Topic
Home / Berita / Nasional / Berdayakan Ekonomi Umat Melalui Peran Masjid

Berdayakan Ekonomi Umat Melalui Peran Masjid

Launching Gerakan Cinta Masjid (GCM) di Balai Kartini, Jakarta Selatan.  Rabu (10/6/15).  (Neneng/BMM)
Launching Gerakan Cinta Masjid (GCM) di Balai Kartini, Jakarta Selatan. Rabu (10/6/15). (Neneng/BMM)

dakwatuna.com – Jakarta. Bank Muamalat Indonesia (BMI), Dewan Masjid Indonesia (DMI) dan Baitulmaal Muamalat (BMM) menyelenggarakan acara launching Gerakan Cinta Masjid (GCM). Acara ini dihelat, Rabu 10/6/2015 pukul 19.00 sd 21.00 WIB, di Balai Kartini, Jakarta Selatan.

Gerakan Cinta Masjid adalah gerakan yang dirancang secara berkelanjutan untuk meningkatkan kualitas sarana prasarana ibadah serta pendampingan management masjid/musholla berstandar ISO 9001:2008 untuk menjadikan tatanan masjid di Indonesia lebih modern, makmur, dan mandiri.

Merujuk sejarah Islam, sejak awal didirikannya, masjid selalu menjadi pusat peradaban tempat membentuk karakter dan memberdayakan manusia. Dari masjid, manusia sebagai bagian penting dari peran peradaban, dibentuk menjadi pribadi beriman, bertakwa, serta berdaya dari segi ekonominya.

Bank Muamalat Indonesia, melalui lembaga zakat yang dibentuknya, yakni Baitulmaal Muamalat (BMM) telah mengawali kegiatan ini melalui program unggulannya, Program Komunitas Usaha Mikro Muamalat Berbasis Masjid (KUM3) di mana semua kegiatan dilakukan di masjid.

Dalam sambutannya, Hendiarto, Direktur BMI mengungkapkan peran BMM bagi masyarakat muslim di Indonesia. ”BMM merupakan wings social Bank Muamalat dalam rangka memisahkan antara fungsi sosial dan fungsi Binsis Bank Muamalat,” ujarnya.

Sejak awal didirikan, tambah Hendiarto, BMM fokus pada kegiatan pemberdayaan sosial ekonomi berbasis masjid, dengan menjaga keterpaduan antara program sosial ekonomi, sosial pendidikan, sosial kesehatan, kemanusiaan dan  lingkungan hidup

”Kali ini Bank Muamalat Indonesia melalui BMM menyempurnakannya pemberdayaan berbasis masjid yang selama ini dilakukan melalui Gerakan Cinta Masjid, merupakan kelanjutan dari program bagian kepedulian Bank Muamalat dalam rangka ikut prihatin dan peduli atas masalah pengelolaan masjid saat ini,” ujar Hendiarto.

Dalam keterangannya, Iwan Agustiawan Fuad, selaku Direktur Eksekutif BMM dan pelaksana GCM, mengatakan acara ini tidak lain kecuali ingin mengembalikan fungsi masjid sebagai sentral perekonomian dan pemberdayaan masyarakat.

“Kita ingin fungsi masjid tidak hanya untuk ibadah ritual melainkan juga untuk pemberdayaan ekonomi ummat,” ujar Iwan sembari menambahkan bahwa launching GCM merupakan hajat bersama kita menjelang Ramadhan.

Dalam penjelasannya, Iwan membeberkan filosofi acara program GCM. Masjid adalah tempat suci yang diagungkan, selalu dijaga dan akan tetap dipelihara selamanya. Di sinilah umat Islam beribadah, bertemu, bersilaturrahmi, bertatap muka membahas urusan keummatan.

Di zaman Rasulullah, masjid juga digunakan untuk berlatih perang dan mengatur strateginya. Tentunya bukan di dalam masjid melainkan di halamannya. Rasulullah dan para sahabat memakmurkan masjidnya tidak hanya untuk menunaikan ibadah ritual seperti sholat berjama’ah, tetapi juga befungsi sebagai tempat berkonsultasi urusan-urusan agama dan tempat bermusyawarah memecahkan persoalan-persoalan keummatan, hingga permasalahan pengairan dipecahkan di masjid. Ketimpangan-ketimpangan sosial juga dipecahkan di masjid. Seolah-olah masjid menjadi aula pertemuan publik. Sehingga satu-satunya sentral penyiaran informasi keummatan tempatnya berada di masjid.

Inilah yang menjadi concern Baitulmaal Muamalat (BMM). Maka, ia harus dikembalikan dan diberlakukan sesuai haknya. “Masjid seyogyanya diperlakukan sesuai hak-haknya. Tidak hanya dimanfaatkan untuk shalat tetapi harus dipelihara dengan selayaknya rumah Allah dan harus dipedulikan,” tuturnya.

Dalam memperkuat ukhuwah islamiyah tentang pentingnya edukasi manajemen masjid, Bank Muamalat melalui Baitulmaal Muamalat (BMM) pada program GCM, mengajak pengurus masjid se-Indonesia dan masyarakat kembali menumbuhkan kecintaan terhadap masjid sebagai sentra utama awal kejayaan Islam. Tidak terbatas pada ibadah ritual semata namun juga meliputi program pendidikan, ekonomi, kesehatan, dan sosial lingkungan.

Sebagai bukti nyata, BMI melalui BMM akan mengadakan roadshow untuk campaign dalam membenahi infrastruktur 100 masjid dalam bentuk pemberian 10.000 Al-Quran, 100 sajadah imam, dan 100 sajadah roll, jam sholat digital, pembentukan Komunitas Usaha Mikro Berbasis Masjid (KUM3) yang baru, santunan pendidikan, pendirian PAUD berbasis masjid, pembentukan Koperasi Jasa Keuangan Syariah (KJKS), pendirian KUM3 Mart.

Acara launching dihadiri Menteri Komunikasi dan Informatika Kabinet Kerja Jokowi, Rudiantara dan jajaran pengurus Dewan Masjid Indonesia (DMI). Sederet publik figure juga didapuk untuk meramaikan acara ini. Di antaranya adalah artis penyanyi religi Opick,Teddy Snada, Ust. Subkhi Albughuri dan dipandu MC, Syahrul Gunawan, serta performance Adzan Pitu.

Di samping menghadirkan public figure acara ini juga mengundang nasabah BMI dari Jabodetabek serta undangan sebanyak lebih dari 500 orang. (Neneng/BMM/sbb/dakwatuna)

Redaktur: Saiful Bahri

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...

Tentang

Saiful Bahri
Lahir dan besar di Jakarta, Ayah dari 5 orang Anak yang hobi Membaca dan Olah Raga. Setelah berpetualang di dunia kerja, panggilan jiwa membawanya menekuni dunia membaca dan menulis.

Lihat Juga

Seminar Nasional Kemasjidan, Masjid di Era Milenial

Organization