Home / Narasi Islam / Sosial / Mari Mengenal Kedudukan As-Shakhrah, Jantung Masjid Al-Aqsha

Mari Mengenal Kedudukan As-Shakhrah, Jantung Masjid Al-Aqsha

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi - Kompleks Masjid Al-Aqsha, Al-Quds, Palestina. (Foto: inet)
Ilustrasi – Kompleks Masjid Al-Aqsha, Al-Quds, Palestina. (Foto: inet)

dakwatuna.com – “Bahwa bapak para Nabi Ibrahim Al-Khalil menjadikan salah satu bagian dari wilayah tersebut sebagai Masjid, dan bahwa Nabi Ya’kub mendapatkan wahyu di sana. Kemudian Nabi Yusya’ meletakkan kubah yang dibuat Musa di atas bagi Bani Israel.” (DR. Fathi Zaghrut, dalam bukunya ‘An-Nawazil fi Tarikh Al-Islam’)

Membicarakan Masjid Al-Aqsha adalah menelusuri sejarah yang sangat mengesankan. Sejarah di mana banyak peradaban datang kesana dan bermukim lama, berlayar menyusuri rantai-rantai sejarah yang talik ulur saling menyambung, lalu menemukan fakta luar biasa dan mencengangkan; bahwa benarlah kata Ibnu Abbas. “Baitul Maqdis itu dibangun oleh para Nabi, tempat tinggal para Nabi. Tiada satupun jengkal tanah di sana, kecuali telah menjadi tempat shalat para nabi atau tempat berdirinya malaikat.”

Pada tulisan kali ini, kita akan membahas bukan sekadar Masjid Al-Aqsha saja secara umum. Alhamdulillah, dilengkapi dengan banyak literatur, kini kita akan menelisik keindahan dan keutamaan jantung Al-Aqsha, di mana Nabi Muhammad menapakinya sebelum naik ke langit, di mana Umat Islam berkiblat selama 16 bulan, di mana Bani Israil di masa Nabi Yusya juga berkiblat ke arahnya, menjadikannya simbol ibadah yang begitu sakral. Mari mengenal jantung Al-Aqsha; Batu Shakhrah.

Apa Itu Shakhrah?

Shakhrah adalah batu yang berada di tengah-tengah Masjid Al-Aqsha, saat ini berada di dalam Kubah As-Sakhrah yang berwarna emas. Batu ini bukanlah batu yang biasa, karena begitu banyak riwayat yang menjelaskan tentangnya. Sebelumnya, kita juga mesti mengetahui bahwa Masjid Al-Aqsha dibangun di atas bukit bernama bukit Moriah, dan puncak bukit inilah yang dinamakan shakhrah, tempat berpijak Nabi Muhammad sebelum melakukan mi’raj ke langit.

Dalam sebuah hadist, Rasulullah bersabda, “صليت ليلة اسري بي عن يمين الصخرة”, yang artinya : Aku shalat pada malam Isra’ di sebelah kanan shakrah. Apa saja penjelasan Shakhrah dalam riwayat sejarah dan mengapa ia disebut sebagai jantung Masjid Al-Aqsha? Berikut pernyataannya.

Malaikat Israfil Akan Meniup Sangkakala Di Atas Shakhrah

وَاسْتَمِعْ يَوْمَ يُنَادِ الْمُنَادِ مِنْ مَكَانٍ قَرِيبٍ

Dan dengarkanlah (seruan) pada hari penyeru (malaikat) menyeru dari tempat yang dekat. (Qaaf : 41)

Para mufassir menafsirkan bahwa yang dimaksud dengan ‘Penyeru’ adalah Malaikat Israfil, sedangkan makna ‘tempat yang dekat’ adalah Shakhrah Baitul Maqdis. Secara nyata ayat ini telah menunjukkan bagaimana posisi shakhrah nanti di akhir zaman, ia jadi tempat Malaikat Israfil menyeru manusia menuju padang Mahsyar, yaitu negeri akhir zaman, Palestina.

