Topic
Home / Narasi Islam / Politik / Pemimpin yang Dirindu

Pemimpin yang Dirindu

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (inet)
Ilustrasi (inet)

dakwatuna.com – Genderang perang untuk memperbutkan kursi nomor wahid di propinsi dan kabupaten / kota di negeri ini sudah mulai ditabuh. Kalau tak ada aral melintang Desember 2015 ini merupakan ajang pemilihan kepala daerah yang digelar secara serentak . Tak terkecuali di ranah Minang, yang telah melahirkan tokoh-tokoh Nasional yang bersinar meneranggi cakrawala sejarah nusantara. Sebut saja Bung Hatta, Buya Hamka, M. Natsir, M. Yamin dan banyak lagi tokoh-tokoh yang telah berjasa dalam membangun negeri tercinta. Kita berharap darah kepemimpinan para pemimpin terdahulu di atas dapat mengalir deras pada pemimpin saat ini. Kenapa? Karena tugas kepemimpinan saat ini semakin berat seiring dengan semakin kompleknya problema kebangsaan yang dihadapi. Untuk itu butuh kemampuan leadership sebagaimana pemimpin-pemimpin tempo dulu yang telah mengukir sejarah indah dalam menghiasi sejarah panjang kehidupan manusia. Mereka telah mencetak prestasi luar biasa yang akan terkenang sepanjang masa meskipun jasadnya sudah berkalang tanah.

Pilkada merupakan alek demokrasi yang dinanti rakyat untuk memilih pemimpin baru. Hal yang sama juga merupakan waktu yang dinanti bagi orang-orang yang memiliki potensi untuk menjadi pemimpin atau merasa dirinya layak menjadi pemimpin. Berbagai langkah telah dilakukan calon pemimpin dalam memuluskan niatnya tersebut. Pernyataan siap untuk maju berlaga dalam pemilihan kepala daerah sudah dipublikasi melalui media, gambar diri dan motto perjuangannya sudah terpampang jelas sepanjang jalan. Janji perubahan dan perbaikan menjadi andalannya menarik simpati rakyat. Silaturahim dengan tokoh masyarakat dan blusukan ke tengah rakyat dijadikan alat ampuh meraih dukungan yang berarti . Pokoknya, banyak momen-momen penting yang dimanfaatkan untuk bisa mengambil hati rakyat untuk memilih dirinya.

Sejatinya, seorang pemimpin adalah orang yang terbaik di daerah ini. Ya, baik kepribadiannya dan kemampuan memimpinya. Memimpin bukanlah pekerjaan mudah, tidak bisa hanya mengandalkan semangat membara dan harta yang melimpah apalagi hanya sekadar bermodalkan wajah atau popularitas melalui media massa . Namun memimpin merupakan kerja besar dan luar biasa yang hanya bisa diemban oleh “orang besar” dan orang yang “luar biasa “ juga. Maka tidak semua orang yang bisa dan mampu menjadi pemimpin yang baik karena begitu besarnya amanah dan begitu beratnya pertanggungjawabannya pada rakyat dan Tuhannya.

Makanya, pemimpin yang dirindukan rakyat saat ini adalah pemimpin yang baik dan berkualitas. Yah, pemimpin yang memahami makna kepemimpinan dan tanggung jawabnya dalam memimpin. Pemimpin yang berusaha melaksanakan amanah kepemimpinan dengan baik dan benar sebagai wujud kesetiaan pada rakyat. Ketika dirinya dipilih menjadi pemimpin, dia tidak berpesta pora bak seorang olah ragawan merayakan kemenangan atau syukuran kebahagian seperti artis yang berhasil meraih piala citra. Namun justru dirinya tidak terlalu menampakkan kebahagian sembari memohon pada yang Maha Kuasa untuk membantu dirinya melaksanakan amanah. Menjadi peminpin bagi dirinya adalah sebagai sarana ibadah dan panggilan jiwa untuk bisa berbuat membangun negeri tercinta.

Sejarah telah mencatat dengan tinta emas , tentang sosok pemimpin sejati yang telah hadir di bumi ini sebagai teladan yang berarti bagi pemimpin saat ini. Sebut saja, Abu Bakar Siddiq, Umar bin Khatab, Usman bin Affan, Ali bin Abi Thalib dan Umar bin Abdul Aziz. Mereka telah melaksanakan amanah dengan baik dan mempesona. Bayangkan ! Sudah berabad-abad lamanya mereka tiada namun nama dan jasanya tetap terkenang sepanjang masa sampai dunia menutup usia. Mereka telah memberikan sesuatu yang berarti bagi rakyatnya dan telah mempersebahkan kebaikan untuk agamanya. Memimpin dijadikannya sebagai sarana untuk berkarya dalam rangka memudahkan langkanya menuju surga Allah. Makanya, mereka tidak berambisi meraih kursi kepemimpinan namun apabila diminta untuk memimpin maka dengan membaca basmalah mereka memulai kerjanya. Niat suci inilah yang melindungi dirinya dalam mengemban amanah kepemimpinan dengan baik sebagai khalifah “ Wakil Tuhan” dalam mengelolah dan memakmurkan bumi ini.

