Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Curhat Tembus Tujuh Langit

Curhat Tembus Tujuh Langit

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (wantyoucity.com)
Ilustrasi. (wantyoucity.com)

dakwatuna.com – Di zaman modern saat ini, perkembangan teknologi semakin hari begitu pesat. Kepesatannya sangat memengaruhi manusia, baik dalam bersikap maupun berlaku. Kalau dahulu yang namanya berbicara, curhat, dan mengobrol, itu hanya bisa dilakukan melalui pertemuan langsung, atau dengan perantara lain berupa: memerintah orang untuk menyampaikan sesuatu atau dengan mengirim surat. Seiring dengan perkembangan teknologi, maka curhat tak perlu bertemu langsung. Curhat bisa melalui: Yahoo Messenger, Facebook, Tweetter, dan lain sebagainya yang memiliki kelebihan, cepat, praktis, efisien, sekaligus menyenangkan. Sejauh apapun manusia tinggal, masih bisa tetap berkomunikasi, sehingga mau curhat apapun dan dimanapun pasti bisa. Di samping kelebihan yang dimiliki, alat komunikasi modern ini bila digunakan untuk hal-hal yang negatif, maka pengaruhnya juga sangat cepat. Kita bisa memperhatikan baik di facebook, twitter atau media lain, banyak dijumpai komunikasi yang melampaui batas. Banyak orang menggunakan media itu untuk menggunjing, merendahkan, menghina, dan memusuhi orang lain. Bahkan tak jarang yang curhat masalah pribadi, keluarga ke orang lain yang semestinya harus dijaga dengan baik. Memang permasalahan pokoknya bukan pada medianya, tapi pada pengguna medianya. Sebagai muslim apa boleh curhat masalah pribadi ke media sosial yang bisa diketahui banyak orang? Apakah pantas mengeluh masalah pribadi di media yang bisa dibaca oleh banyak orang?

Setiap orang punya masalah sendiri-sendiri, dan sangat wajar jika ingin berbagi dengan orang lain untuk meringankan beban hatinya, namun jika tidak selektif maka akan menimbulkan bahaya bagi diri sendiri. Betapa banyak hubungan baik secara individu maupun sosial yang hancur gara-gara tak bisa menjaga komunikasi. Di sinilah pentingnya media dan komunikasi disandingkan dengan nilai-nilai agama. Bila tidak maka kerusakan yang akan terjadi diantara manusia. Mengenai masalah curhat yang tepat dan benar, ada kisah menarik yang perlu diangkat dalam tulisan ini. Diriwayatkan dari Umar, (suatu ketika) ia berjalan dengan seorang wanita tua, lalu wanita itu memintanya berhenti, berhentilah Umar seketika itu juga. Ada seorang laki-laki bertanya: “Wahai amirul mukminin! Apakah andah menangguhkan urusan orang (hanya) karena wanita ini”. Lalu Umar menjawab: “Celakalah kamu, kamu tahu siapa dia? Adalah seorang wanita yang aduannya terdengar dari atas tujuh langit, ini Khaulah yang Allah menurunkan ayat Alquran berkaitan dengannya: Sesungguhnya Allah telah mendengar Perkataan wanita yang mengajukan gugatan kepada kamu tentang suaminya, dan mengadukan (halnya) kepada Allah. dan Allah mendengar soal jawab antara kamu berdua. Sesungguhnya Allah Maha mendengar lagi Maha melihat (Qs. Al-Mujâdilah: 1). [Hr. Ad-Dârimi, Baihaqi].