Shakhrah Berasal Dari Surga

قال أنس بن مالك: ( إن الجنّة تحن شوقاً إلى بيت المقدس وصخرة بيت المقدس من جنة الفردوس وهي ُصرّة الأرض)

Anas bin Malik bekata, “Sesungguhnya Surga merindukan Baitul Maqdis, Shakhrah Baitul Maqdis berasal dari Surga, dan ia adalah pusat bumi”

Pernyataan Anas bin Malik ini menunjukkan bahwasanya ada dua batu surga yang diturunkan ke bumi ini, yaitu Hajar Aswad di Makkah, dan Shakhrah di Baitul Maqdis.

Shakhrah Adalah Bagian Tersuci Di Baitul Maqdis

قال ثور بن زيد: ( قدس الأرض الشام وقدس الشام فلسطين وقدس فلسطين بيت المقدس وقدس بيت المقدس الجبل وقدس الجبل المسجد وقدس المسجد الصخرة ).

Dari Tsaur bin Zaid, seorang Tabiin, beliau berkata, “Bagian tersuci bumi adalah Syam, bagian tersuci Syam adalah Palestina, bagian tersuci Palestina adalah Baitul Maqdis, bagian tersuci baitul Maqdis adalah bukit (tempat Al-Aqsha berada), bagian tersuci bukit adalah Masjid, dan bagian tersuci dari Masjid Al-Aqsha adalah Shakhrah”

Dikatakan juga dalam Kitab Fathul Bari, berkata Abdur Razzaq dari Nu’man bin Al-Mundzir dari Wahb bin Munabbih, bahwasanya beliau berkata, “Allah berfirman kepada Shakhrah Baitul Maqdis; Akan Aku letakkan Arsy-ku di atasmu dan akan Aku kumpulkan seluruh ciptaan-Ku di atasmu”

Shakhrah Tempat Para Nabi Membuat Masjid

Syaikh Muhammad Ath-Thahir bin Asyur, sebagaimana tersebutkan dalam Kitab Qabl Al-Karitsah Nadzir wa Wafir,  beliau berkata, “Sesungguhnya para pakar sejarah bangsa Ibrani menyatakan bahwa pegunungan yang menjadi tempat bermukimnya Nabi Ibrahim yang masuk wilayah Kan’aan bernama Nabu. Inilah pegunungan yang menjadi tempat Nabi Sulaiman mendirikan masjidnya yang kemudian dikenal dengan nama As-Shakhrah.” (lihat, Qabl Karitsah, Abdul Aziz bin Al-Musthafa, hlm. 82)

Shakhrah Dan Mimpi Nabi Ya’kub

Dalam kitab Al-Bidayah wa Nihayah karangan Ibnu Katsir, disebutkan bahwa suatu malam nabi Ya’kub melakukan sebuah perjalanan beliau kelelahan dan tertidur di tempat tersebut seraya menyandarkan kepalanya pada sebuah batu. Lalu beliau tertidur pulas, seketika itu pula beliau bermimpi melihat tangga yang memanjang dari langit ke bumi, dan ketika itu pula Malaikat turun dengannya.

Setelah itu beliau terbangun dan bergembira, lalu bernazar kepada Allah jika beliau pulang ke keluarganya dalam keadaan selamat, maka beliau dan keluarganya akan membuat sebuah masjid di atas tempat beliau bermimpi itu. Setelah itu, beliau meletakkan sebuah tanda sederhana di tempat beliau bermimpi berupa sebuah batu agar bisa dikenalinya di kemudian hari.

Ibnu Katsir berkomentar, “inilah Baitul Maqdis, yang direnovasi Nabi Sulaiman bin Dawud alaihimassalam. Inilah tempat batu besar yang dijadikan tanda olehnya setelah bangun dari tidurnya,” (Al-Bidayah wa An-Nihayah)

Nabi Yusya Mendirikan Kubah Di Atas Shakhrah

Setelah membebaskan Baitul Maqdis bersama Bani Israil yang sholih, Nabi Yusya bin Nuun, murid Nabi Musa alaihissalam membangun masjid yang kelak digunakan untuk tempat beribadah bani Israil. Dalam Tafsir Ibnu Katsir dikatakan bahwa, “Ketika merasa nyaman berada di Baitul Maqdis, maka Yusya’ bin Nuun mendirikan kubah di atas batu besar di baitul Maqdis. Merekapun mengerjakan shalat dengan menghadapnya. Ketika kubah tersebut hancur, maka mereka shalat ke arah tempatnya, yaitu As-Sakhrah atau batu besar.”