Lalu bagaimana kriteria pemimpin yang dirindu itu? Yah, pemimpin yang memiliki sifat-sifat terpuji sebagaimana yang dimiliki oleh para pemimpin masa lalu. Pertama memiliki sifat siddiq, yaitu pemimpin yang jujur dalam perkataan dan benar dalam perbuatannya. Pemimpin yang meraih jabatan dengan jujur, menjauhi money politik dan juga black camping. Track recordnya baik selama ini dan tidak terendus dari tindakan korupsi apalagi terlibat dalam kasus yang memalukan itu.

Kedua, tabligh, yaitu, pemimpin yang dapat menyampaikan kebenaran, transparansi dalam masalah keuangan dan bekerja dengan semangat saling mengingatkan. Pemimpin yang berusaha memberikan pencerahan pada rakyat dengan keteladanan yang nyata. Pemimpin yang tidak hanya pandai bicara namun sigap dalam bekerja. Mengatur dan menata tugas dengan bijaksana sehingga menghasilkan program kerja yang berpihak pada rakyat biasa.

Ketiga, fatanah (cerdas), yaitu pemimpin yang cerdas dalam memimpin. Pemimpin yang tidak hanya cerdas dari segi intelektual saja (pintar dan pandai) namun juga harus cerdas secara emosional (memiliki karakter yang baik) dan juga cerdas secara spiritual (rajin beribadah) bahkan dia juga harus cerdas dalam menghadapi berbagai persoalan yang melilit negeri ini dan menimpa rakyatnya. Pemimpin yang memiliki kecerdasan yang paripurna ini, akan mudah melangkah melaksanakan amanah dengan memaksimalkan segala potensi negeri untuk kesejahteraan rakyatnya.

Keempat, amanah, yaitu pemimpin yang bertanggung jawab dalam mengemban kepercayaan yang diberikan rakyat kepadanya. Baginya memimpin bukanlah sebuah kebanggaan atau kebahagizan namun ini merupakan tugas berat yang butuh perjuangan, pengorbanan dan kesabaran. Makanya, pemimpin yang amanah akan berusaha bekerja secara maksimal dan membuat kebijakan pemerintah yang berpihak pada rakyatnya bukan pada keluarga dan koleganya. Selamat datang para pemimpin yang dirindu, kehadiranmu sangat penting untuk memperbaiki negeri ini dari kegalauan nyata.

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...

Tentang

Avatar
Lahir di Batusangkar tanggal 28 September 1967. SD sampai SMA di Batusangkar dan menamatkan S1 pada Fakultas Tarbiyah IAIN Imam Bonjol Batusangkar. Tamat April 1993 dan kemudian mengajar di MTSN Batusangkar sebagai tenaga honorer. Tahun 1992-2005 aktif mengelola kegiatan Pendidikan dan Dakwah Islam di bawah naungan Yayasan Pendidikan Dakwah Islam Wihdatul Ummah. Tahun 1995 bersama aktivis dakwah lainnya, mendirikan TK Qurrata Ayun , tahun 2005 mendirikan SDIT dan PAUD. Semenjak tahun 1998 diangkat sebagai guru PNS dan mengajar di SMAN 2 Batusangkar sampai sekarang. Tahun 2012 mendirikan LSM Anak Nagari Cendekia yang bergerak di bidang dakwah sekolah dan pelajar diamanahkan sebagai ketua LSM. Di samping itu sebagai distributor buku Islami dengan nama usaha Baitul Ilmi. Sejak pertengahan Desember 2012 penulis berkecimpung dalam dunia penulisan dan dua buku sudah diterbitkan oleh Hakim Publishing Bandung dengan judul: "Daya Pikat Guru: Menjadi Guru yang Dicinta Sepanjang Masa dan Belajar itu Asyik lho! Agar Belajar Selezat Coklat. Kini tengah menyelesaikan buku ketiga Guru Sang Idola: Guru Idola dari Masa ke Masa. Di samping itu penulis juga menulis artikel yang telah dimuat oleh Koran lokal seperti Padang Ekspress, Koran Singgalang dan Haluan. Nama istri: Riswati guru SDIT Qurrata Ayun Batusangkar. Anak 1 putra dan 2 putri, yang pertama Muthiah Qurrata Aini (kelas 2 SMPIT Insan Cendekia Payakumbuh), kedua Ridwan Zuhdi Ramadhan (kelas V SDIT ) dan Aisyah Luthfiah Izzati (kelas IV SDIT). Alamat rumah Luak Sarunai Malana Batusangkar Sumbar.

Lihat Juga

Pemimpin adalah Cerminan Rakyat

Figure
Organization