Topic
Home / Narasi Islam / Politik / Memerdekakan Pancasila

Memerdekakan Pancasila

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (dakwatuna/hdn)
Ilustrasi. (dakwatuna/hdn)

dakwatuna.com – Tentunya sila demi sila dalam Pancasila telah lazim kita dengar. Tentunya di upacara Senin maupun memperingati hari bersejarah. Tapi serasa hanya terdengar bak lagu, yang hanya berkesan ketika dinyanyikan. Menggelora. Tapi detik itu pula hilang dalam kehidupan. Frase-frasenya hanya bertalu-talu di detik itu saja. Setelahnya hilang dan kembali lagi pada ritual-ritual seminggu maupun setahun. Begitulah sila-sila itu diperlakukan hanya sebagai adegan momen. Dan tak penting setelah itu. Mungkinkah kita perlu membaca ulang pada setiap silanya lagi. Pertama, Ketuhanan Yang Maha Esa. Kedua, Kemanusiaan yang adil dan beradab. Ketiga, Persatuan Indonesia. Keempat, Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmah kebijaksanaan dalam permusyawaratan/ perwakilan. Kelima, Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Dengan penuh suka cita. Sebagai generasi yang hidup di zaman ini, diharapkan tidak amnesia terhadap makna dalam sila-sila yang tertuang dalam Pancasila. Sungguh idealis para tokoh yang merumuskan untuk mengke-kami-kannya di dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Tentunya pertautan sila-sila tersebut harus menjadi reverensi dalam konteks mengembalikan masa depan Indonesia. Sebab setiap makna menguraikan tentang pesan-pesan Tuhan dan kemanusiaan yang telah menjadi inpirasi bagi keberlangsungan Indonesia yang maju dan berkeadilan berdasarkan nilai-nilai religius yang dimiliki masyarakatnya.

Sejak reformasi dikumandangkan 17 tahun lalu. Dan kita tau bahwa reformasi terjadi karena bangsa ini telah menggadaikan makna Pancasila. Namun amanah reformasi masih belum bisa menjawab. Sehingga banyak orang termasuk generasi muda yang salah sangka mengenal relevansi Pancasila masa kini dan masa akan datang. Persoalan sederhana bahwa Pancasila tempo dulu eksitensinya pernah direnggut oleh oknum-oknum demi melanggengkan kekuasaannya. Sehingga prestise-prestise tersebut menjadikan kelompok manusia terbagi menjadi tiga kelompok. Pertama, kelompok pembela Pancasila mati-matian. Mereka menyakini bahwa Pancasila memang ampuh dalam mempersatukan bangsa Indonesia. Namun, pemahaman yang mendalam tidak dimiliki oleh mereka sehingga kesetiannya pada Pancasila seperti mengandung unsur dogma. Kedua, kelompok yang menganggap Pancasila sebagai slogan kosong, yang tidak bermakna, dan terutama dalam zaman globalisasi sehingga Pancasila tidak mempunyai relevansi sama sekali. Ketiga, kelompok yang menyakini bahwa Pancasila bukan sekadar slogan, bukan sekadar dogma, bukan sekadar motto ataupun simbol. Bukankah Pancasila, kata Bung Karno, bahwa Pancasila bukan ciptaan atau karangannya. Melainkan nilai-nilai yang digalinya dari peradaban dan kebudayaan bangsa Indonesia sepanjang masa.

Sangatlah melegakan dan membanggakan bahwa dalam transisi pemaknaan Pancasila masih ada yang punya karakter teguh untuk mempertahankan ide-ide dalam sila-silanya. Walau kadang mereka tidak terpublikasikan oleh media eletronik maupun cetak. Mereka itu saya katakan sebagai Pahlawan. Sebab, yang dikatakan pahlawan adalah orang biasa yang melakukan pekerjaan-pekerjaan besar, dalam sunyi yang panjang, sampai waktu mereka habis. Kiranya mereka layak menjadi pahlawan di tengah bangsa sedang mengalami dahsyatnya kecamuk yang diakibatkan oleh tergadaikan nilai-nilai Pancasila. Bukankah usia yang hampir 70 tahun ini, semenjak diproklamirkan tahun 1945. Walaupun pengakuan Belanda terjadi pada Konferensi Meja Bundar tahun 1949 dalam sejarah lain. Tempo yang sudah sudah melewati setengah abad, penuh dengan dinamika. Semangat-semangat penghilangan nilai-nilai Pancasila tumbuh menjamur seiring pemerintah gagal menumbuhkembangkan rasa berPancasila ke dalam tubuh rakyatnya. Akhirnya kita sering menonton adegan konflik di sana-sini, perebutan tahta kekuasaan lewat pilkada, korupsi akut, pelemahan konstitusi, adu domba, aliran sesat dan nabi palsu, bahkan isu-isu pengaburan makna NKRI. Olehnya itu, pengembalian semangat mempersatukan Indonesia itu menjadi hak mutlak di bawah keberagaman suku, etnis, agama serta budaya di dalam naungan Pancasila.