“Karena itulah”, tulis DR. Fathi Zaghrut dalam bukunya ‘An-Nawazil fi Tarikhil Islam’, “Qubbah As-Shakrah ini menjadi kiblat para Nabi hingga pada masa Rasulullah sebelum hijrah.”

Hadist yang diriwayatkan oleh Imam Ibnu Katsir juga disebutkan oleh Imam Bukhari dalam Kitab Shahihnya dalam menafsirkan Surat Al-Baqarah menyebutkan bahwa, “Ketika merasa nyaman berada di baitul Maqdis, maka kiblat diarahkan ke batu besar di Baitul Maqdis”

Begitulah riwayat dan literatur yang menjelaskan kedudukan Shakhrah dalam sejarah Islam. Ia menjadi simbol kiblat yang begitu menyejarah, lama dan bernilai tinggi. Sebab nabi-nabi sebelum Muhammad, bahkan juga termasuk Nabi Muhammad pernah berkiblat ke Baitul Maqdis, tepatnya ke batu besar bernama As-Shakhrah ini.

Rasulullah Muhammad bersama para shahabatnya sholat menghadap As-Shakhrah di Masjid Al-Aqsha selama 16 bulan, atau ada yang mengatakan 17 bulan, hingga kemudian Allah memerintahkan kiblat berpindah ke Ka’bah, tepatnya pada bulan Sya’ban pada waktu ashar. Ada pula yang mengatakan pada waktu zuhur.

Penutup; Masjid Al-Aqsha Tetaplah Kiblat Jihad Pertama Dan Utama               

Setelah kita mengetahui bagaimana kedudukan kiblat pertama kita, dan menelusuri sejarahnya, kita mesti memahami bahwa fenomena hari ini, Al-Aqsha masih dalam jajahan Zionis Israel dan menuntut Umat Islam sedunia untuk bersatu membebaskannya.

Ka’bah saat ini kiblat shalat kita, di sana kita menyatukan pandangan dan menunjukkan persatuan kita, menuju tempat yang satu, berkumpul di tempat yang satu. Namun, walaupun kini Al-Aqsha bukan lagi kiblat shalat kita, ia telah, tetap dan akan selama-lamanya menjadi kiblat jihad pertama dan utama bagi saenteri Umat Islam sedunia, sebagaimana dijelaskan dengan indah oleh Rasulullah Muhammad dalam untaian perkataannya :

” لا تزال طائفة من أمتي على الحق ظاهرين لعدوهم قاهرين لا يضرهم من خالفهم إلا ما أصابهم من لأواء حتى يأتيهم أمر الله وهم كذلك قالوا يا رسول الله وأين هم ؟ قال: ببيت المقدس وأكناف بيت المقدس ”

“Senantiasa ada sekelompok orang  dari umatku yang meperjuangkan kebenaran . Mereka menang melawan musuhnya dan orang yang menentang mereka tidak membuat  mereka  gentar , kecuali jika mereka ditimpa oleh musibah  penyakit , hingga datang keputusan Allah , sementara  mereka masih dalam keadaaan seperti itu. Para sahabat berkata : ‘ Lalu di mana mereka berada wahai Rasulullah ?’ Beliau berkata : ‘ Baitul Muqoddas dan Naungan Baitul Muqoddas’

Referensi :

  • Tafsir Ibnu Katsir
  • Al-Bidayah wa An-Nihayah, Ibnu Katsir
  • An-Nawazil fi tarikh Al-Islam, DR. Fathi Zaghrut
  • Qabl Karitsah, Abdul Aziz bin Al-Musthafa
  • منسقعام شباب لأجل القدسحسام عمر الغالي
  • إسـلامية فلسطينالشيخ/ علي أحمد مقبل

 

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...

Tentang

Mahasiswa Universitas Al-Azhar Cairo, Mesir | Alumni SMPIT Ihsanul Fikri Mungkid Magelang | Alumni Ponpes Husnul Khotimah Kuningan

Lihat Juga

Erdogan: Jangan Tutup-tutupi Fakta Pembunuhan Khashoggi