Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Manajemen Rasa Bersalah

Manajemen Rasa Bersalah

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.

renungan-hidupdakwatuna.com – Sebagian akan bertanya, apa betul rasa bersalah merupakan suatu hal yang memerlukan manajemen. Sebelum berpikir terlampau kompleks, perlu dicatat, bahwa manajemen yang disandingkan dalam judul di atas hanya dalam arti yang sederhana, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia kata manajemen dapat diartikan, “Penggunaan sumber daya secara efektif untuk mencapai sasaran”. Tolong garis bawahi dan cetak tebal kata sumber daya, nah bagaimana mungkin rasa bersalah bisa menjadi bagian dari sumber daya?

Sebelum ke sana, kita patut amat bersyukur, alhamdulillah atas perkenan Allah Swt. kita telah melewati sepuluh hari pertama bulan Ramadhan, sampai di sini prestasi apa saja yang telah kita peroleh? Bagaimana shaum-nya? Tarawihnya? Tadarusnya? Sedekahnya? Taubatnya? Sungguh merugi jika kita tak beroleh prestasi apa-apa di bulan Ramadhan ini. Oleh karena itu, mumpung masih ada waktu, masih ada nih belasan hari lagi, mudah-mudahan Allah Swt. masih memberi kesempatan bagi kita untuk beroleh pengampunan dan mencapai ketakwaan.

Kembali lagi ke masalah Manajemen Rasa Bersalah. Rasa bersalah itu adalah suatu rasa yang pasti ada dalam tiap diri manusia, apapun suku dan jenis kelaminnya, tua atau muda, polisi sampai penjahat, murid sampai dengan guru, semua pasti memilikinya. Tiap orang memiliki sensitivitas yang berbeda terkait rasa bersalah, ada seseorang yang hanya karena memecahkan vas bunga sampai tak bisa tidur dan tak enak makan, vas bunga seharga onta soalnya, hehehe, ada juga yang sudah membunuh orang tapi tetap bisa tidur nyenyak dan adem ayem seolah tak terjadi apa-apa.

Untuk memudahkan pembahasan, anggaplah rasa bersalah itu memiliki skor dari rentang 1 sampai dengan 10. Jika seseorang melakukan kesalahan bernilai 7 maka sepatutnya skor dari rasa bersalahnya juga adalah 7, jangan lebih tinggi, jangan pula lebih rendah. Namun realita terkadang tak berbicara sesuai teori hitungan seperti ini, seperti dibahas di atas, sensitivitas rasa bersalah tiap orang berbeda-beda, ada yang sangat mudah merasa bersalah dan ada yang sangat tidak mudah merasa bersalah, hal terkait sensitivitas ini biasanya terkait erat dengan pola asuh dan lingkungan sedari kecil.

Terkadang dalam beberapa keadaan saya sering merasa Rasa Bersalah adalah sesuatu yang sepatutnya dilatihkan agar tepat sesuai kadar yang semestinya, jadi jangan training motivasi saja ya, training Rasa Bersalah juga, hehehe. Lihat saja koruptor, pengedar Narkoba, mafia pajak dan seterusnya, jika kadar rasa bersalah dalam diri mereka telah sesuai, harusnya mereka sudah tak mampu nyengir kuda lagi. Seharusnya rasa bersalah telah melukai relung jiwa mereka dengan sangat parah, hingga tak kuasa lagi untuk sekadar menengadah, bahkan terlalu lemah bagi tangan untuk dadah-dadah, dan sepatutnya menyadari bahwa mengaku salah dan bertaubat kepada Allah ialah satu-satunya jalan untuk memperbaikinya.

Lalu kaitannya dengan Ramadhan apa? Menurut saya rasa bersalah juga merupakan sumber daya, tanpa rasa bersalah manusia akan hilang rasa kemanusiaannya dan bahkan lebih parah lagi manusia akan sulit bertaubat atas kesalahan yang dilakukannya, hanya saja rasa bersalah ini perlu digunakan dalam waktu dan situasi yang tepat dengan kadar yang sesuai, di sinilah pentingnya Manajemen Rasa Bersalah tadi dan di Ramadhan ini sepertinya harus dilatihkan, nah lho.

Lihat Ramadhan kita tahun ini dengan penuh kesyukuran, betapa banyak orang yang telah terlebih dulu menemui ajal sebelum menemui Ramadhan, terlebih dulu menemui sakit sebelum bisa menikmati ibadah shaum, dan seterusnya. Lalu lihat diri kita, setelah 10 hari pertama, prestasi apa yang telah kita punya, berapa tarawih yang telah bolong hanya demi kumpul buka bersama dengan teman SMA, berapa Juz Alquran yang telah dibaca untuk bisa mencapai khatam selama Ramadhan, berapa banyak waktu yang digunakan untuk tidur atau berleha-leha dibanding dengan waktu untuk ibadah, dan seterusnya dan seterusnya, silakan lanjutkan sendiri.

Sampai di sini telah timbulkah rasa bersalah pada diri kita, bahwa kita telah melewati 10 hari pertama dengan kurang berdaya, saya tak ber-suudzan bahwa semua berlaku sebagaimana yang saya tuliskan, tapi saya mengajak, bahwa di sinilah tempat yang tepat untuk me-manage rasa bersalah itu, yaitu rasa bersalah karena belum optimal memanfaatkan kesempatan, rasa bersalah mengingat kesalahan-kesalahan lalu yang sebetulnya bisa beroleh pengampunan dalam ramadhan dan aneka rasa bersalah lainnya yang berkaitan dengan kelalaian dan kebodohan kita dalam mendekat kepada-Nya, tinggal kita tentukan sendiri, berapa skor rasa bersalah yang kita miliki.

Terakhir, Manajemen Rasa Bersalah tidak berhenti pada sekadar merasa, kembali kepada arti kamus tadi manajemen adalah berbicara tentang penggunaan sumber daya secara efektif untuk mencapai sasaran, lalu apa sasaran kita di dalam Ramadhan? Tiada lain dan tiada bukan ialah perbaikan guna beroleh pengampunan dan keridhaan dari Allah Yang Maha Rahman Yang Maha Mengampuni sebesar dan sebanyak apapun kesalahan.

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar, niscaya Allah memperbaiki bagimu amalan-amalanmu dan mengampuni bagimu dosa-dosamu. dan Barangsiapa menaati Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar.” (QS. Al-Ahzab: 70-71)

Jadi, bagaimana manajemen rasa bersalahmu?

Wallahu a’lam bishshawab

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...
Avatar
Eks Sekretaris Umum LDK UKDM Universitas Pendidikan Indonesia dan Lulusan Departemen Psikologi Pendidikan dan Bimbingan Universitas Pendidikan Indonesia

Lihat Juga

Amal Spesial, Manajemen Hati

Organization