Sebagaimana kita ketahui, bangsa ini telah ada sejak dulu. Jika kita membaca, maka kita akan menemukan betapa bangsa ini telah menguraikan cerita-ceritanya. Bukan sekadar cerita. Tapi ternyata bangsa ini telah berhasil menjadikannya sebagai primadona bagi bangsa-bangsa lain. Cerita-cerita tentang kegundahan, kegelisahan bahkan ketegangan serta perbenturan telah dilalui. Itu yang dinamakan dengan menulis dari perpektif sejarah. Sebab, perubahan sosial di dalam sejarah merupakan interkasi empat elemen: manusia, ide, ruang dan waktu. Sebab membaca sejarah adalah menemukan harapan. Harapanlah yang membuat kita rela dan berani melakukan kebajikan kebajikan hari ini, walaupun buah kebajikan itu akan dipetik oleh mereka yang baru akan lahir esok hari.

Olehnya itu, tulisan ini penuh harap dapat dipahami oleh kita semua. Sebab menulis hal ini, adalah tantangan tersendiri. Tulisan ini juga bukan dapat diartikan, saya dikelompokkan dalam kelompok yang telah saya uraikan di atas. Tapi sebagai anak bangsa yang dilahirkan bukan untuk ditakdirkan menjadi pengamat tapi sebagai “anak yang baru lahir” juga berhak mengembalikan azas perjuangan pendahulu. Tentunya pergulatan ide, ruang dan waktu telah menguraikan sebenarnya bahwa kita adalah Negara yang tangguh. Lihatlah, baru-baru ini keberhasilan TNI dalam kegiatan Australian Army Skill at Arms Meeting (AASAM) yang berlangsung pada 20-23 Mei 2015 di Puckapunyal, negara bagian Victoria. Keluar sebagai juara umum. Mengalahkan Negara-negara maju seperti AS, Australia, dll. Prestasi yang membanggakan kita adalah bukanlah emas yang diperoleh tapai betapa tangguhnya dan percaya diri TNI lomba di medan laga memakai senjata buatan dalam negeri. Itu sebagian fakta sejarah yang harus kita maknakan sebagai upaya membahagiakan Pancasila, di tengah Negara sedang kehilangan aura kepemimpinan.

Perlu kita pahami. Bahwa Pancasila merupakan karya bersama. Karya bersama putra bangsa. Dari Danau Sentani di Papua hingga danau Toba di Sumatra, bahwa kebeningan air kearifan masih ada walau polusi yang ditimbulkan oleh limbah kegaduhan politik yang mengacam keberlangsungan ekosistem. “Sebab Pancasila merupakan warisan jenius Nusantara,”kata Bung Hatta. Bangsa Indonesia bukan hanya berasal dari penghuni yang secara biologis lahir dan turun-temurun berada di tanah pertiwi ini. Bangsa Indonesia adalah mereka yang mengakui bahwa Indonesia adalah tanah air mereka. Sebab itu, Pancasila adalah bentuk hasil kesepakatan yang lahir dari jiwa besar, yang lahir dari rasa solidaritas, hasil proses sejarah yang panjang.

Sehingga tidak ada alasan bagi kita, untuk menyelematkan falsafah Negara ini dari simpul pertautan politik atau serpihan “orang-orang” yang ingin mematikan makna dari kumpulan sila-silanya. Pancasila sebagai warisan budaya bisa diikat dengan satu kekuatan sapu lidi yang kuat bukan sekedar serpihan-serpihan lidi yang berserakan dan mudah rapuh. Perjumpaan kita pada masalah bangsa yang hari ini terjadi mendorong ikhtiar kita untuk menguatkan kembali dasar, haluan, karakter, dan ikatan keiindonesiaan di bawah semboyan Bhinneka Tunggal Ika yang digenggam erat oleh kaki Burung Garuda. Mengutip (John Gardner, 1992) “ tidak ada bangsa yang dapat mencapai kebesaran jika bangsa itu tidak percaya kepada sesuatu, dan jika tidak sesuatu yang dipercayainya itu memiliki dimensi-dimensi moral guna membangun peradaban yang besar.” Itulah Pancasila.

Semoga tulisan ini, dapat menyemai benih-benih kebaikan. Mendamaikan Indonesia. Sesungguhnya darah dan airmata telah banyak mengalir untuk MENJADI INDONESIA. Kita kuburkan, Dan merajut kembali Negeri Zamrud Khatulistiwa ini menjadi Negeri sepenggal Firdaus di muka bumi. Itu ide aku, kamu, dan kita semua. Dan dari setiap benih kebaikan itu, tumbuh selaksa bunga pahala di dunia dan akhirat bagi setiap orang yang berjasa. Terima kasih kepada mereka, H.O.S Tjokroaminoto, Sukarno, Moh. Hatta, Tan Malaka, Sutan Sjahrir dkk. Aamiin.

Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...

Tentang

Asma Ditha
Nama Lengkap Muhamad Nasir Pariusamahu. Disapa Nasir. Lahir di Parigi, 05 Desember 1992. Nomor kontak dan WA: 085243139596, IG. nasir_051292, facebook: Muhamad Nasir Pariusamahu, twitter: @asma_ditha. Sekarang menjadi guru di salah satu sekolah swasta Kota Ambon.

Lihat Juga

Fahira Idris: Kalau Pancasila Cuma Diteriakkan Saja, Indonesia Mungkin Saja Bubar

Figure
Organization