Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Di Kala Pemuda Bermuhasabah

Di Kala Pemuda Bermuhasabah

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (poeticpoems.wordpress.com)
Ilustrasi. (poeticpoems.wordpress.com)

dakwatuna.com – Suatu ketika, di saat saya menginjak umur ke-20, saya memiliki list pertanyaan yang saya ajukan kepada diri saya sendiri. Saya harap Anda juga menjawab pertanyaan ini ya.

“Pemuda, sudah berkontribusi apa saja untuk lingkungan?”

“Seberapa besar andil Anda dalam masyarakat?”

“Banyak menebar manfaat, atau melakukan maksiat?”

“Sudah berapa karya yang ditelurkan?”

“Sering menyakiti orang tua atau berbakti kepada mereka?”

“Jika kita meninggal di saat ini juga, apakah masyarakat akan kehilangan Anda, ataukah hadir dan mati Anda tidak memberikan efek apapun?”

“Sudah siapkah kita menghadap Allah Swt.?

7 pertanyaan itu yang telah membayangi saya saat saya berinjak umur ke-20. Saya berpikir sekali, bahkan berpikir keras untuk menjawab itu semua. 7 pertanyaan sulit untuk dijawab bagi saya. Mungkin bagi Anda pertanyaan itu mudah, ya itu tergantung dari diri kita masing-masing. Mari kita bermuhasabah.

***

Saat ditanya akan kontribusi apa saja untuk lingkungan, jujur saya agak gelagepan dalam menjawabnya hehe. Pasalnya, saya belum terlalu banyak berkontribusi terhadap lingkungan. Baik lingkungan kampus maupun lingkungan rumah. Dengan pertanyaan tersebut, marilah saatnya merenung. Sudah berapa banyak kita berkontribusi bagi lingkungan. Jika belum pernah atau mungkin sangat sedikit, yuk bersama-sama kontribusikan diri kita ke dalam lingkungan. Membaur dengan lingkungan dan menjadi agen perubahan. Caranya bagaimana? Analisis lingkungan Anda, apa saja permasalahan yang ada. Sangat dianjurkan untuk mengikuti organisasi pemuda di lingkungan rumah atau kampus. Itu salah satu cara untuk memberdayakan diri kita untuk lingkungan.

Nah kemudian, berapa sering andil kita di masyarakat. Berapa banyak masyarakat mencari kita karena menurut mereka, kita memiliki kapasitas dan kemampuan lebih dibandingkan pemuda yang lain. Makanya mereka selalu mencari kita, karena kita bagi masyarakat adalah problem solver. Ingin seperti ini? Mari libatkan diri dalam masyarakat. Bantulah mereka dengan ikhlas dan tanpa pamrih. Jangan menjadi pemuda yang trouble maker ya.

Apakah kita sudah banyak menebar manfaat, atau malah menebar maksiat? Pertanyaan ini menjadi renungan bagi kita semua. Jika manfaat dan maksiat sama (manfaat 50%, maksiat 50%), maka kita belum menjadi manusia yang total. Kita akan dibilang manusia munafik. Sedangkan jika maksiat lebih besar dari manfaat (manfaat 30% maksiat 70%), sebaiknya kita mulai memperbaiki diri. Apakah kita akan bermaksiat terus-terusan? Tidak kan. Saya takut efeknya tidak hanya ke diri kita, melainkan orang lain akan terkena imbasnya. Lalu bagaimana jika manfaat lebih besar dari maksiat (manfaat 70% maksiat 30%), inilah yang harus kita perjuangkan. Bahkan jika bisa, redam maksiat di level yang paling rendah, dan angkat manfaat di level yang paling tinggi.

Lalu sudah berapa karya yang kita hasilkan? Jika belum, mari kita bersama-sama berproses. Cari jati diri kita masing-masing mulai dari sekarang. Apa bidang yang kita sukai. Saya yakin semua orang berbeda dalam hal ini. Setelah kita menemukan, berjuanglah dengan hal itu hingga expert. Istiqomah lah di jalan itu. Setelah itu kita akan menghasilkan berbagai karya dan mendapatkan berbagai penghargaan.

Kemudian bagaimana dengan orang tua kita? Sudahkah kita berbakti kepada mereka hari ini? Lakukanlah setiap hari! Berbakti ini memang beragam macam. Salah satunya dengan berkarya, maka akan membanggakan mereka. Bisa juga menuruti kemauan apa saja yang mereka inginkan, selama itu tidak menentang aqidah Islam. Mungkin arti ayat 23-24 surah Al-Israa bisa menyadarkan kita akan pentingnya berbakti kepada orang tua.

“(23) Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. jika salah seorang di antara keduanya atau Kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, Maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya Perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka Perkataan yang mulia. (24) Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: “Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil.”

Dua pertanyaan ini menurut saya dampak dari lima pertanyaan yang di atas. Jika kita berbakti kepada orang tua, bermanfaat bagi orang lain, berkontribusi lebih terhadap lingkungan maka kita akan dikenang oleh masyarakat. Mati kita pun akan dirindukan oleh mereka. Mereka seperti kehilangan seorang figur dan tokoh baik. Tapi sebaliknya, tidak berbakti kepada orang tua, meresahkan orang lain, tidak berkontribusi kepada lingkungan maka kita tidak akan dicari oleh masyarakat. Hadir dan mati kita pun tidak berdampak apapun. Na’udzubillah

Sudah saatnya bermuhasabah dengan 7 pertanyaan tersebut. Setelah itu pilihlah dua perumpamaan manusia di atas. Kalau boleh saya tahu, Anda akan memilih yang mana?

 

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...
fibrikaramadhan
Penulis 4 buku nasional ~ Founder Cintabukudotcom ~ Peraih Beasiswa S2 Pemuda Berprestasi Kemenpora Universitas Diponegoro 2018 ~ Buku terbaru "Dreaming Big" Tinta Medina Tiga Serangkai ~ Buku terlaris Spirit of Life Quanta Elex Media Komputindo

Lihat Juga

Jalan Meraih Taqwa

Organization