Dialah Khaulah binti Tsa`labah, wanita agung yang curhatnya menembus tujuh langit. Peristiwa curhatnya diabadikan Allah dalam Alquran pada Surah al-Mujâdilah ayat satu. Ia tahu betul apa yang harus dicurhatkan, dengan siapa harus curhat, kenapa harus curhat dan bagaimana harus curhat. Karena yang dicurhatkan adalah masalah keluarga (yaitu masalah dhihâr yang disampaikan suaminya yang bernama `Aus bin Shamit.). Ia curhat kepada orang yang tepat, yaitu: Rasulullah shallallâhu `alaihi wasallam, manusia agung, manusia pilihan yang sangat bisa dipercaya bisa menjaga rahasianya. Ia curhat karena ingin menyelesaikan masalah keluarga, yaitu dhihâr (dalam tradisi jahiliyah, dhihâr statusnya sama dengan talak, karena itu sebagai istri shalihah, ia harus segera mengadukan masalah ini kepada orang yang tepat biar masalahnya cepat selesai). Ia curhat dengan cara yang baik dan santun sembari tetap segera mendapat jawaban yang cepat dari Rasulullah shallallâhu `alaihi wasallam. Hasilnya sangat fantastik. Khaulah bukan saja mendapatkan jawaban yang bagus bahwa dhihâr tak teranggap talak, dan harus membayar kaffarah (tebusan seperti yang terdapat dalam surat al-Mujâdilah ayat 3-4), curhatnya tembus tujuh langit (didengar Allah), dan segera turun ayat yang berkaitan dengan masalah yang sedang ia curhatkan. Anda bisa membayangkan, betapa bahagianya hati Khaulah, karena peristiwa yang ia adukan ke Nabi, didengar dan diabadikan dalam Alquran. Sama bahagianya seperti Zaid bin Haritsah, ketika namanya diabadikan dalam Alquran (Al-Ahzab: 37). Begitu luar biasa. Setiap muslim pasti menginginkannya.

Masalahnya sekarang ialah apakah setiap orang mampu melakukan seperti yang dilakukan Khaulah. Apakah saya, anda, mereka, dan kita semua mampu melakukannya di tengah godaan teknologi yang begitu berkembang pesat. Mungkin ada yang menyela: “Ya jelas mampulah si Khaulah. Kan pada zamannya teknologi tidak begitu canggih. Ga ada facebook, twitter, bbm dan lain sebagainya. Kalau pasti dia curhat di situ”, na`udzu billah min dzâlik (semoga kita dilindungi dari ucapan seperti itu). Bahasa keimanan tak mengenal tempat dan waktu. Orang yang imannya benar-benar teguh tak akan tergoda walaupun ditempatkan di manapun dan pada waktu kapanpun. Iman teguh itu lintas waktu dan dimensi. Mungkin kalau tergoda iya, tapi nilai-nilai yang dipegang, tak sampai membuatnya melewati batas. Iman sendiri, di samping bermakna percaya, ia juga bermakna menentramkan dan mengamankan. Jadi, mukmin sejati tidak akan melanggar batas-batas agama, yang membuat diri dan orang lain merasa terganggu dan tidak aman baik dengan lisan maupun perbuatan. Peristiwa yang dialami oleh Khaulah, memberi pelajaran penting kepada setiap muslim untuk hati-hati dalam bercurhat. Setiap muslim harus benar-benar hati-hati, dengan siapa bercurhat, bagaimana bercurhat, dan kenapa bercurhat. Peristiwa yang dialami Khaulah seolah memberi nasehat: “Bagi siapa saja yang ingin bercurhat, harus tahu kapan, bagaimana, kenapa, dan dengan siapa bercurhat. Hasilnya pasti baik dan akan menyelesaikan masalah, dan akan dimudahkan oleh Allah ta`ala”. Pertanyaan terakhir yang perlu dijawab ialah: Sudahkan anda bercurhat dengan orang yang tepat, alasan tepat, dan cara tepat? Saya berharap semoga curhatan anda bisa menembus tujuh langit, sebagaimana Khaulah binti Tsa`labah.

 

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...

Tentang

Anggota Manajemen Penulis Indonesia.

Lihat Juga

Ulul Albab dan Hikmah Pergantian Tahun

Organization