Topic
Home / Berita / Nasional / Kebijakan Ekonomi Tidak Tepat, Indonesia Berhadapan dengan Ancaman Defisit Fiskal

Kebijakan Ekonomi Tidak Tepat, Indonesia Berhadapan dengan Ancaman Defisit Fiskal

Presiden Joko Widodo (okezone)
Presiden Joko Widodo (okezone)

dakwatuna.com – Jakarta. Pemerintah sedang dihadapkan pada ancaman melebarnya defisit fiskal. hal ini disebabkan pilihan kebijakan ekonomi yang tidak tepat dan tidak kreatif, juga diperparah dengan realisasi yang lamban sehingga indikator-indikator makroekonomi meleset jauh dari asumsi APBN-P 2015. Pemerintah harus inovatif dan dan focus menghadapi kondisi ini. Demikian disampaikan anggota Komisi XI DPR RI Ecky Awal Mucharam di Gedung DPR Senayan Jakarta, Kamis (11/ 6/2015).

“Oleh karena itu pemerintah harus lebih inovatif dan membuat pilihan kebijakan yang efektif untuk mengatasi risiko ini, serta yang paling penting ialah fokus dalam bekerja,” kata Ecky, dalam siaran persnya kepada dakwatuna.com, Kamis (11/6).

Sebagaimana diketahui dalam APBN-P 2015 indikator-indikator makroekonomi diasumsikan sebagai berikut: pertumbuhan ekonomi 5,7 %, inflasi 5 %, serta nilai tukar rupiah terhadap dollar AS sebesar 12.500 rupiah per dollar AS. Sementara itu pada kenyataannya, rupiah jatuh 13.385, inflasi hingga bulan Mei (y-o-y) sebesar 7,15 %, serta pertumbuhan ekonomi kuartal pertama hanya 4,71 %.

Dikhawatirkan dengan melesetnya asumsi-asumsi tersebut adalah defisit fiskal jadi melebar dari target APBN-P 2015 yang sebesar 1,9 % dari PDB. Hal ini tanda-tandanya sudah terlihat dari realisasi penerimaan negara hingga Mei 2015 yang hanya sebesar 28,9 % terhadap APBN.

“Lebih rendah dari periode yang sama tahun lalu yang sebesar 33,2 %. Sementara itu tren pemulihan ekonomi pun belum terlihat,” ungkap legislator dari daerah pemilihan (Dapil) Jawa Barat III yang meliputi Kabupaten Cianjur dan Kota Bogor itu.

Di sisi belanja, lanjut Ecky, penyerapan APBN baru terealisasi sebesar 17,4 %, lebih rendah dari tahun lalu di periode yang sama sebesar 22,0 %. Sementara dari yang sudah direalisasikan tersebut, belanja modal paling terpuruk yaitu sebesar 13,9 %.

“Jauh dari realisasi tahun sebelumnya di periode yang sama sebesar 19,1 %,” ujar Ecky.

Ecky menjelaskan, kedua sisi belanja dan penerimaan itu saling mempengaruhi satu sama lain, dalam kondisi seperti ini bisa menjadi lingkaran setan. Saat ekonomi melemah maka penerimaan pajak pun akan turun, sementara itu pelemahan ekonomi diharapkan bisa dikompensasi dengan kebijakan ekspansi fiskal (fiscal expansionary policy) melalui belanja modal pemerintah yang bisa menghasilkan efek fiscal multiplier. Tapi jika penerimaan negara berkurang, maka belanja modal ini mau tidak mau harus ditutupi dengan utang. Sehingga defisit fiskal membengkak dan country risk naik, akibatnya suku bunga Surat Perbendaharan Negara-pun naik dan bisa makin membebani negara ke depannya.

“Saya berharap kondisi ini bisa diatasi, defisit tidak boleh lebih dari 3 %. Seharusnya pemerintah berkaca dan introspeksi mengapa melesetnya bisa jauh seperti ini. Jika tidak belajar dengan cepat dan segera memperbaiki diri, bukan tidak mungkin di APBN 2016 pun akan lebih buruk dari ini. Mudah-mudahan untuk perencaan anggaran 2016 bisa lebih realistis, agar tidak ada gap antara target, pilihan kebijakan, dan hasil” kata Ecky. (abr/dakwatuna)

Redaktur: Abdul Rohim

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...

Tentang

Avatar
Seorang suami dan ayah

Lihat Juga

Grand Launching SALAM Teknologi Solusi Aman Covid-19 untuk Masjid

Figure
Organization