Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Mental Singkong, si Anak Hong Kong

Mental Singkong, si Anak Hong Kong

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (Hendar Ali Irawan)
Ilustrasi. (Hendar Ali Irawan)

dakwatuna.com – Singkong adalah jenis umbi-umbian yang sudah dikenal luas oleh penduduk Indonesia. Menurut sumber yang saya peroleh singkong mengandung cukup tinggi kalori dan sumber energi yang baik. Selain itu, tanaman singkong adalah tanaman yang unik karena seluruh bagiannya bisa dimanfaatkan oleh manusia. Pada artikel ini saya tidak akan membahas definisi, manfaat dan cara menamam singkong. Saya terinspirasi memberikan judul dalam artikel ini, oleh pesohor Negri yang menamakan dirinya “si anak singkong”. Si anak singkong identik dengan anak kampung yang memiliki mental baja yang kokoh sampai ia mampu mengubah nasibnya ke arah yang lebih baik. Dengan komitmennya dia mampu merubah dirinya dari keterpurukan menjadi yang diperhitungkan. Saya kira tidak berlebihan, orang Hong Kong diidentikkan dengan anak singkong walaupun mereka tak makan singkong. Tapi karena wataknya yang cukup mirip dengan anak singkong, yang tertib dan terarah yang mengantarkannya menjadi status Negara maju.

Waktu Hong Kong menunjukkan pukul 04.30, saatnya saya menunaikan shalat subuh. Seperti biasanya saya dan para wni melaksanakan shalat berjamaah di mushola KJRI yang lokasinya tidak jauh dari tempat menginap. Selepas melaksanakan shalat, saya berniat menuju ke rumah untuk melaksanakan tilawah. Saya menuju ke pintu mushalla kemudian masuk ke lift untuk turun dari lantai 4 ke lantai 1. Ustadz Lilik namanya, dai asli Solo yang juga melaksanakan safari dakwah di Negri Jacky Chan ini. Beliau keluar juga dari mushalla dan gedung KJRI.

Ketika kami di depan pintu lobby KJRI menuju keluar, beliau nyeletuk : “tadz, kita jalan – jalan dulu yuk, sambil olahraga” Saya mengerutkan dahi mendengar ajakan itu. Selain kawasannya basah akibat hujan semalam, saya juga ingin langsung ke rumah untuk tilawah. Akhirnya dengan rada terpaksa saya mengikuti langkah ustadz Lilik. “Ke arah mana tadz? ” ujar saya, tanpa berpikir panjang saya pun mengikuti ayunan langkah kaki beliau.

Ternyata ustadz Lilik mengajak ke arah Caroline Hill yang berlawanan dari arah Causeway Bay. Ketika kami berjalan, melihat beberapa pribumi ada yang
sedang berdiri di tepi jalan dan ada yang berolahraga tapi tidak banyak hanya segelintir orang saja. Pun jalanan yang tempat kami melangkah jarang kendaraan padahal jalan raya, hanya beberapa taksi saja yang melintas. Sesampainya kami melangkah di depan Camfusius Hall Middle School kami menemukan rambu – rambu lalu lintas pertemuan 5 jalur yang berbeda.

Ketika sampai di rambu tersebut, kami berdiri dan rehat sejenak melihat gedung – gedung yang menjulang tinggi. Tak lama kemudian dari arah jalur kiri sebuah taksi berhenti di depan zebra cross. Awalnya saya tidak “ngeh” kenapa taksi itu berhenti, di dalam benak saya mungkin mogok tapi tidak lama kemudian taksi tersebut melaju lagi. Saya bilang ke ustadz Lilik : “Kalaupun lampu merah kenapa harus berhenti sedangkan jalan sangat sepi kosong dari kendaraan”. Entahlah saya tidak berpikir apa-apa lagi, akhirnya saya melanjutkan perbincangan dengan ustadz Lilik. Lima belas menit kemudian, muncul sebuah taksi yang lain dari arah kiri dan berhenti pula di zebra cross, dan melanjutkan lajunya setelah beberapa saat berhenti. Taksi ke-3 muncul dari arah yang berseberangan dari tempat kami berdiri. Akhirnya taksi itu pun berhenti, ketika itu saya langsung melihat lampu rambu lalu lintas yang sedang bersinar berwarna merah, beberapa menit kemudian kuning dan hijau. Sopir menggas sampai akhirnya melaju ketika lampu hijau.

Taksi terakhir ini, membuat saya semakin kuat menyimpulkan ternyata orang Hong Kong lebih tertib dibandingkan orang Indonesia bahkan orang Arab sekali pun, kendati lampu merah di jalanan yang sepi mereka tetap berhenti menuruti aturan. Subhanallah, inilah nilai – nilai Islam sesungguhnya yang banyak diabaikan oleh kaum penganutnya.

الحكمة ضالة المؤمن فحيث وجدها فهو أحق بها

Hikmah (kebaikan) itu adalah sesuatu yang hilang dari diri orang mukmin, kalau kebaikan itu hilang maka yang berhak menemukannya adalah orang mukmin.

Orang Hong Kong yang mayoritas non Muslim mampu mengamalkan nilai – nilai kebaikan yang hanya bersumber dari Islam. Semoga Allah memberikan kekuatan dan hidayah kepada kaum Muslimin untuk mengamalkan nilai – nilai kebaikan yang berhak diamalkannya. Amin ya mujibassailin.

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...
Pria kelahiran Sukabumi 28 tahun yang lalu, pernah tinggal di Kairo Mesir untuk menempuh program studi s-1 fakultas ushuluddin di Al-Azhar university. Sampai saat ini masih belajar pendidikan pasca sarjana di Universitas Ibnu Khaldun Bogor fakultas menajemen pendidikan Islam. Selain mengisi pengajian majlis taklim non formal, aktifitas kesehariannya adalah mengajar di SMA Insan Cendekia Al-Kausar Sukabumi.

Lihat Juga

UNICEF: Di Yaman, Satu Anak Meninggal Setiap 10 Detik