelosok negeri demi membangun pendidikan yang lebih baik lagi.

Awalnya aku mencari informasi tentang Sekolah Guru Indonesia (SGI) Dompet Dhuafa. Mulai dari Open Recruitmentnya kapan, kemudian apa saja kegiatan yang ada didalamnya. Dan akhirnya tanggal 1 Mei – 12 Juni 2014 dibuka seleksi yang pertama, yaitu seleksi berkas. Setelah dinyatakan lulus, masuk kepada tahap yang selanjtnya yaitu, seleksi interview dan microteaching. Lalu, gerbang menuju SGI terbuka lebar bagiku. Alhamdulillah, yang lulus dari Medan ada 4 orang. Mereka adalah Ulfa Wardani Rangkuti, Abdi Husni Dermawan dan Andi Pahman Harahap.

Merekalah yang menjadi saksi sejarah perjalananku selama di SGI ini, mulai dari masa orientasi, perkuliahan, magang di sekolah mitra hingga SHARE yang ada di Tasikmalaya.

Melalui semua proses itu, aku akhirnya diberikan kesempatan untuk berbagi kebaikan dan kebahagiaan di daerah pelosok. Daerah marginal yang membuatku belajar banyak tentang arti kehidupan, menjalani hidup dengan penuh kesabaran tanpa adanya rasa mengeluh. Terkadang senyuman tulus anak-anak daerah penempatan inilah yang menjadikan kerinduan mendalam ketika harus meninggalkan Desa untuk pergi sesaat. Hanya pergi ke daerah Kabupaten, tapi rasanya rindu ingin melihat canda tawa mesra anak-anak ketika belajar bersamaku. Sungguh, di luar dugaan, ini semua tak pernah terpikirkan dan terbayangkan olehku. Berada pada Negeri berikonkan Badak. Negeri berjulukan ujung kulon.

Jauh dari rumah asalku Medan, namun aku merasa memiliki rumah kedua di Pandeglang ini. Segala sesuatunya aku dapatkan dari rumahku yang bisa dibilang layak, tapi di Pandeglang ini, aku merasakan keterbatasan hidup. Mulai dari akses jalan yang luar biasa sulit. Hanya untuk pergi ke pasar saja memakan waktu 1 jam naik kendaraan bermotor belum lagi merasakan jalannya yang penuh dengan bebatuan besar nan licin apabila hujan menghampiri. Makanannya pun berbeda dengan masakan ala Medan, tapi aku harus sesuaikan dengan lidahku bahkan untuk buang air saja harus pergi ke sungai. Apalagi sinyal segala opertaor tak bisa terkoneksi dengan baik.

Inilah yang menjadikan penempatan itu sangat indah, nyaman dan segala keterbatasan kita membuat kita harus lebih banyak bersabar. Walaupun dulunya aku berada di zona nyaman dengan berbagai fasilitas yang sangat bagus, namun di zona keterbatasan inilah mendewasakanku. Inilah yang aku sebut dengan Universitas Kehidupan.

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...
Relawan Sekolah Guru Indonesia Dompet Dhuafa. Penempatan Kab. Pandeglang-Banten.

Lihat Juga

Relawan Nusantara Jakarta Timur Gelar Indonesia Mendongeng 6

Organization